TRIBUN-TIMUR.COM - Sebanyak 20-an pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas Universitas Bosowa (Unibos) menemui pendiri Bosowa, HM Aksa Mahmud, Jumat siang, 12 Juni 2026.
Para pimpinan BEM diterima di lantai 23 Menara Bosowa, sesaat setelah Wakil Ketua MPR RI 2004-2009 itu menunaikan Shalat Jumat di lantai 20 gedung yang menjadi simbol perjalanan panjang Bosowa itu.
Pertemuan itu bukan sekadar audiensi formal mahasiswa dengan pendiri kampus. Ia menyerupai ruang transfer pengalaman lintas generasi: generasi aktivis 1960-an bertemu generasi mahasiswa era digital yang tumbuh di tengah algoritma, kecemasan masa depan, dan kompetisi kerja yang semakin ketat.
Para pimpinan BEM datang didampingi Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Unibos Bustanul Abduh serta Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Andi Irwandi.
Sementara Aksa Mahmud didampingi H Muslim Salam dan Rama Saputra Juniar.
Satu per satu pimpinan BEM menyampaikan program dan aspirasi.
Ketua BEM Fakultas Pertanian Unibos, Wahyuddin, melaporkan kesiapan mahasiswa pertanian untuk turun langsung ke lapangan.
“Kami di Fakultas Pertanian sudah mengajukan izin untuk bercocok tanam di Pallangga. Kami sudah siap melakukan penanaman, Pak,” ujar Wahyuddin.
Sementara Ketua BEM Fakultas Kedokteran Unibos, Bryan Mario, menyampaikan rencana pengabdian masyarakat yang akan mereka lakukan.
“Kami dari Fakultas Kedokteran akan bakti sosial dan seminar kesehatan di Manimpahoi, Sinjai, Pak,” katanya.
Ainun Fitria menyorot birokrasi kampus yang kadang berbelit-belit hingga menghambat kerativitas mahasiswa.
BEM Fakultas Psikologi juga melaporkan pelaksanaan pertemuan mahasiswa psikologi se-Kawasan Timur Indonesia yang sementara berlangsung di Makassar.
Namun yang menarik dari pertemuan itu bukan hanya laporan kegiatan mahasiswa. Yang muncul justru sebuah pelajaran lama tentang keberanian berpikir dan kesungguhan belajar dan berjuang.
Aksa Mahmud, aktivis mahasiswa era 1960-an, merespons satu per satu aspirasi tersebut. Ia tidak sekadar mendengar. Ia menyuntikkan semangat juang.
“Harus semangat. Pantang menyerah. Bergaul. Berdiskusi agar punya wawasan luas. Diskusi dengan siapa saja. Diskusi supaya tahu semua ilmu. Yang di pertanian, jangan hanya pertanian. Kuasai semua. Itu pentingnya diskusi,” kata Aksa Mahmud.
Petuah itu lahir dari pengalaman panjang. Aksa Mahmud dikenal sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) sejak 1962. Bersama Jusuf Kalla, ia juga tercatat sebagai aktivis kawakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar pada masa pergolakan nasional, termasuk periode pemberontakan dan pembubaran PKI tahun 1965, serta gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Barangkali karena ditempa dalam zaman pergolakan itulah, Aksa Mahmud terlihat cukup terganggu dengan kebiasaan sebagian mahasiswa yang terlalu formal ketika hendak berbicara.
“Kalau mau bicara, tidak perlu minta izin. Mahasiswa itu harus berani. Berani bicara dengan siapa saja,” ujarnya, sembari mengoreksi beberapa peserta diskusi yang berkata, “Izin, boleh saya bicara, Pak?”
Bagi Aksa Mahmud, kampus bukan tempat membesarkan rasa takut, tetapi ruang melatih keberanian intelektual.
Karena itu, ketika mendengar rencana mahasiswa Fakultas Pertanian turun ke Pallangga, Gowa, lokasi salah satu perkebunan Bosowa, Aksa Mahmud memberi pesan yang sangat praktis, bahkan keras.
“Jangan datang membesuk. Datang kerja. Kalau belajar, belajar betul. Jangan hanya datang membesuk. Di situ bukan barang sakit,” tegasnya.
Mahasiswa, kata dia, sebaiknya tinggal dan belajar serius selama tiga bulan.
“Kalau datang pagi, pulang sore, itu membesuk namanya,” ujar Aksa Mahmud.
Di kawasan itu, mahasiswa pertanian dapat belajar langsung tentang jeruk, lengkeng, durian, hingga praktik hidroponik.
Aksa bahkan membayangkan masa depan pertanian berbasis ilmu pengetahuan.
“Bikin kelompok-kelompok untuk kerja hidroponik. Kalau sudah oke, belajar lagi yang lain. Ke depan, hidroponik itu sains. Pasarannya luar biasa. Kita ingin kalau kalian tamat sudah bisa langsung bikin hidroponik, apalagi sudah ada MBG,” kata Aksa Mahmud.
Bagi Aksa Mahmud, kampus tidak boleh berhenti pada teori. Pendidikan harus menghasilkan kemampuan yang bisa langsung hidup di masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak banyak universitas memiliki fasilitas seperti yang tersedia di Unibos.
“Anak pertambangan, geologi, tinggal di tambang tiga bulan. Pelajari pertambangan. Yang kedokteran, bikin bakti sosial,” tegasnya lagi.
Bahkan untuk kegiatan pengabdian sosial mahasiswa, menurut Aksa, Bosowa menyiapkan dukungan anggaran setiap tahun berkisar Rp60 juta hingga Rp80 juta.
Di tengah percakapan itu, ada satu pesan yang terasa paling kuat: mahasiswa tidak cukup hanya hadir di kampus. Mereka harus hadir dalam realitas.
Belajar bukan sekadar mendengar kuliah, melainkan mengalami. Tidak sekadar datang, tetapi tinggal. Tidak sekadar melihat, tetapi mengerjakan.
Mungkin itulah makna terdalam pertemuan di lantai 23 Menara Bosowa siang itu: kampus sedang diingatkan agar tidak melahirkan sarjana yang pandai berbicara tentang dunia, tetapi asing terhadap kenyataan hidup yang sebenarnya.(*)