Rakyat Iran Sudah Muak dengan Pola Konflik: Malam Dihantui Bom, Pagi Disuguhi Negosiasi
SERAMBINEWS.COM - Ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya menjadi persoalan geopolitik di tingkat internasional, tetapi juga menghadirkan tekanan psikologis dan ekonomi yang semakin berat bagi masyarakat sipil Iran.
Pergantian situasi yang cepat antara perang senajata dan peluang diplomasi membuat jutaan warga hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan.
Dalam beberapa pekan terakhir, warga Iran kerap dihadapkan pada situasi yang berubah hanya dalam hitungan jam.
Di satu sisi, ancaman serangan militer dari Amerika Serikat terus membayangi. Namun di sisi lain, pernyataan mengenai kemajuan negosiasi damai sesekali memberikan harapan bahwa konflik dapat dihindari.
Perubahan situasi itu kembali terlihat pada Kamis, 11 Juni 2026 lalu.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Iran dan bahkan disebut menguraikan rencana untuk merebut Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran.
Namun hanya beberapa jam kemudian, Trump membatalkan rencana serangan udara tersebut dengan alasan adanya perkembangan positif dalam proses negosiasi.
Menurutnya, rincian perjanjian tersebut telah disetujui oleh AS dan sekutu regionalnya, termasuk Israel.
Baghaei mengatakan bahwa Qatar dan Pakistan "secara aktif bertindak sebagai mediator," tetapi menambahkan bahwa tindakan AS memengaruhi proses diplomatik.
"Sejak awal, kami sudah jelas mengenai posisi negosiasi kami, dan sebagian besar draf perjanjian telah diselesaikan. Namun, pihak AS terus mengubah posisinya," katanya.
Bagi banyak warga sipil Iran, perubahan terus-menerus antara rasa takut dan lega, kecemasan dan harapan, telah mengikis emosi mereka.
Banyak yang mendambakan perang segera berakhir, dengan cara apa pun.
"Mereka perang di malam hari dan berhenti di pagi hari, ini konyol. Entah mereka berperang atau berhenti. Kami sudah sangat lelah dengan ini," kata Vahid, seorang warga Teheran berusia 37 tahun.
Meskipun terus-menerus mendapat tekanan dari AS, kepemimpinan Iran tetap sangat teguh.
Vali Nasr, seorang sejarawan Iran dan profesor studi Timur Tengah di Universitas Johns Hopkins, mengatakan bahwa sementara para pemimpin Teheran sebelumnya menunjukkan lebih banyak pengendalian diri.
“Kepemimpinan baru percaya bahwa kesabaranlah yang membawa Iran ke dalam konflik,"katanya.
Reza, seorang eksekutif perusahaan berusia 48 tahun, mengatakan bahwa dia dan istrinya telah memutuskan untuk mencari perlindungan di bagian utara negara itu dan menunggu perang ini benar-benar berakhir.
Dia khawatir AS mungkin akan menyerang infrastruktur sipil, seperti yang telah berulang kali diancam oleh Presiden Trump.
"Pekerjaan terhenti, bisnis lumpuh karena fluktuasi harga, rasanya seperti hidup kita sedang tertunda," kata Reza.
Selain kekhawatiran akan keselamatan jika terjadi konflik skala penuh antara kedua pihak, banyak warga Iran juga khawatir bahwa jika kebuntuan saat ini berlanjut, ekonomi mereka yang sudah kesulitan akan runtuh.
Mereka mengatakan bahwa jika blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran berlanjut, kehidupan akan menjadi lebih sulit.
Dalam unggahan yang mengumumkan pembatalan serangan udara tersebut, Trump menyatakan bahwa blokade pelabuhan Iran akan "tetap berlaku" hingga kedua pihak mencapai kesepakatan.
Mahasti, seorang warga Teheran berusia 65 tahun yang bekerja di sektor kesehatan, mengatakan bahwa situasinya sama buruknya dengan bom yang jatuh, karena gangguan perdagangan dan pengurangan pendapatan minyak Iran secara bertahap mengikis kehidupan masyarakat.
"Kehidupan kita semakin sulit. Jika bukan perang, itu sanksi atau blokade. Selalu ada saja masalah," katanya.
Dalam pidato pada upacara peringatan mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei baru-baru ini, Presiden Masoud Pezeshkian mengakui bahwa situasi saat ini tidak dapat terus berlanjut.
"Kita harus membebaskan diri dari keadaan yang bukan perang maupun damai ini. Perang jelas tidak menguntungkan negara," katanya, seraya menambahkan bahwa serangan dari pihak musuh tidak dapat memaksa Iran untuk menyerah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Baghaei menegaskan kembali pendirian tegas Iran terkait konflik tersebut, menyatakan bahwa negara itu "tidak akan berkompromi dengan apa yang telah ditetapkan sebagai garis merahnya."
Mengomentari tindakan dan pernyataan AS baru-baru ini, analis Al Jazeera Kimberly Halkett berpendapat bahwa Trump tampaknya menggunakan tekanan militer dan retorika keras dalam upaya memaksa Iran untuk mencapai kesepakatan.
"Yang jelas adalah presiden AS terus menggunakan unggahan di Truth Social untuk menggabungkan ancaman publik dengan apa yang menurutnya masih dapat dicapai, yaitu diplomasi melalui tekanan militer," kata Halkett.
Abas Aslani, seorang peneliti senior di Center for Strategic Middle East Studies, meyakini bahwa pemerintahan Trump "ingin meningkatkan ketegangan untuk mendapatkan pengaruh di meja perundingan guna memaksa Teheran menerima konsesi yang sebelumnya telah ditolaknya."
Sementara itu, Teheran tertarik untuk "memulihkan kemampuan pencegahannya" untuk menangkal serangan lebih lanjut terhadap negara tersebut.
"Bagi Iran, ini juga sangat penting karena respons sebelumnya terhadap serangan AS tidak cukup untuk menjamin bahwa mereka tidak akan membom Iran lagi,”
“ Itulah mengapa mereka mungkin meningkatkan eskalasi untuk memaksa pihak lain untuk menurunkan ketegangan," kata Aslani.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)