Serapan Pupuk Subsidi di Jepara Lampaui Target, Semester Pertama Capai 61,7 Persen
deni setiawan June 12, 2026 08:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Progres penyerapan pupuk subsidi di Kabupaten Jepara cukup tinggi, mencapai 61,7 persen di semester pertama.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara mencatat, realisasi serapan pupuk subsidi di Jepara terhitung hingga Mei 2026 sebanyak 15,70 juta kilogram atau 61,7 persen dari total alokasi 25,45 juta kilogram.

Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Mudhofir mengatakan, serapan pupuk subsidi di Jepara didominasi Urea dan NPK.

Baca juga: Pemkab Jepara Bantu Kepulangan 6 PMI dari Berbagai Negara Tahun Ini

• Mario Lemos Tetap Nahkodai Persijap Jepara, Ditarget Lebih Kompetitif

Pupuk jenis urea sudah terserap 7,48 juta kilogram atau 60,85 persen dari alokasi 12,3 juta kilogram. 

Untuk jenis pupuk NPK serapannya mencapai 8,2 juta kilogram atau 63,16 persen dari total alokasi yang ada 13 juta kilogram.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan serapan pupuk ZA dan pupuk organik yang sepi peminat.

Misalnya ZA, sejauh ini baru terserap 5,82 persen atau 5,9 ribu kilogram dari alokasi total 101,6 ribu kilogram.

Sementara serapan pupuk organik dengan alokasi 50 ribu kilogram dan pupuk NPK Kakao 1,65 ribu kilogram, belum terlaporkan.

Mudhofir menyebut, serapan pupuk subsidi Jepara menempati urutan tertinggi kedua di Jawa Tengah.

Ini menandakan bahwa pertanian di Kota Ukir berjalan baik untuk mendukung optimalisasi swasembada hasil bumi di Kabupaten Jepara.

"Serapan pupuk masing-masing kecamatan ini berbeda-beda, sehingga kami melakukan pergeseran alokasi pupuk," terangnya, Jumat (12/6/2026).

Mudhofir menjelaskan, pergeseran alokasi pupuk dilakukan untuk pemerataan serapan pupuk di masing-masing wilayah.

Misalnya pergeseran dilakukan pada daerah dengan serapan pupuk NPK tinggi, namun serapan pupuk ureanya rendah. Selanjutnya dilakukan pengalokasian ulang dengan daerah yang berkebalikan.

DKPP Kabupaten Jepara mencatat, dari serapan pupuk yang terjadi, Kecamatan Mlonggo merupakan daerah dengan serapan tertinggi di Jepara. Mencapai 81,39 persen untuk Urea dan 93,72 persen untuk NPK.

Sementara wilayah dengan serapan pupuk terendah yaitu Kecamatan Karimunjawa 14,01 persen untuk urea dan 14,73 persen untuk NPK.

Mudhofir menilai, penggunaan pupuk organik oleh petani di Jepara masih rendah lantaran petani sudah terbiasa dengan pupuk kimia mendukung pertumbuhan tanaman lebih cepat.

Baca juga: Jalan Rusak Ruas Jepara-Keling dapat Alokasi Rp 37,1 Miliar dari Bantuan Provinsi

• Tempur Dengan Sejuta Potensi Yang Bikin Takjub, Surganya Wisata Alam Jepara

Meski demikian, pupuk organik tetap dibutuhkan masyarakat. Biasanya digunakan oleh petani milenial dengan jenis tanaman holtikultura.

Mudhofir berharap alokasi pupuk subsidi yang diterima Kabupaten Jepara cukup untuk membantu petani di pesisir utara Laut Jawa.

"Yang jadi persoalan biasanya ketika pupuk datang pada waktu musim tanam serentak, langsung habis karena yang butuh berbarengan. Disangka pupuk langka, sedangkan dalam proses pengajuan membutuhkan waktu," ujar dia.

Petani asal Bondo, Kecamatan Bangsri, Ngadiman menyampaikan, saat ini dia tetap mengandalkan pupuk urea dan NPK untuk merawat tanaman padi miliknya.

Kata dia, pupuk urea dan NPK masih jadi pilihan utama bagi petani dalam merawat pertumbuhan tanaman. Khususnya pertumbuhan tanaman padi agar bisa mendapatkan hasil optimal.

"Saat ini ya pupuk urea dan NPK masih jadi andalan petani."

"Yang perlu dicermati dalam pemberian pupuk secukupnya, tidak boleh kebanyakan dan tidak boleh terlalu sedikit agar pertumbuhan tanaman lebih maksimal," tutur dia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.