Ribuan Ton Sampah Menggunung di Gili Trawangan NTB, KKP Tunggu Izin Operasional Insinerator
Febri Prasetyo June 12, 2026 11:36 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pengelolaan sampah kini menjadi permasalah nasional di berbagai daerah di Indonesia.

Berdasar data Kementerian Lingkungan Hidup (LH), hingga akhir 2025, capaian sampah terkelola nasional baru mencapai 25 persen atau sekitar 36.684 ton per hari.

Sedangkan 75 persen lainnya atau 105.483 ton per hari belum tertangani secara memadai dan masih berisiko mencemari lingkungan.

Masalah sampah juga dinilai berpengaruh pada sektor pariwisata, seperti di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gili Trawangan diperkirakan saat ini telah menumpuk 175.000 ton dan belum dapat dikelola secara optimal.

Gili Trawangan merupakan pulau terbesar dari tiga pulau kecil (gili) di barat laut Lombok, NTB.

Jarak Gili Trawangan dari Jakarta adalah sekitar 1.125 km.

Rute paling umum bisa ditempuh dengan penerbangan dari Jakarta menuju Lombok (LIA), dilanjutkan dengan jalur darat ke Pelabuhan Bangsal, dan menyeberang menggunakan kapal cepat atau perahu umum

Gili Trawangan terkenal dengan pantainya yang berpasir putih.

DESTINASI SPORT TOURISM - Festival Olahraga Nasional (Fornas) VIII 2025 di Gili Trawangan. Gili Trawangan kini juga menjadi destinasi liburan sekaligus arena sport tourism.
DESTINASI SPORT TOURISM - Festival Olahraga Nasional (Fornas) VIII 2025 di Gili Trawangan. Gili Trawangan kini juga menjadi destinasi liburan sekaligus arena sport tourism. (Tribunnews/Abdul Majid)

Terkait masalah sampah ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mempercepat upaya penanganan persoalan sampah dengan menyiapkan tiga unit insinerator.

Dikutip dari laman UPI, insinerator sampah adalah perangkat atau mesin khusus yang digunakan untuk membakar limbah padat secara terkendali pada suhu yang sangat tinggi.

Baca juga: Persoalan Sampah di Jakarta Tak Kunjung Tuntas, Sekolah Kini Ikut Dilibatkan

Teknologi ini dirancang untuk menghancurkan komponen organik dalam sampah, sehingga volume limbah berkurang drastis hingga 90 persen dan hanya menyisakan abu (residu) serta gas buang.

Saat ini, insinerator yang diadakan KKP masih menunggu penyelesaian proses perizinan sebelum dapat dioperasikan secara penuh.

Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris, mengatakan, keberadaan insinerator tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini membebani kawasan wisata sekaligus kawasan konservasi perairan tersebut.

Menurutnya, Gili Trawangan merupakan salah satu kawasan konservasi perairan yang dikelola KKP dan setiap tahunnya diperkirakan dikunjungi sekitar 810 ribu wisatawan.

"Saat ini Gili Trawangan menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah. Diperkirakan sekitar 175 ribu ton sampah tertumpuk di TPST Gili Trawangan dan belum dapat dikelola secara optimal karena keterbatasan alat pengolah sampah," ujar Ahmad Aris dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Jumat (11/6/2026).

Ahmad menguraikan, timbunan sampah tersebut terus bertambah sekitar 17 hingga 20 ton per hari dari aktivitas masyarakat maupun sektor pariwisata.

Apa Dampaknya?

Ia menjelaskan, timbunan sambah menimbulkan berbagai dampak lingkungan, terutama terhadap ekosistem laut.

Dampak yang muncul antara lain meningkatnya kandungan bakteri E. coli di kawasan pesisir akibat residu sampah yang menumpuk.

Selain itu, pertumbuhan alga juga ditemukan di zona inti kawasan konservasi perairan Gili Trawangan.

Tumpukan sampah di TPST bahkan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan masyarakat dan wisatawan.

"Karena itu diperlukan penerapan teknologi dan langkah konkret dalam penanganan sampah di Gili Trawangan agar dampak lingkungan dapat diminimalkan," katanya.

Sebagai upaya dari solusi, KKP melakukan pengadaan tiga unit insinerator pada akhir tahun 2025.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengurangi volume sampah secara signifikan dengan kapasitas pembakaran mencapai sekitar 10 hingga 20 ton sampah per hari.

Namun demikian, ketiga unit insinerator tersebut belum dapat langsung dioperasikan karena masih harus memenuhi ketentuan perizinan yang berlaku.

"Saat ini seluruh insinerator telah melalui tahap uji emisi. Sesuai regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup, setiap insinerator wajib melewati sejumlah tahapan perizinan hingga memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO)," jelas Ahmad Aris.

Ia menegaskan, KKP tengah melakukan berbagai langkah untuk memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan sehingga insinerator dapat segera difungsikan secara optimal.

Dengan beroperasinya ketiga unit insinerator tersebut, diharapkan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan utama di Gili Trawangan dapat segera teratasi.

Sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan ekosistem laut di kawasan konservasi yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia tersebut.

Urusan Sampah Juga Menjadi Perhatian Lintas Sektoral

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) juga mendorong pengembangan teknologi pengolahan sampah.

Satu di antaranya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., dalam Dialog Indonesia Punya Kamu yang bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional” yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada, Jumat (12/6/2026).

“Kemdiktisaintek itu memiliki tiga peran utama, yaitu perbaikan tata kelola, transformasi sosial, dan teknologi itu sendiri,” ujar Fauzan, dikutip dari laman UGM.

Selain itu, Fauzan menjelaskan bahwa sekitar 50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik yang masih dapat diolah.

Sementara 25 persen lainnya berpotensi didaur ulang.

Adapun sampah residu yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui teknologi pembangkit listrik.

Meski peluangnya besar, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya pada skala industri.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, lembaga riset, dan mitra internasional guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian terkait pengolahan sampah ini.

Fauzan menuturkan perguruan tinggi memiliki kontribusi besar dalam pengembangan riset pengelolaan sampah dan energi.

“Dalam pemetaan yang dilakukan kementerian, UGM menjadi salah satu institusi dengan jumlah penelitian terbanyak pada bidang tersebut,” katanya.

Menurut Fauzan, keberhasilan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.

Pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar untuk memastikan proses pengolahan dapat berjalan secara optimal. 

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.