Oleh:
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado
DI tengah dunia yang semakin gaduh oleh polarisasi politik, krisis migrasi, sekularisasi, perang identitas, kecemasan generasi muda, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi publik, Paus Leo XIV memilih datang ke Spanyol bukan sekadar sebagai kepala negara kecil bernama Vatikan atau pemimpin 1,4 miliar umat Katolik. Ia datang sebagai peziarah harapan.
Tema kunjungan apostoliknya, “Alzada la mirada” (angkatlah pandanganmu), bukan hanya slogan pastoral. Ia merupakan seruan profetis yang mengajak manusia modern keluar dari jebakan pesimisme, ketakutan, dan egoisme menuju horizon yang lebih luas: Allah, sesama manusia, dan masa depan bersama.
Lawatan apostolik ke Madrid, Barcelona, dan Kepulauan Canary pada 6–12 Juni 2026 menjadi salah satu perjalanan internasional paling penting pada awal masa kepausan Leo XIV. Selain bertemu Raja Felipe VI, Ratu Letizia, Perdana Menteri Pedro Sánchez, dan Parlemen Spanyol, Paus juga mengunjungi proyek sosial untuk kaum miskin, berdialog dengan kaum muda, serta meresmikan Menara Yesus Kristus di Basilika Sagrada Familia yang bertepatan dengan 100 tahun wafatnya Antoni Gaudí.
Lebih dari sekadar agenda diplomatik dan seremonial, kunjungan ini merupakan teks sosial yang kaya makna teologis, filosofis, etis, politik, dan pastoral. Ia mengandung pesan yang sangat relevan tidak hanya bagi Spanyol dan Eropa, tetapi juga bagi Gereja universal, termasuk Indonesia.
Mengangkat Pandangan: Sebuah Seruan Teologis dan Biblis
Tema “Angkatlah Pandanganmu” memiliki akar yang sangat kuat dalam Kitab Suci. Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Angkatlah matamu dan lihatlah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yohanes 4:35).
Perintah untuk mengangkat pandangan merupakan undangan untuk melihat realitas dari perspektif Allah. Dalam tradisi biblis, dosa sering kali membuat manusia menunduk pada dirinya sendiri. Santo Agustinus menyebut dosa sebagai incurvatus in se, manusia yang melengkung ke dalam dirinya sendiri (Augustine, Confessions, sekitar tahun 400).
Sebaliknya, iman mengangkat manusia keluar dari keterkungkungan ego menuju relasi dengan Tuhan dan sesama. Dalam konteks kunjungan Paus Leo XIV, ajakan ini memiliki tiga dimensi teologis.
Pertama, mengangkat pandangan kepada Allah. Dunia modern sering terjebak dalam apa yang disebut Charles Taylor dalam A Secular Age (2007) sebagai “immanent frame”, yakni cara berpikir yang hanya mengakui realitas duniawi dan menyingkirkan dimensi transenden.
Kedua, mengangkat pandangan kepada sesama manusia. Dalam banyak kesempatan selama kunjungannya, Paus menekankan solidaritas dengan migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan. Ia mengunjungi proyek sosial bagi tunawisma di Madrid sebagai tanda bahwa Gereja tidak boleh menjadi institusi yang hanya berbicara tentang surga tetapi mengabaikan penderitaan manusia di bumi.
Ketiga, mengangkat pandangan kepada masa depan. Dalam bahasa teologi, harapan bukan optimisme kosong. Harapan adalah kebajikan ilahi yang memungkinkan manusia tetap percaya pada karya Allah meskipun situasi tampak gelap.
Sebagaimana ditulis Paus Benediktus XVI dalam Spe Salvi (2007), manusia hidup karena harapan. Karena itu, tema “Angkat Pandanganmu” sesungguhnya merupakan spiritualitas harapan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.
Madrid: Antara Demokrasi, Migrasi, dan Martabat Manusia
Pemilihan Madrid sebagai titik awal kunjungan bukan kebetulan. Madrid adalah simbol politik Spanyol modern. Di kota ini Paus bertemu Raja Felipe VI, berbicara di hadapan parlemen, bertemu pemerintah, dan memimpin Misa raksasa yang dihadiri lebih dari satu juta umat. Secara politis, kunjungan ini berlangsung dalam konteks meningkatnya polarisasi politik Eropa.
Migrasi menjadi isu yang sangat sensitif. Gelombang migran dari Afrika dan Timur Tengah telah memicu perdebatan keras mengenai identitas nasional, keamanan, dan hak asasi manusia. Di sinilah suara Paus menjadi penting.
Leo XIV menegaskan bahwa martabat manusia tidak boleh ditentukan oleh status kewarganegaraan, ras, agama, atau asal-usul. Ia mengkritik kecenderungan eksklusivisme politik dan menegaskan bahwa iman Kristen harus diwujudkan dalam pelayanan kepada mereka yang rentan.
Dari perspektif filsafat politik, pesan ini mengingatkan pada pemikiran Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958). Arendt menegaskan bahwa kemanusiaan sejati lahir ketika manusia mampu hadir dalam ruang publik sebagai sesama yang setara. Migran bukan ancaman; mereka adalah manusia yang memiliki hak untuk diakui.
Dari perspektif etika, Leo XIV menghidupkan kembali prinsip dasar ajaran sosial Gereja: human dignity atau martabat manusia. Menurut Jacques Maritain (The Rights of Man and Natural Law, 1943), hak asasi manusia tidak berasal dari negara, melainkan dari kodrat manusia yang diciptakan Allah. Karena itu, negara yang menolak martabat migran sebenarnya sedang menolak fondasi moralnya sendiri.
Secara yuridis, pesan Paus sejalan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 serta berbagai instrumen hukum internasional yang menegaskan perlindungan terhadap pengungsi dan migran. Dengan demikian, Madrid menjadi panggung tempat Gereja menunjukkan bahwa iman Kristen tidak boleh dipisahkan dari perjuangan bagi keadilan sosial.
Barcelona dan Sagrada Familia: Ketika Iman Bertemu Keindahan
Puncak simbolis kunjungan Paus terjadi di Barcelona. Di sana Leo XIV meresmikan Menara Yesus Kristus di Basilika Sagrada Familia yang selesai tepat pada peringatan seratus tahun wafat Antoni Gaudí.
Peristiwa ini jauh melampaui urusan arsitektur. Sagrada Familia adalah salah satu manifestasi paling agung dari dialog antara iman dan budaya. Gaudí memahami bahwa keindahan bukan sekadar estetika, sebagaimana keindahan gaya tiki-taka permainan raksasa bola kaki Catalan, FC Barcelona.
Keindahan adalah jalan menuju Allah. Hans Urs von Balthasar dalam The Glory of the Lord (1982) menyatakan bahwa keindahan merupakan salah satu jalan utama pewahyuan ilahi. Manusia modern mungkin tidak lagi mendengarkan khotbah, tetapi masih dapat disentuh oleh keindahan.
Dalam perspektif filosofis, Sagrada Familia adalah kritik diam terhadap utilitarianisme modern. Ketika banyak bangunan dibangun demi efisiensi ekonomi, Gaudí membangun sebuah “katedral harapan” selama lebih dari satu abad. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat diukur dengan keuntungan material.
Dari perspektif antropologis, manusia adalah homo symbolicus. Ernst Cassirer dalam An Essay on Man (1944) menjelaskan bahwa manusia hidup melalui simbol. Katedral bukan hanya bangunan. Ia adalah simbol pencarian makna yang melampaui kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks sekularisasi Eropa yang semakin kuat, peresmian Menara Yesus Kristus Sagrada Familia merupakan pesan bahwa agama belum kehilangan relevansinya. Meskipun angka keanggotaan Gereja menurun di Spanyol, kebutuhan manusia akan makna tetap tidak pernah hilang. Karena itu, Barcelona menunjukkan bahwa evangelisasi masa depan tidak hanya membutuhkan argumen teologis, tetapi juga kesaksian keindahan.
Kaum Muda, Krisis Makna, dan Psikologi Harapan
Salah satu agenda penting kunjungan ini adalah pertemuan besar dengan kaum muda yang dipuncaki dengan perarakan dan pentakhtaan Sakramen Mahakudus. Pilihan tersebut menunjukkan kepekaan Leo XIV terhadap salah satu krisis terbesar zaman ini: krisis makna.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa generasi muda mengalami tingkat kecemasan, kesepian, dan depresi yang semakin tinggi. Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghasilkan kebahagiaan. Dalam pesannya kepada kaum muda, Paus mengingatkan bahaya disinformasi, ilusi media sosial, dan pentingnya mencari kebenaran.
Dari perspektif psikologi eksistensial, Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946) menegaskan bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan apabila menemukan makna hidup. Krisis terbesar generasi muda bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya orientasi. Mereka hidup di tengah banjir data tetapi mengalami kelaparan makna.
Tema “Angkatlah Pandanganmu” menjadi sangat relevan. Ia mengajak kaum muda untuk tidak terjebak dalam budaya instan. Mengangkat pandangan berarti berani bermimpi, membangun cita-cita, dan melihat kehidupan sebagai panggilan.
Dalam perspektif pastoral, pendekatan Leo XIV menarik karena tidak bersifat moralistis. Ia tidak sekadar mengutuk budaya digital. Sebaliknya, ia mengajak kaum muda menjadi agen perubahan. Pendekatan ini sejalan dengan visi Paus Fransiskus dalam Christus Vivit (2019) bahwa orang muda bukan hanya masa depan Gereja, tetapi juga masa kini Gereja. Karena itu, kunjungan ke Madrid dan Barcelona memperlihatkan model evangelisasi yang dialogis, inklusif, dan penuh harapan.
Gereja sebagai Jembatan: Relevansi bagi Dunia dan Indonesia
Secara historis, kunjungan ini memiliki arti penting. Ini merupakan kunjungan paus pertama ke Spanyol dalam sekitar lima belas tahun terakhir dan terjadi pada masa relasi Gereja–negara sedang mengalami transformasi besar. Spanyol saat ini menghadapi berbagai isu kontroversial: aborsi, eutanasia, migrasi, identitas nasional, sekularisasi, dan hubungan antara agama dan negara.
Dalam situasi demikian, Leo XIV tidak datang untuk memperdalam konflik. Ia datang sebagai pembangun jembatan. Di sinilah letak kekuatan diplomasi Vatikan. Joseph Nye dalam Soft Power (2004) menjelaskan bahwa pengaruh terbesar tidak selalu berasal dari kekuatan militer atau ekonomi, melainkan dari daya tarik moral. Kepausan adalah salah satu bentuk soft power paling kuat di dunia. Paus tidak memiliki tentara. Tetapi kata-katanya mampu memengaruhi jutaan orang.
Secara praksis pastoral, kunjungan ini menunjukkan beberapa prioritas Gereja masa kini: Gereja harus hadir di tengah kaum miskin dan migran, Gereja harus berdialog dengan negara tanpa kehilangan identitas profetisnya, Gereja harus berbicara kepada kaum muda dengan bahasa yang mereka pahami, Gereja harus merawat budaya dan keindahan sebagai sarana evangelisasi, dan Gereja harus menjadi saksi harapan di tengah dunia yang cenderung pesimis.
Pesan ini sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai bangsa plural yang menghadapi tantangan intoleransi, polarisasi politik, kesenjangan sosial, dan krisis kepercayaan publik, Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok.
Kita membutuhkan pemimpin agama yang mampu menginspirasi dialog, bukan permusuhan. Kita membutuhkan Gereja yang hadir bagi masyarakat, bukan hanya bagi dirinya sendiri. Kita membutuhkan iman yang tidak hanya sibuk menjaga identitas, tetapi juga memperjuangkan martabat manusia.
Penutup: Menara yang Menunjuk ke Langit
Peresmian Menara Yesus Kristus di Sagrada Familia mungkin menjadi simbol paling kuat dari seluruh kunjungan ini. Menara selalu menunjuk ke atas. Ia mengingatkan manusia bahwa hidup tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri.
Di tengah dunia yang sering menundukkan manusia pada ketakutan, kebencian, dan kepentingan sempit, Paus Leo XIV datang membawa pesan sederhana namun revolusioner: angkatlah pandanganmu. Lihatlah Allah yang tetap bekerja dalam sejarah. Lihatlah sesamamu yang membutuhkan solidaritas. Lihatlah masa depan yang masih mungkin dibangun bersama.
Pada akhirnya, kunjungan apostolik ke Madrid dan Barcelona bukan hanya perjalanan seorang paus ke sebuah negara. Ia adalah ziarah harapan bagi dunia yang sedang mencari arah. Dan mungkin, di tengah kelelahan peradaban modern, itulah pesan yang paling dibutuhkan manusia saat ini. (*)