TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Forum diskusi bertajuk "Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini" yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, di Kota Semarang, Jumat (12/6/2026), mendadak memanas ketika seorang mahasiswa melontarkan kritik keras kepada mantan aktivis 1998 tersebut.
Diskusi yang digelar Forum KAFKA dan dihadiri kalangan mahasiswa dan umum itu semula berlangsung kondusif.
Namun suasana sempat berubah tegang saat sesi tanya jawab dibuka.
Baca juga: LIVE STREAMING Demo Mahasiswa Jakarta Suarakan Gerakan Reformasi Jilid 2, Jadi Sorotan Media Asing
Seorang mahasiswa yang mengaku pernah ditangkap dalam aksi Hari Buruh Internasional (May Day) di Semarang dan menjalani hukuman selama tiga bulan berdiri dari kursinya.
Setelah menyampaikan beberapa pandangan dan kritik terhadap pandangan Budiman mengenai kondisi Indonesia saat ini, mahasiswa tersebut kemudian menyebut kika dirinya satu di antara yang ditangkap saat aksi demonstrasi.
"Saya ditangkap pas May Day di Semarang. Saya dipenjara tiga bulan lamanya. Dalam sejarah aktivisme mahasiswa Indonesia, ribuan mahasiswa ditangkap. Saya kira Bapak hanya suram mendengar hal-hal tersebut," katanya.
Nada bicara mahasiswa itu semakin meninggi ketika menilai Budiman telah kehilangan sikap kritisnya terhadap pemerintah.
Ia bahkan menyebut Budiman terjebak dalam hegemoni kekuasaan dan gagal memahami realitas yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini.
"Saya rasa Bapak sangat munafik ketika berbicara bahwa pemerintah tidak sedang meninabobokan rakyat. Justru saya kira itulah cara negara membangun ideologi yang membuat orang-orang seperti Bapak duduk di depan hari ini," katanya.
Tak berhenti di situ, mahasiswa tersebut juga menuduh argumentasi Budiman mengandung banyak kekeliruan logika.
"Saya hanya ingin mengkritisi argumen Bapak yang sangat cacat, logical fallacy, buta terhadap pemikiran mahasiswa. Jangan berbicara soal keidealan negara kalau tidak pernah memikirkan solusi yang menyentuh akar persoalan rakyat," tegasnya sebelum berpamitan meninggalkan ruangan.
Ketika mahasiswa itu hendak keluar, Budiman meminta yang bersangkutan tetap bertahan untuk melanjutkan diskusi.
Namun permintaan tersebut ditolak.
"Enggak perlu mengatur saya sebagai rakyat Indonesia, Pak," balas mahasiswa itu.
Situasi sempat diwarnai adu argumen singkat.
Budiman kemudian menegaskan bahwa pengalaman ditahan tidak membuat seseorang berhak mengabaikan etika forum.
"Percaya, tiga bulan ditahan tidak memberikan Anda hak untuk tidak menghormati forum. Anda tidak lebih hebat dari mereka yang hadir di sini," kata Budiman.
Setelah mahasiswa tersebut meninggalkan ruangan, Budiman memberikan tanggapan panjang dan disambung pertanyaan sejumlah mahasiswa.
Mantan anggota DPR RI itu menilai kritik yang disampaikan lebih banyak didorong oleh pengalaman personal dibanding upaya membangun solusi bagi masyarakat luas.
"Inilah yang disebut victim mentality. Apa kontribusinya bagi membangun peradaban? Apa kontribusinya bagi membangun kecerdasan kolektif kita?" ujar Budiman.
Ia menegaskan pengalaman menjadi korban represi negara tidak boleh dijadikan legitimasi untuk merasa paling benar.
Budiman kemudian membandingkan pengalaman mahasiswa tersebut dengan perjalanan hidupnya sendiri yang pernah dipenjara.
"Saya pernah di penjara 13 tahun. Saya tidak merasa lebih hebat dari teman-teman. Saya tidak merasa pengalaman itu membuat saya paling benar," katanya.
Menurut Budiman, kritik terhadap pemerintah penting dilakukan, tetapi harus dibarengi kemampuan menawarkan gagasan dan solusi.
"Negara tidak bisa dibangun hanya dengan kemarahan. Negara dibangun dengan gagasan, dengan argumentasi, dan dengan kemampuan menghadirkan jalan keluar," tegasnya.
Baca juga: 5 Besar PTS Jawa Tengah Peraih Program Kreativitas Mahasiswa Nasional 2026
Perdebatan spontan tersebut menjadi salah satu momen paling menyita perhatian dalam forum yang membahas arah Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Sejumlah peserta terlihat serius menyimak adu argumentasi antara mahasiswa dan mantan aktivis yang kini berada di lingkar pemerintahan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Embun Senja Coffee itu selain menghadirkan Budiman Sudjatmiko, turut hadir akademisi Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Hasyim Asy’ari. (*)