Capaian Temuan Kasus TBC di Sulbar 30,9 Persen Lampaui Rata-Rata Nasional
Ilham Mulyawan June 12, 2026 08:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Berdasarkan data nasional per 7 Juni 2026, Sulawesi Barat mencatat sejumlah capaian positif yang menempatkan daerah ini di atas rata-rata nasional dalam beberapa indikator utama pengendalian TBC. 

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa capaian penemuan kasus TBC di Sulawesi Barat telah mencapai 30,9 persen dari target estimasi kasus tahun 2026. 

Baca juga: Disbun Sulbar Tetapkan Harga TBS Sawit Rp2.394 Rendemen 16,25 Persen & Rp3.155 Rendemen 21,65 Persen

Baca juga: Penumpang Sedikit Hingga Batik Air Stop Terbang Pemprov Tetap Mau Kembangkan Bandara Tampa Padang

Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang masih berada pada kisaran 30 persen. 

Sulawesi Barat juga masuk dalam kelompok provinsi dengan capaian penemuan kasus terbaik secara nasional. 

Tidak hanya pada aspek penemuan kasus, Sulawesi Barat juga mencatat prestasi membanggakan pada indikator Treatment Enrollment Tuberkulosis Sensitif Obat (TB SO). 

Dengan capaian 92,9 persen, Sulawesi Barat menempati posisi tertinggi nasional dalam memastikan pasien yang terdiagnosis TBC segera mendapatkan pengobatan. 

Pada indikator keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO), Sulawesi Barat bahkan mencatat capaian 100 persen, tertinggi di Indonesia dan telah melampaui target nasional sebesar 85 persen. 

Capaian ini menunjukkan kualitas pendampingan dan kepatuhan pengobatan pasien TBC yang semakin baik di Sulawesi Barat. 

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat dr. Nursyamsi Rahim, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh kabupaten, puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan berbagai mitra pembangunan kesehatan.

“Capaian ini menunjukkan bahwa Sulawesi Barat berada pada jalur yang tepat dalam upaya eliminasi TBC. Namun kita tidak boleh berpuas diri, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama meningkatkan penemuan kasus dan memperluas pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kelompok berisiko,” ujar dr. Nursyamsi.

Ia menegaskan, inovasi GARATTA TBC akan terus diperkuat sebagai strategi daerah dalam mempercepat eliminasi TBC melalui pendekatan gotong royong dan pemberdayaan masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.