Renungan Harian Katolik
Sabtu 13 Juni 2026
PW Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria
KETIKA BERJALAN SENDIRI TANPA TUHAN
(Yes. 61:9-11; Mzm. 1Sam. 2:4-5.6-7.8abcd; Luk. 2:41-51).
"Karena mereka menyangka bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya..." (Luk. 2:44).
Dunia terus berkembang, kebutuhan fisik pun beragam. Tuntutan pemenuhan kebutuhan material yang tak terkontrol itu, kadang membuat kita menjadi budak bagi diri sendiri.
Ritme hidup harian untuk kepentingan jasmani jauh lebih dominan ketimbang kebutuhan rohani.
Hari-hari wajib untuk ada bersama Tuhan dalam aktivitas rohani baik individu, keluarga, kombas, lingkungan, wilayah, paroki tak dihiraukan lantaran tak ada waktu.
Bersilat lidah dalam prasangka pembelaan diri bahwa Tuhan ada menyertai tanpa pembuktian, menjadi alasan klasik banyak umat beriman.
Godaan meninggalkan Tuhan dan berjalan sendiri menjadi fenomena yang biasa dalam hidup harian. Dunia memacu kita dengan banyak tawaran menarik yang membuat kita lupa diri dan Tuhan.
Maria dan Yusuf mengalami ketinggallan Tuhan. Karena prasangka dan diperkuat oleh keasyikan urusan manusiawi yang lebih menarik, Yesus dibiarkan tertinggal di Yerusalem.
Risiko berjalan sehari suntuk tanpa Tuhan bagi Maria dan Yusuf, mereka harus membayarnya dalam tiga hari pencarian yang melelahkan sebelum menemukan Yesus.
Sesuai pengalaman pribadi dan keluarga, sudah berapa lamakah berjalan sendiri tanpa Tuhan?
Berjalan sendiri tanpa Tuhan, kecemasan, kebimbangan dan ketakutan pasti menghantui. Sesibuk apa pun dalam hidup, Tuhan tetap tujuan final yang tak terbantahkan.
Bersama Tuhan atau menemukan-Nya kembali membawa berkat dan banyak kekaguman dalam hidup.
Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, kadang terjebak pada daya tarik dewa-dewi dan memilih meninggalkan Allah.
Kesetiaan pada iman sebagai umat pilihan banyak berkat turun atas hidup.
Tandanya ialah Tuhan menaungi dengan pakaian kebenaran dan jubah keselamatan.
Ketika ada bersama Tuhan, orang beriman akan mengalami hal ini, "Aku bersukacita di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran." (Yes. 61:10).
Berpegang teguh pada perintah Tuhan sudah pasti menjadi turunan yang diberkati.
Banyak keluarga masih tertinggal dalam menggapai berkat Tuhan ini. Hidup konflik, terpecah, bertikai, dan berjalan sendiri tanpa Tuhan.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Tuhan berkuasa mematikan dan menghidupkan, Tuhan membuat miskin dan membuat kaya, Ia merendahkan dan meninggikan juga." (1Sam. 2:6-7).
Jika Tuhan berkuasa atas seluruh hidup mengapa Tuhan tak dilibatkan dalam seluruh ritme hidup kita?
Kekuatan ada ketika berjalan bersama Tuhan dan bersatu dengan Tubuh Kristus, perpecahan yang mengakar dalam kebersamaan karena dosa bisa ditangkal.
Dalam hati Santa Perawan Maria yang tak bernoda, selain menjadi tempat Roh Kudus, kita pun berkat doanya, mengambil bagian dalam penebusan kekal.
Bukti kasih Tuhan yang sempurna dalam hidup: menenukan sukacita sejati yakni keselamatan dan kebahagiaan. Berjalanlah bersama Tuhan.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Sabtu/Pekan Biasa X/A/II, 130626)