Harga Pupuk Non-Subsidi di Kulon Progo Meroket, Ongkos Petani Jadi Naik 2 Kali Lipat
Yoseph Hary W June 12, 2026 07:02 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Harga pupuk nonsubsidi di Kulon Progo terpantau mengalami kenaikan yang cukup signifikan selama beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga pupuk yang terus berlangsung membuat para petani harus mengeluarkan ongkos operasional lebih besar.

Naiknya harga pupuk nonsubsidi diungkapkan oleh Tholib Burhan, penanggung jawab Toko Bahan Pertanian Sumber Makmur di Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah. Ia mengatakan kenaikan harga hampir mencapai 100 persen.

"Terutama untuk pupuk Nitrea dan ZA, dari harga Rp 200 ribu sekarang menembus Rp 365 ribu per karung isi 50 kilogram (kg)," kata Tholib ditemui pada Jumat (12/06/2026).

Ia juga menyebut harga pupuk NPK yang nonsubsidi juga naik tajam. Saat ini harganya di kisaran Rp 800 ribu per karung isi 50 kg, dari yang awalnya di kisaran Rp 600 ribu.

Dampak perang dan kenaikan harga BBM

Menurut Tholib, kenaikan harga pupuk nonsubsidi mulai dirasakan usai Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Sejak itu, harganya perlahan terus mengalami kenaikan hingga saat ini.

"Katanya sih naik karena konflik di Timur Tengah, lalu juga karena harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik," ujarnya.

Tholib pun menilai nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing juga ikut berpengaruh. Apalagi hampir semua pupuk nonsubsidi merupakan barang impor dari luar negeri, belum lagi bahan bakunya juga sedang mahal.

Padahal, saat ini sedang musim tanam, khususnya untuk hortikultura. Petani mau tidak mau tetap harus membeli pupuk dengan harga mahal karena untuk kebutuhan musim tanam.

"Mungkin porsi pembeliannya yang dikurangi, dari yang biasanya 100 kg sekarang jadi 70 kg," jelas Tholib.

Biaya pertanian membengkak

Maryoto, seorang petani asal Bumirejo mengaku ongkos operasional untuk bertani saat ini membengkak akibat harga pupuk yang mahal. Ongkosnya bisa naik sampai 2 kali lipat.

Apalagi ia lebih memilih menggunakan pupuk nonsubsidi lantaran merasa lebih cocok dengan bawang merah yang sedang ia tanam. Agar ongkos bisa ditekan, ia memilih membeli pupuk secara eceran 1 kg, ketimbang langsung membeli 1 karung isi 50 kg.

"Saya beli eceran agar bisa menekan biaya, apalagi masih harus membeli pestisida hingga membayar tenaga," kata Maryoto.

Cara penggunaannya pun juga berbeda dari biasanya. Jika pupuk biasanya langsung ditebar ke lahan, kini pupuk diberikan dengan cara dicampur dengan air, baru kemudian disiramkan ke tanaman, atau dikenal dengan istilah dikocor.

Maryoto pun mengaku sangat terbebani dengan mahalnya harga pupuk nonsubsidi. Keuntungannya pun kini merosot lantaran ongkos yang dikeluarkan semakin besar.

"Harapannya harga pupuk bisa ditekan agar modal operasional bisa ditekan juga dan petani bisa mendapat keuntungan," ujar pria yang memiliki lahan di Bumirejo, Lendah dan Srikayangan, Sentolo ini.(alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.