Brasil Andalkan Vinicius Jr untuk Inspirasi di Piala Dunia - Namun Rekor Buruk Bintang Real Madrid Bersama Selecao Harus Diperbaiki Jika Ingin Raih Gelar Keenam pada 2026
Hendra Wijaya June 13, 2026 10:31 AM

JANGAN LEWATKAN SEDETIK PUN DARI PIALA DUNIA


Brasil kini menaruh harapan besar kepada Vinicius Jr untuk menjadi sumber inspirasi di Piala Dunia, meski catatan buruk sang bintang Real Madrid bersama Selecao harus segera dibenahi jika mereka ingin bersaing merebut gelar keenam pada tahun 2026.


Vinicius Jr pernah berjanji bahwa ia akan melakukannya “10 kali lipat” jika memang diperlukan. Ucapan itu ia lontarkan setelah gagal memenangi Ballon d'Or 2024 meski menjalani musim individu yang luar biasa. Secara objektif, pemain asal Brasil tersebut memang punya klaim yang kuat untuk trofi itu — Rodri mungkin pantas mendapatkannya, namun tak banyak yang akan keberatan jika Vinicius yang mengangkat Bola Emas tersebut.


Tak ada yang salah dengan performa Vinicius di level klub — yang luar biasa sepanjang musim dan menghasilkan gelar ganda La Liga serta Liga Champions bersama Real Madrid — hingga menghalanginya meraih penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola. Justru, performanya di tim nasional menjadi faktor utama yang membuat peluang itu sirna.


Brasil sangat membutuhkan performa terbaik dari winger cepat Madrid itu di Copa America 2024. Namun, ia malah terkena larangan bermain akibat akumulasi kartu kuning dan harus absen di laga perempat final melawan Uruguay. Brasil akhirnya tersingkir lewat adu penalti. Vinicius hanya bisa menonton dari pinggir lapangan dan mengakui tanggung jawab atas kegagalan timnya.


Turnamen itu seharusnya menjadi momen spesialnya bersama Brasil, namun kesempatan itu terlewat. Dua tahun berlalu tanpa satupun Ballon d'Or, kini tiba saatnya Piala Dunia. Vinicius tetap menjadi andalan utama Brasil (meskipun Neymar kembali ke skuad). Dia masih dianggap salah satu pemain paling berbakat di dunia. Sekali lagi, harapan seluruh bangsa kembali bertumpu di pundaknya. Kini terasa seperti saat di mana ia harus benar-benar tampil gemilang untuk mengukuhkan dirinya sebagai salah satu legenda sejati negaranya.


Catatan Modest di Timnas Brasil


Perjalanan Vinicius di level klub menunjukkan peningkatan yang konsisten setiap tahun. Ia datang ke Madrid dalam kondisi mentah, belum teruji, bahkan sempat tidak disukai oleh salah satu pemain terbaik tim. Dalam beberapa musim, ia berkembang menjadi pemain terbaik La Liga, seorang Galactico sejati, dan masuk dalam perbincangan pemain terbaik dunia. Semua ini adalah hal yang lazim bagi pemain hebat — berkembang seiring waktu.


Namun di tim nasional Brasil, transformasi dari pemain bagus menjadi luar biasa belum pernah terjadi. Faktanya, ia nyaris tak pernah memberikan dampak signifikan bagi negaranya. Dalam 49 penampilan, Vinicius baru mencetak sembilan gol. Enam di antaranya tercipta di laga persahabatan. Dua dari tiga lainnya terjadi saat Brasil membantai Paraguay di fase grup Copa America. Ia juga mencatat sembilan assist, namun hanya dua di antaranya datang di turnamen resmi. Begitu lampu sorot tertuju pada seragam kuning Brasil, Vinicius seakan kehilangan sentuhannya.


Salah satu penyebabnya, tentu saja, adalah faktor taktik. Ketika Neymar sering absen karena cedera, Vinicius harus memikul tanggung jawab besar untuk menjadi sumber kreativitas utama. Lawan pun tahu cara menghadapinya: menggandakan penjagaan dan mengasarinya setiap kali menyentuh bola. Ia jarang mendapat ruang, frustrasi datang, dan ketajamannya menurun.


Harus Meningkatkan Performa


Masalah itu mungkin tidak terlalu besar jika Brasil masih memiliki sederet bintang dengan kualitas serupa. Dahulu, Selecao selalu dipenuhi pemain top. Jika Ronaldinho berhasil dihentikan, masih ada Ronaldo Nazario. Jika Kaka diredam, muncul Adriano di masa jayanya. Kini, kedalaman skuat seperti itu sudah tidak ada.


Neymar, di sisi lain, memang pernah menjadi bintang tunggal. Layak dipertanyakan, bagaimana jadinya Piala Dunia 2014 jika ia tidak mengalami cedera punggung. Dan terlepas dari segala kekurangannya — di dalam maupun di luar lapangan — Neymar selalu tampil di momen penting untuk Brasil. Tidak heran ia melampaui rekor gol Pele sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk negaranya.


Namun kini Neymar menua dan rentan cedera. Robekan ACL pada Oktober 2023 menjadi awal dari kemunduran kariernya. Meski sempat menunjukkan performa positif saat kembali ke klub masa kecilnya, Santos, cedera otot yang berulang membatasi kontribusinya. Walau tetap dipanggil ke skuad Brasil tahun ini, cedera betis membuatnya diragukan tampil di laga pembuka melawan Maroko.


Kepada Siapa Lagi Brasil Mengandalkan?


Karena itu, Vinicius harus memikul beban itu sendirian — setidaknya untuk membuktikan bahwa ia mampu. Meski demikian, Brasil masih memiliki talenta muda yang siap menunggu giliran. Raphinha, misalnya, ingin menjadikan turnamen ini ajang pembuktian dirinya. Ia tahu betul bagaimana rasanya menghadapi tekanan besar di Piala Dunia.


“Tekanannya sangat tinggi. Dan tentu saja, mewakili negara Anda adalah hal yang istimewa. Ini adalah tim nasional dengan jumlah gelar terbanyak di dunia,” ujarnya kepada GOAL pada bulan April. “Mewakili seluruh bangsa menuntut pengorbanan luar biasa dari para pemain, dan itu merupakan kehormatan.”


Pemain Barcelona itu memang selalu menjadi opsi kedua yang elit, bukan bintang utama. Ia sempurna sebagai pelengkap, seperti perannya terhadap Lamine Yamal. Ia mampu memberi gol dan assist, namun lebih cocok sebagai bagian dari sistem yang bekerja dengan baik. Selain itu, ada juga Endrick yang kembali bersinar setelah menjalani masa pinjaman sukses di Lyon. Sementara Estevao, yang sedang memulihkan diri dari cedera hamstring parah, diprediksi akan menjadi bintang masa depan. Bahkan Rodrygo, yang absen karena cedera, masih berpotensi memberi kontribusi besar di masa datang.


Para legenda pun tak ragu memberi dukungan kepada Vinicius.


“Vinicius menjalani musim yang sangat bagus. Tantangan di Real Madrid adalah: jika kamu tidak menang, maka itu dianggap musim yang mengecewakan. Vinicius mencetak banyak gol dan bermain sangat baik. Namun Madrid tak memenangkan apa pun,” ujar Kaka kepada GOAL bulan lalu. “Jadi semua orang menyebutnya gagal.”


Perdebatan Serupa di Tahun 2024


Masalahnya, perbincangan serupa sudah terjadi pada 2024. Saat itu, Neymar sudah pasti absen. Endrick masih mentah. Raphinha belum benar-benar menemukan kembali performa terbaiknya di Barcelona (bahkan sempat dikaitkan dengan kepindahan). Namun di turnamen tersebut, Raphinha tampil menonjol. Ia menjadi starter di empat pertandingan dan mengakhiri paceklik gol empat tahun bersama Selecao. Meski sorotan tidak sebesar biasanya, di Amerika Serikat ia menunjukkan potensi besar yang ia miliki.


Sementara Vinicius, meski mencetak dua gol dalam tiga pertandingan, tak benar-benar tampil efektif. Ia tampil buruk di laga pembuka yang berakhir imbang tanpa gol melawan Kosta Rika. Ia kemudian tampil luar biasa melawan Paraguay dan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.


Namun saat menghadapi Kolombia, ia melakukan pelanggaran keras terhadap James Rodriguez. Wasit memberinya kartu kuning hanya tujuh menit setelah kickoff. Vinicius bermain 83 menit berikutnya dengan sadar bahwa ia akan absen di laga berikutnya. Ia gagal mencetak gol, dan Brasil jelas merindukan kehadirannya — dalam bentuk apa pun — di babak perempat final.


“Saya membuat kesalahan dengan menerima dua kartu kuning yang bisa dihindari. Sekali lagi, saya menyaksikan eliminasi dari pinggir lapangan. Tapi kali ini, itu kesalahan saya. Saya minta maaf atas hal itu,” ucapnya setelah turnamen.


Ancelotti dan Alasan untuk Optimisme?


Meski begitu, ada alasan untuk percaya bahwa situasi bisa berbeda tahun ini. Carlo Ancelotti kini memegang kendali tim nasional Brasil dan tampak menjadi sosok yang sangat tepat untuk Vinicius — terutama karena ia mampu mengeluarkan performa terbaik sang pemain saat di Madrid.


Sang pelatih berusaha menanamkan rasa percaya diri besar kepada winger andalannya itu. Ia bahkan mengatakan pada hari Kamis bahwa Vinicius memiliki “bakat istimewa seperti para legenda besar Brasil,” dan terus menegaskan keyakinannya bahwa sang pemain akan bersinar di Piala Dunia.


Vinicius pun sadar betul bahwa ia butuh turnamen yang solid. “Jika saya pergi ke Piala Dunia, mencetak empat atau lima gol, dan kami menjadi juara, maka seluruh cerita akan berubah. Orang-orang akan mengatakan bahwa saya memang mempersiapkan diri untuk Piala Dunia sejak awal, bahkan di pertandingan-pertandingan di mana saya bermain buruk,” ujarnya bulan lalu.


Tekanan Berkurang


Namun di sisi lain, turnamen kali ini bisa menjadi kesempatan tanpa beban. Jika kita menyusun daftar favorit, mungkin Brasil tidak termasuk di dalamnya. Mereka memang sedikit tertinggal dibandingkan Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina. Keuntungan mungkin hanya datang dari adaptasi terhadap kondisi musim panas, namun kualitas skuat mereka tak sehebat generasi sebelumnya.


Dan mungkin, justru itu pendekatan terbaik. Di Copa America, Brasil selalu diharapkan menang. Piala Dunia pun membawa ekspektasi besar, tapi kali ini ada pemahaman bahwa mereka sedang dalam masa transisi di bawah Ancelotti.


Jika memang demikian, mungkin 40 hari ke depan bisa menjadi saatnya Vinicius benar-benar menunjukkan kekuatannya. Ketika pemain lain cedera atau belum siap, inilah kesempatan bagi Vini untuk menjadikan musim panas ini miliknya.


Sejauh mana Brasil akan melangkah di Piala Dunia kali ini?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.