Kisah Omin Badu, 30 Tahun Jadi Pembuat Perahu di Desa Bajo Gorontalo
Fadri Kidjab June 12, 2026 09:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Omin Badu (45) merupakan nelayan asal Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Ia telah menekuni profesi sebagai pembuat perahu tradisional selama 30 tahun demi menopang ekonomi keluarganya. 

Meski menjadi tumpuan hidup, proses produksi perahu kayu miliknya kini terkendala akibat minimnya modernisasi peralatan kerja.

Pekerjaan membuat perahu ini dilakoni Omin untuk membiayai istri dan ketiga anaknya. Saat ini, dua anaknya telah menikah, sementara si bungsu masih duduk di bangku sekolah dasar.

Keterampilan ini didapatkannya secara otodidak sejak kecil. Berawal dari hobi melihat para tetua merakit kayu, Omin remaja memberanikan diri mempraktikkannya langsung.

"Pertama saya membuat perahu yang hanya berukuran 2 meteran saja," kenang Omin saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Jumat (12/6/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, Omin tampak sibuk merapikan bagian depan perahu kayu yang sedang digarapnya. Membentuk haluan dan buritan memang menjadi fase paling krusial sekaligus memakan waktu. Proses pengerjaan sisi kanan dan kiri bagian depan membutuhkan waktu 4 hari, begitupun dengan bagian belakang.

Artinya, seminggu penuh habis hanya untuk detail kedua ujung perahu. Secara keseluruhan, satu perahu membutuhkan waktu pengerjaan hingga 1 bulan 1 minggu.

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pengendara di Gorontalo Siasati Isi BBM Setengah Tangki

Hanya Andalkan Alat Seadanya

PEMBUAT PERAHU -- Omin Badu (pria berkaus hijau) sedang membuat perahu (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali)
PEMBUAT PERAHU -- Omin Badu (pria berkaus hijau) sedang membuat perahu (Sumber : TribunGorontalo/Rahmat Hambali) (TribunGorontalo.com/Rahmat Hambali)

Durasi pembuatan yang memakan waktu berminggu-minggu ini terjadi karena Omin masih mengandalkan peralatan manual yang sangat sederhana, seperti pisau (peda), gergaji, pahat, serut (scap), dan bor. Mirisnya, alat-alat manual tersebut sebagian besar diperoleh dari pemberian orang lain.

"Lama pengerjaan tergantung alat yang digunakan. Jika alatnya masih manual bisa seminggu (untuk bagian haluan), namun jika alatnya sudah menggunakan listrik kemungkinan hanya beberapa hari saja," tegas Omin.

Kondisi ekonomi memaksa Omin mengubur mimpinya membeli alat modern secara mandiri, sebab penghasilannya harus diprioritaskan untuk kebutuhan harian keluarga.

Sebagai jalan keluar, Omin bersama rekan sesama pengrajin sebenarnya sudah dua kali mengajukan proposal bantuan alat ke dinas terkait, baik secara mandiri maupun berkelompok. Namun, hingga kini aspirasi tersebut belum pernah terealisasi atau mendapat atensi dari pihak terkait.

Omin menegaskan bahwa kelompoknya tidak mengharapkan bantuan modal berupa uang tunai, melainkan paket peralatan kerja berbasis listrik untuk memangkas waktu produksi.

"Yang dibutuhkan oleh pembuat perahu seperti bor listrik, scap listrik, gergaji potong listrik, hingga chainsaw (sensor)," tuturnya. Menurutnya, keberadaan gergaji mesin akan sangat mempercepat proses pemotongan kayu baku.

Melalui sisa-sisa harapannya, Omin sangat mendambakan adanya kepedulian dari pemerintah daerah untuk pengadaan mekanisasi alat bagi para pembuat perahu lokal di Boalemo.

"Bantuan alat merek apa pun, kami akan menerimanya dengan senang hati," tutup Omin. (*/Rahmat)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.