Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta, Respons Terhadap Ancaman Risiko Baru Global
Hari Susmayanti June 13, 2026 11:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa sektor perasuransian memiliki peran strategis yang melampaui fungsi mitigasi, yakni sebagai pilar penopang perekonomian negara.

Penegasan ini menjadi sorotan utama dalam agenda konsolidasi industri asuransi nasional untuk menghadapi volatilitas global pada ajang Indonesia Insurance Summit (IIS) 2026 yang digelar di Yogyakarta, 11–13 Juni 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyoroti pentingnya reposisi cara pandang terhadap sektor asuransi dalam menjaga stabilitas dan resiliensi nasional.

"Bagi OJK, asuransi bukan semata instrumen pengelolaan risiko, tetapi bagian dari infrastruktur ekonomi nasional yang mendukung ketahanan masyarakat, keberlangsungan dunia usaha, dan stabilitas perekonomian," ujar Friderica Widyasari Dewi.

Pandangan otoritas ini sejalan dengan prospek pasar domestik yang masih sangat luas, didukung oleh populasi lebih dari 280 juta jiwa. 

Data OJK mencatat, hingga April 2026, total aset industri asuransi telah mencapai Rp1.202 triliun, tumbuh 3,39 persen secara tahunan (year-on-year).

Selain tantangan global, industri perasuransian nasional saat ini juga sedang memasuki fase krusial dalam transformasi struktural, terutama pasca-penerbitan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menilai IIS 2026 hadir pada momentum yang sangat penting untuk mengeksekusi berbagai agenda reformasi.

"Selama kurang lebih empat tahun terakhir, OJK telah berfokus membangun fondasi yang kuat bagi reformasi sektor perasuransian melalui empat pilar utama, yaitu penguatan permodalan dan pendalaman pasar, penguatan tata kelola dan manajemen risiko, penguatan ekosistem industri, serta penyelarasan dengan standar dan best practices internasional. Oleh karena itu, tahun 2026 kami pandang sebagai fase penting untuk memperkuat implementasi berbagai agenda reformasi yang telah dibangun," ujar Ogi Prastomiyono.

Baca juga: Menjaga Konsistensi Perawatan Estetika Alami Lintas Generasi

Pada tahun 2026, OJK memfokuskan kebijakannya pada penguatan permodalan tahap pertama, implementasi pemisahan unit syariah, penyusunan New Risk-Based Capital (New RBC), hingga persiapan Program Penjaminan Polis dan penguatan kerangka resolusi perusahaan.

Merespons tekanan global dan tuntutan regulasi tersebut, Dewan Asuransi Indonesia (DAI) bersama asosiasi perasuransian nasional mengangkat tema "Insurance in a Volatile World: Strengthening Resilience, Trust & Innovation" dalam perhelatan IIS 2026.

Sementara itu Ketua Umum DAI Yulius Bhayangkara menyoroti kompleksitas tantangan eksternal yang memaksa pelaku industri untuk bergerak cepat meninggalkan pendekatan bisnis konvensional.

"Industri perasuransian saat ini menghadapi lingkungan yang semakin kompleks. Ketidakpastian geopolitik, volatilitas pasar keuangan global, perubahan risiko akibat perkembangan teknologi, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap perlindungan dan pelayanan menuntut industri untuk terus bertransformasi. Indonesia Insurance Summit 2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan perspektif seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat ketahanan industri dan memastikan industri perasuransian Indonesia tetap relevan, dipercaya, dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional," ujar Yulius Bhayangkara.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Steering Committee IIS 2026 sekaligus Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menyatakan bahwa forum lintas sektor ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang diskusi, melainkan mampu membuahkan langkah-langkah kolaboratif.

"Tema ‘Insurance in a Volatile World: Strengthening Resilience, Trust & Innovation’ mencerminkan kondisi dunia saat ini. Risiko-risiko baru terus bermunculan, mulai dari perubahan iklim, risiko siber, disrupsi teknologi, hingga ketidakpastian ekonomi global. Pada saat yang sama, masyarakat menuntut perlindungan yang lebih baik dan layanan yang lebih cepat, mudah, dan transparan. Melalui Indonesia Insurance Summit 2026, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang produktif untuk menghasilkan gagasan, kolaborasi, dan langkah nyata dalam memperkuat daya saing industri perasuransian Indonesia di tingkat regional maupun global," kata Budi Herawan.

Pertemuan tahun ketiga ini turut menghadirkan pakar geopolitik, ekonom, serta perwakilan delegasi dari Korea Selatan dan Jepang. 

Berbagai topik mulai dari dinamika geopolitik, transformasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), hingga inovasi tata kelola dibahas secara komprehensif.

Sebagai puncak dari forum yang melibatkan Executive Leadership Forum dan Governance Leadership Forum ini, para pemimpin industri menargetkan perumusan Yogyakarta Charter 2026—sebuah dokumen komitmen bersama untuk memperkuat resiliensi, tata kelola yang baik, inovasi, pelindungan konsumen, serta inklusi asuransi secara nasional. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.