SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Sebuah tragedi memilukan menimpa pasangan suami istri lanjut usia (lansia) asal Bubutan yang tercebur ke dalam lubang proyek gorong-gorong sedalam 2,5 meter di Jalan Margorejo Indah, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (12/6/2026) malam.
Minimnya lampu penerangan jalan dan renggangnya pembatas water barrier, membuat motor yang dikendarai korban langsung terjungkal ke dasar lubang proyek saluran air tersebut, yang lokasinya tepat di sisi barat Mal Plaza Marina.
Insiden maut ini, mengakibatkan sang istri, LE (69), meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah karena terbentur beton bangunan.
Peristiwa memilukan terjadi sekitar pukul 19.45 WIB, berawal ketika pasutri lansia berboncengan mengendarai sepeda motor jenis bebek.
Saat terperosok bersama motornya, pengendara laki-laki dikabarkan masih dalam keadaan sadar.
Sebaliknya, tubuh sang istri sama sekali tidak bergerak atau tidak sadarkan diri di dalam lubang, hingga petugas penyelamatan serta tim medis tiba di lokasi kejadian.
Baca juga: Lansia Asal Wagir Malang Ditemukan Meninggal Dunia di dalam Sumur, Sempat Hilang Selama Sehari
Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, pasutri tersebut tinggal di kawasan Kawatan, Bubutan, Surabaya. Motor yang mereka kendarai adalah Honda Supra X bernopol L-5478-AAE.
Pasca-kecelakaan tersebut, sang istri, LE meninggal dunia, dan sang suami berinisial EP (65) hanya mengalami luka ringan.
Seorang petugas keamanan pusat perbelanjaan berinisial SO menceritakan kedua korban memang pasutri lansia.
Sang istri dikabarkan mengembuskan napas terakhir tepat setelah berhasil dievakuasi dari lubang dan mendapatkan penanganan medis di lokasi.
"Nah, yang laki-lakinya kan enggak mau naik itu karena lihat istrinya di dalam. Fokus ke istrinya. gitu Sebenarnya tadi kan ada medis juga yang ngecek itu benar-benar meninggal dunia," ujar SO saat ditemui di lokasi, pada Jumat (12/6/2026) malam.
Baca juga: Gendam Nekat di Madiun Sasar Rumah Lansia, Harta Rp30 Juta Mbah Kadinem Raib Termasuk Emas 18 Gram
Saksi lain yang merupakan petugas parkir minimarket, Nanang Budi Santoso (44), menerangkan pemotor tersebut awalnya melaju dari arah timur kawasan Jalan Margorejo Indah menuju ke arah barat kawasan Jalan A Yani.
Setibanya di lokasi, motor korban langsung tercebur ke dalam gorong-gorong. Warga dan pengendara lain yang berada di dekat lokasi sempat berusaha menolong, namun upaya itu gagal akibat sulitnya medan.
Menurut Nanang, korban sempat terjebak di dalam gorong-gorong selama hampir satu jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas kedaruratan dari Pemkot Surabaya.
"Kondisinya tadi enggak kelihatan, soalnya gelap, yang laki-laki tadi berdiri, ada yang perempuan kan ada airnya tadi soalnya. Jadi enggak kelihatan. Sudah ada yang masuk ke dalam pengin nolongin tapi juga enggak bisa. Sudah berusaha pakai tampar juga enggak ngatasi. Enggak kuat," kata Nanang alias Budi saat ditemui di lokasi.
Nanang sempat melihat sang suami terus bertahan di dalam kubangan air lubang gorong-gorong demi memastikan kondisi istrinya.
Namun, begitu tubuh sang istri berhasil diangkat ke atas untuk dievakuasi ke rumah sakit terdekat, tangis sang suami langsung pecah sejadi-jadinya meratapi kondisi belahan jiwanya yang sudah terbujur kaku tak berdaya.
"Bagaimanapun korban enggak bergerak di dalam, langsung semamput kayaknya, mungkin kena cor-coran. Keduanya keliatannya luka. Soalnya enggak kelihatan, gelap. Banyak pakai sentolop HP, buat penerangan HP. Kayaknya nangis (saat setelah dievakuasi)," jelas pria asal Madiun itu.
Pantauan di lokasi pada pukul 21.19 WIB menunjukkan area sekitar sudah steril dari aktivitas evakuasi karena korban telah dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya.
Di lokasi, hanya terlihat beberapa petugas BPBD Kota Surabaya yang baru saja merampungkan operasi penyelamatan.
Lubang gorong-gorong proyek rumah pompa Margorejo tersebut diperkirakan memiliki diameter sekitar lima meter dengan kedalaman 2,5 meter.
Di dasarnya, terdapat dua bilah susunan beton box culvert yang sudah saling terhubung dengan genangan air berwarna pekat kehitaman.
Mengenai penyebab kecelakaan, Nanang menduga kuat faktor utamanya adalah kondisi jalanan yang relatif kurang lampu penerangan.
Akibatnya, pengendara yang melaju dari arah timur tidak bisa melihat jelas adanya pembatas jalan di pinggiran lubang menganga tersebut.
Apalagi, pada pinggiran bibir lubang sebelah timur semula cuma dipasang tiga pembatas water barrier berwarna oranye agak renggang.
Bibir lubang baru tampak tertutup sepenuhnya setelah petugas BPBD menambahkan dua unit water barrier lagi pasca-kejadian.
"Mungkin gelap, jadi dari sana sudah banter, gelap, enggak kelihatan, akhirnya mau enggak mau, ngerim enggak kuat kan kena pasir Akhirnya nimpa ini gitu loh," terang Nanang.
Nanang menambahkan, pengerjaan proyek gorong-gorong di depan rumah pompa Margorejo ini sudah berlangsung selama satu bulan.
Seingatnya, sudah ada tiga kejadian kecelakaan di titik yang sama, dan insiden yang menimpa pasutri lansia ini adalah yang paling parah.
Dua kejadian sebelumnya terjadi beberapa pekan lalu, di mana pemotor hanya terjatuh akibat terpeleset pasir atau tanah hasil galian.
"Yang pertama kali itu nimpa ini itu jatuh. Mbak-mbak itu jatuh. Terus berapa kali jatuh lagi tapi enggak ke gorong-gorong masih di ini, Pasir-pasirnya. Ya, ini yang ketiga kali ini. Ya, kejadiannya malam malam semua. Ini paling parah," pungkasnya.
Suasana haru menyelimuti kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya sekitar pukul 22.30 WIB.
Sang suami, Edy Parlin alias EP tampak duduk setia di samping jenazah sang istri, yang terbujur kaku di atas ranjang.
Kedua jemari tangannya memegang erat pinggiran ranjang tersebut sambil menatap kosong ke arah jenazah istrinya.
Sesekali, bibir Edy tampak bergetar merapal kalimat panjang sembari mengangguk perlahan secara konstan, seolah-olah ia sedang larut dalam obrolan hangat berduaan dengan sang istri di dalam rumah mereka.
Edy sama sekali tidak menyangka, beberapa menit sebelum tragedi, ia dan istri tercinta masih asyik mengobrol hangat di atas motor dalam perjalanan pulang usai menjalani pemeriksaan medis rutin di RS Islam Jemursari Surabaya.
Namun dalam sekejap, laju motornya terperosok ke dalam lubang gelap hingga sang istri mengalami luka parah di kepala dan meninggal dunia.
"Namanya orang tua ya. Di tengah kami cerita-cerita, pelan-pelan. Itu di tengah-tengah itu, saya enggak tahu kok gelap. Enggak pas belokan, kan terus masih lurus itu. itu tengah-tengah itu," ujar Edy pilu saat ditemui di teras kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya.
Saat motor mereka terjungkal masuk ke dalam gorong-gorong, tubuh Edy sempat tertindih oleh kendaraannya sendiri.
Kendati demikian, Edy menghiraukan rasa sakitnya karena seluruh pikiran hanya tertuju pada keselamatan sang istri yang terbentur beton dan tak sadarkan diri.
"Nah, itu saja ada itu langsung sudah saya sadar. Loh. Jatuh saya terus saya cari istri saya; ma, ma, enggak ada. Ternyata kendaraan itu ada di atas saya. Jadi saya enggak bergerak, enggak bisa bergerak. Saya cari; loh istri saya di mana. Terus ada yang ngomong gitu. Lalu istri saya dibantulah," pungkasnya lirih.