TRIBUNSUMSEL.COM - Marah merupakan salah satu emosi manusia yang wajar termasuk kemarahan yang dirasakan terhadap kebijakan pemerintah. Namun dalam Islam, emosi ini tidak boleh dilepaskan tanpa kendali termasuk saat mengkritik atau protes terhadap pemerintah.
Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray LC Hafidzahullahu Ta'ala,dalam tayangan Facebook dikutip Tribunsumsel.com, Sabtu 12 Juni 2026, menguraikan petunjuk bagi seorang muslim saat marah atau protes kepada pemerintah berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW. Berikut ini ulasan selengkapnya.
Dalam Islam, marah tidak dilarang, namun harus dikendalikan. Rasulullah SAW bersabda:
"Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan seorang Muslim bukan diukur dari kemampuannya mengekspresikan kemarahan, tetapi kemampuannya mengendalikannya dengan hikmah.
Ustaz Chalid menekankan bahwa jika seorang muslim tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, protes diperbolehkan dengan cara yang santun dan konstruktif, sesuai tuntunan Nabi SAW. Prinsip-prinsip ini meliputi:
1.Tidak Menyebarkan Fitnah atau Menghasut
Protes tidak boleh disertai ujaran kebencian, fitnah, atau hasutan yang memecah belah masyarakat.
Hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam Al-Quran:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain…" (QS. Al-Hujurat: 12)
2. Mengutamakan Jalan Damai
Nabi SAW memberikan teladan dalam menghadapi penguasa yang melakukan kebijakan tidak adil, dengan dialog dan nasihat yang lembut.
Dalam suatu riwayat, seorang sahabat merasa marah kepada penguasa, namun Nabi SAW menasihatinya untuk bersikap bijak dan menahan diri.
3. Protes dengan Maksud Perbaikan Bukan Merusak
Kritik seorang muslim terhadap pemerintah harus bertujuan melakukan perbaikan, bukan merusak stabilitas negara atau memicu kerusuhan.
Hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
"Dan nasihatilah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)
Rasulullah SAW pernah menghadapi penguasa yang berlaku tidak adil, namun beliau menunjukkan sikap:
Sabar dan hikmah, dengan cara menahan diri dari tindakan emosional yang bisa menimbulkan kerusakan.
Nasihat yang bijak, dengan cara memberikan arahan dan koreksi secara halus dan persuasif.
Doa dan tawakkal, dengan cara memohon pertolongan Allah SWT untuk menegakkan kebenaran.
Demikian ulasan Adab Marah dalam Islam dan Panduan Protes kepada Pemerintah.
Baca juga: Satu Kalimat Doa Mustajab dalam Sholat Menurut Ustadz Adi Hidayat
Baca juga: Waktu Mustajab Berdoa saat Melihat Orang Lain Mendapatkan Nikmat
Baca juga: Doa Ayah atau Ibu yang Lebih Mustajab, Dalil Hadits dan Penjelasan Ustadz Hanan Attaki
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com