TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Terik siang mulai meredup ketika halaman Landmark Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dipenuhi suara pengeras suara dan gemerisik spanduk yang tertiup angin.
Di antara deretan poster yang diangkat mahasiswa, satu tulisan paling menyita perhatian.
Huruf-huruf besar berwarna merah dan hitam itu berbunyi: "Penggal Kepala Presiden."
Kalimat itu membuat banyak orang berhenti sejenak.
Baca juga: Ada Dampak Berantai Pelemahan Rupiah
Sebagian mengernyitkan dahi, sebagian mengabadikannya dengan telepon genggam.
Di tengah kerumunan, Ahmad Alfani Hasan, mahasiswa Sosiologi angkatan 2023, berdiri bergantian memegang pengeras suara.
Sesekali ia melihat ke arah teman-temannya yang mengenakan topeng kertas bergambar Presiden Prabowo dengan tanda silang merah.
Bagi Ahmad dan kawan-kawannya, aksi itu bukan sekadar demonstrasi dadakan.
Ia menyebutnya sebagai hasil konsolidasi panjang yang melibatkan berbagai fakultas di lingkungan UIN Walisongo.
"Kami sudah melakukan propaganda media dan diskusi cukup lama. Ini bentuk komitmen bahwa mahasiswa tetap mengawal kondisi Indonesia hari ini," ujarnya, Jumat (12/6/2026) sore.
Tema "penggal kepala presiden" sengaja dipilih karena ingin menghadirkan simbol yang menggugah perhatian publik.
Ahmad menyadari kalimat itu terdengar bombastis. Namun, menurutnya, pesan tersebut tidak dimaksudkan sebagai ajakan melakukan kekerasan secara nyata.
Ia menjelaskan, simbol itu merujuk pada pelajaran sejarah dan sosiologi yang mereka kaji, khususnya tentang Revolusi Prancis, ketika rakyat bangkit melawan kekuasaan yang dianggap gagal memenuhi harapan masyarakat.
"Bukan dalam arti konkret. Ini alarm merah bahwa kondisi hari ini sudah sangat darurat dan sudah saatnya ada perubahan," katanya.
Di sela-sela orasi, mahasiswa lain bergantian meneriakkan tuntutan.
Beberapa poster bertuliskan "Reformasi" dan kritik terhadap kondisi ekonomi serta kebijakan pemerintah diangkat tinggi-tinggi.
Bagi Ahmad, kata reformasi yang mereka usung bukan sekadar mengulang sejarah 1998.
Ia menilai ada sejumlah cita-cita reformasi yang belum terwujud, termasuk kekhawatiran terhadap peran militer di ruang sipil.
Baca juga: Foto-foto Demonstrasi Mahasiswa Undip di Jalan Pahlawan Semarang, Singgung Negara Hancur 90 Persen
Kerumunan sesekali bertepuk tangan ketika orator menyampaikan kritik.
Ada yang duduk di aspal, ada pula yang berdiri sambil mengepalkan tangan ke udara.
Aksi di halaman kampus itu juga disebut sebagai awal dari gerakan yang lebih besar.
Ahmad mengatakan pihaknya membuka kemungkinan bergabung dengan mahasiswa dari kampus lain untuk turun ke jalan dalam waktu dekat.
"Kami belum bisa memastikan jumlahnya. Tapi yang bisa kami jamin, kami akan tetap turun menyuarakan aspirasi," imbuhnya. (*)