Belajar Menulis Hikayat dari Teks Latin, Aslinya Masih Terkunci
Subur Dani June 12, 2026 09:03 PM

Oleh: Moritza Thaher*)

Melodinya sudah selesai. Aransemen juga sudah siap. Penyanyi sudah hafal nadanya. Syairnya masih menunggu seseorang yang selalu punya alasan untuk menunda.

Ini sudah berkali-kali terjadi. Saya punya beberapa penulis syair yang biasa saya ajak bekerja sama. Mereka berbakat dan saya menghargai kerja mereka. 

Baca juga: Pintu yang Masih Ditanya-tanya, Qanun Sudah Berjalan Tanpa Mereka

Masalahnya sederhana: jadwal dan kondisi mereka yang menentukan kapan lagu saya selesai. 
Kadang itu penulis yang tengah mengerjakan pesanan lain. Kadang ada pekerjaan yang datang lebih dulu. Lagu itu menunggu.

Beberapa lagu sudah terlalu lama menunggu syairnya. Suatu hari saya berhenti menunggu. 

Saya perlu bisa menulis sendiri. Lagu-lagu yang saya garap punya struktur. Syairnya perlu struktur yang setara. 
Saya ingin menulis dalam kaidah sastra klasik Aceh. Hikayat. Syair yang punya aturan dan struktur yang sudah berumur ratusan tahun.

Yang Saya Pegang Sudah Satu Tangan dari Aslinya

Sumber yang tersedia adalah teks hikayat dalam aksara Latin. Dari sana saya mulai belajar kaidah: buhu dan pakhôk. 

Buhu adalah metrum, cara mengukur panjang suku kata per baris. Pakhôk adalah rima, persajakan yang mengikat baris satu ke baris berikutnya.

Baca juga: Hujan Turun, Kebakaran Lahan Capai 99 Hektare di Nagan Raya Akhirnya Padam

Saya membaca pola itu berulang kali. Menghitung suku kata. Membandingkan baris satu dengan baris berikutnya. Lambat laun kaidahnya mulai terasa. 

Saya mulai bisa merasakan ketika sebuah baris terlalu pendek atau terlalu panjang. Kaidah itu mulai terasa seperti irama.

Teks yang saya pelajari sudah melewati satu tangan sebelum sampai ke saya. Snouck Hurgronje dan timnya mengalihaksara sekitar 600 naskah Jawoe ke aksara Latin. 

Tujuannya: memahami perlawanan Aceh. Program kolonial yang menghasilkan koleksi naskah. Saya belajar kaidah sastra klasik Aceh dari warisan proyek itu.

Baca juga: Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Massal 2026, Peserta Berkesempatan Dapat Bantuan Modal Usaha

H.Agussalim pernah berkata tentang kondisi ini: "Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan." 

Saya membaca kalimat itu sambil menggenggam teks yang saya pelajari. Keduanya di tangan yang sama. 

Saya masih menebak berapa banyak yang berubah dalam perjalanan teks itu. Dari sanalah keinginan untuk membaca langsung dari Jawoe itu muncul.

Jalur ke Aksara Aslinya Baru Terbuka

Saya ingin membaca dari tulisan aslinya. Langsung dari Jawoe. Dari aksara Arab yang menjadi tubuh asli naskah-naskah itu. Jalurnya terasa tertutup.

Lima tahun sudah saya tekuni kaidah ini. Buhu dan pakhôk sudah berulang kali saya praktikkan. Kaidahnya sudah saya pahami sebagian besar.

Saya sudah menulis beberapa syair sendiri. Saya masih menyimpannya. Kepercayaan untuk mempublikasikannya masih tertahan.

Baca juga: VIDEO Polisi Selidiki Ledakan Kapal Aceh Hebat 2, Korban Capai 15 Orang

Saya masih menimbang. Apakah yang saya pelajari dari teks Latin sudah cukup akurat?

Apakah ada sesuatu yang hilang dalam proses alihaksara itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya ingin membaca dari sumbernya langsung.

Saya mencari siapa yang menguasai kaidah ini dan masih aktif. Nama-nama itu ada. Sebagian sudah sukar ditemui.

Baca juga: Raup 98,5 Poin, Pemkab Bireuen Raih Penghargaan dari KIA

Sebagian tenggelam dalam kesibukan lain. Satu-dua bersedia berbagi sebentar. Ketersediaan lebih dari itu sukar diperoleh. Kelas yang tersistem, dengan jadwal tetap, masih perlu dibangun.

Lalu saya melihat pengumuman dari Bale Tambeh. Mereka membuka kelas Arab Jawoe bahasa Aceh. Tahap ketiga. Gratis. Mulai 20 Juni 2026. Ini yang saya butuhkan sejak lama. Baru sekarang terlihat.

Transmisi Ini Bergantung pada Satu Orang

Saya menunggu penulis syair. Penulis syair menunggu waktu luang mereka. Transmisi kaidah sastra klasik Aceh bekerja dengan cara yang persis sama.

Bergantung pada siapa yang mau mengajar. Pada kapan orang itu bersedia. Pada apakah ada yang memutuskan ini penting untuk dilakukan.

Baca juga: AS Tembak Jatuh Dua Drone Iran di Selat Hormuz Usai Trump Klaim Perang Telah Berakhir

Bale Tambeh mengisi ruang itu selama lebih dari tiga dekade. T.A. Sakti memulainya sejak 1992. Swadaya. Dua kali dalam setahun kelas dibuka. Pesertanya datang dari berbagai latar.

Musisi, penulis, mahasiswa. Terbuka untuk siapa saja. Gratis. Program ini dibangun selama puluhan tahun.

Saya ingin mengikuti kelas itu sebagai musisi yang butuh membaca aksara aslinya sendiri. Lima tahun belajar dari teksnya. Ini jalur ke aksaranya.

Baca juga: Fix! Bahlil Diagendakan Lantik Pengurus Golkar Aceh pada 10-12 Juli di Hotel Hermes, Cek Susunannya

Tapi kerja ini berdiri di atas satu orang. Tiga puluh tahun lebih T.A. Sakti menanggung ini. Jika ureung chik itu satu hari memilih berhenti, jalur itu ikut tutup.

Warisan ini perlu lebih dari satu punggung. Aksaranya masih terkunci. Kuncinya sudah ada. Jalurnya masih bergantung pada niat seorang T.A. Sakti.(*)

*) Moritza Thaher adalah penulis dan musisi yang berbasis di Banda Aceh.

Tulisannya berfokus pada ekosistem seni, budaya, dan pendidikan — khususnya jarak antara cara sistem itu diklaim bekerja dan cara ia benar-benar bekerja. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991 dan masih aktif mengajar hingga hari ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.