TRIBUNMANADO.CO.ID, TALAUD – Aksi solidaritas masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud yang digelar di Kantor PLN ULP Beo, Kecamatan Beo, Jumat (12/6/2026), tidak hanya menyuarakan keluhan terkait pemadaman listrik yang berulang, tetapi juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak PLN.
Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, yang terletak di kawasan paling utara Indonesia Timur.
Wilayah ini berbatasan langsung dengan negara Filipina dan berfungsi sebagai beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di kawasan Pasifik. Ibu kotanya berada di Melonguane.
Dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara menuju Talaud memakan waktu sekitar 15 jam perjalanan laut.
Aksi yang diikuti sekitar 100 orang tersebut berlangsung tertib dan dipimpin oleh Ketua PWI Talaud, Evans F. Taarae selaku koordinator lapangan.
Dalam pertemuan antara perwakilan massa aksi dan pihak PLN ULP Beo, masyarakat menyampaikan tujuh tuntutan yang dinilai penting untuk menjawab persoalan kelistrikan yang selama ini terjadi di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Adapun tujuh tuntutan yang disampaikan yakni:
1. Menghentikan pemadaman listrik yang berulang dan merugikan masyarakat.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kelistrikan di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud.
3. Menjamin kestabilan pasokan listrik agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.
4. Menyampaikan informasi secara terbuka terkait penyebab gangguan jaringan dan pemadaman listrik.
5. Mempercepat perbaikan mesin maupun infrastruktur kelistrikan yang mengalami kerusakan.
6. Meningkatkan respons terhadap berbagai keluhan masyarakat terkait layanan kelistrikan.
7. Menyusun langkah konkret dan jangka panjang untuk memastikan pelayanan listrik yang lebih baik di Talaud.
Aksi yang mengusung tema “Rakyat Menggugat – Seruan Aksi Solidaritas Perjuangan Rakyat Tertindas” itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap seringnya terjadi pemadaman listrik yang dinilai merugikan masyarakat.
Peserta aksi mulai berkumpul di halaman Kantor PLN ULP Beo sejak pukul 13.00 WITA.
Para peserta aksi menuntut PLN meningkatkan kualitas pelayanan kelistrikan di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Mereka menilai pemadaman listrik yang berulang telah mengganggu aktivitas masyarakat, pelayanan publik, hingga berdampak pada perekonomian daerah.
Salah satu orator, Bastian Amos, meminta PLN memberikan kepastian terkait stabilitas pasokan listrik serta menjelaskan secara terbuka penyebab terjadinya pemadaman yang berulang.
"Masyarakat membutuhkan pelayanan listrik yang andal. Kami meminta PLN menyampaikan secara transparan penyebab gangguan dan langkah penyelesaiannya," ujarnya dalam orasi.
Senada dengan itu, Fernando Loronusa menegaskan bahwa pemadaman listrik yang terus terjadi telah menimbulkan berbagai kerugian bagi masyarakat.
Ia meminta PLN segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan kelistrikan di Talaud.
"Jika tidak ada perbaikan pelayanan, masyarakat siap kembali menyampaikan aspirasi dengan jumlah massa yang lebih besar," katanya.
Sementara itu, orator lainnya, Bastian Elly Amos, menyoroti dampak pemadaman listrik terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dan pelayanan publik.
Ia juga meminta PLN lebih responsif terhadap berbagai keluhan yang disampaikan warga.
Sekitar pukul 14.00 WITA, perwakilan massa aksi diterima oleh pihak PLN ULP Beo untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.
Menanggapi aspirasi tersebut, pihak PLN ULP Beo melalui James Kauna selaku Manager PLN ULP Beo menyatakan menerima seluruh tuntutan masyarakat dan berjanji meneruskannya kepada pimpinan PLN untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme dan kewenangan yang berlaku.
Manager PLN ULP Beo juga membuat surat pernyataan yang berisi komitmen untuk memaksimalkan perbaikan mesin yang mengalami kerusakan serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Masyarakat berharap komitmen yang disampaikan PLN dapat segera diwujudkan sehingga permasalahan pemadaman listrik yang selama ini dikeluhkan warga Talaud dapat segera teratasi.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini