Harga Pertamax Naik, Sebagian Pedagang di Bogor Terpaksa Pakai Cara Ribet Agar Modal Tak Bengkak
Tsaniyah Faidah June 12, 2026 08:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax membuat sejumlah pedagang pasar di Bogor langsung terdampak.

Khususnya pedagang yang mengandalkan mesin penggiling berbahan bakar minyak.

Pantauan TribunnewsBogor.com, Jumat (12/6/2026), di Pasar Ciawi, Kabupaten Bogor terdapat beberapa pedagang yang berjualan mengandalkan mesin berbahan bakar minyak.

Suara bising mesin yang dioperasikan pedagang menjadi bagian dari suasana yang mewarnai Pasar Ciawi ini.

Selain memang musik dangdut dan pop juga terdengar diputar pedagang.

Terpantau, di antaranya mesin-mesin ini digunakan pedagang bumbu untuk menggiling bawang, kunyit, dan bumbu lainnya sebelum dijual.

Ada pula pedagang kelapa yang menggunakan mesin penggiling kelapa untuk dijadikan santan segar sesuai pesanan pembeli.

Mesin-mesin ini rupanya rata-rata menggunakan BBM non subsidi jenis Pertamax yang kini harganya naik menjadi Rp16.250 dari Rp12.300 per Liternya.

Alasan pedagang mengandalkan Pertamax dibanding Pertalite yang lebih murah, adalah karena mereka tak bisa membeli Pertalite ke SPBU menggunakan jerigen.

Sementara untuk Pertamax, menurut pedagang, masih bisa dilakukan pembelian menggunakan jerigen di SPBU.

Tak ingin terancam rugi karena kenaikan harga Pertamax, sebagian pedagang ada yang mengakalinya agar bisa pakai Pertalite yang lebih murah karena harganya masih Rp10.000 per Liter.

Yaitu dengan dilakukan pembelian Pertalite ke SPBU menggunakan sepeda motor, lalu Pertalite dari tangki motor dipindahkan ke jerigen dan digunakan sebagai bahan bakar mesin giling di pasar.

Hal ini salah satunya dilakukan oleh Jamal, salah satu pedagang kelapa di Pasar Ciawi, Kabupaten Bogor.

"Kita pakai Pertalite, sekarang beli di pom pakai motor," kata Jamal kepada TribunnewsBogor.com, Jumat (12/6/2026).

Di saat yang sama Jamal juga harus ikut mengantre dengan para pengendara lain pembeli Pertalite di SPBU yang belakangan kerap mengular panjang setelah Pertamax naik.

Setiap hari dia harus membeli Pertalite dengan cara itu di SPBU sebanyak satu jerigen kecil kapasitas 5 Liter untuk kebutuhan per harinya.

Meski menyusahkan, kata dia, tapi cara ini bisa menghindari dampak kenaikan harga Pertamax yang bisa membuat modal BBM per hari membengkak.

"Jadi ikut antre, mau gimana lagi atuh," kata Jamal.

Jamal menjelaskan, dulu pembeli BBM bersubsidi Pertalite di SPBU sempat bisa dilakukan menggunakan jerigen, namun kini hal itu sudah tak bisa lagi dilakukan, kecuali untuk pembelian BBM non subsidi Pertamax.

Sehingga akhirnya pedagang pasar yang menggunakan mesin kebanyakan beralih menggunakan bahan bakar Pertamax.

"Dulu bisa pakai itu (beli pertalite pakai jerigen), sekarang enggak bisa. Jadi, diakalin pakai motor," katanya.

Namun jika pertalite di SPBU sedang kosong, kata Jamal, dia mengaku akan terpaksa menggunakan Pertamax meski harganya naik agar dia tetap berjualan.

"Kalau enggak ada Pertalite, pakai Pertamax. Kan harus tetap dagang saya," katanya.

Meski begitu, ada pula beberapa pedagang lain yang menggunakan bahan bakar Pertamax untuk mesin mereka.

Tak mau ribet jadi alasan mereka tetap menggunakan Pertamax meski penjualan mereka menjadi semakin tertekan karena ongkos bensin membengkak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.