Pasca Gempa Marore: Tim Medis Sangihe Sisir 3 Pulau, Fokus Pemulihan Trauma dan Kesehatan Warga
Rizali Posumah June 13, 2026 11:22 AM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebagai wujud kehadiran negara di tengah musibah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe terus menggenjot penanganan pascagempa yang mengguncang wilayah Kecamatan Marore, Sangihe, Sulawesi Utara.

Tidak hanya menyalurkan bantuan logistik, Pemkab Sangihe juga menerjunkan langsung tim medis untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi warga di Pulau Kawio, Marore, hingga Matutuang.

Langkah ini dipimpin langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, untuk memastikan kondisi fisik dan mental masyarakat yang terdampak tetap terjaga di tengah masa tanggap darurat.

Kehadiran tim medis di lokasi bencana mendapat sambutan hangat dari warga setempat.

Koordinator Tim Kesehatan Pemkab Sangihe, dr. Dessy Handayani Jonhar, menjelaskan bahwa hingga Jumat (12/6/2026), antusiasme warga untuk memeriksakan diri sangat tinggi.

Data sementara mencatat sebanyak 150 warga telah menerima layanan medis.

“Ini belum rampung karena pelayanan masih berlangsung sampai siang. Saat ini sudah sekitar 150 pasien yang kami tangani di tiga kampung,” ujar dr. Dessy saat ditemui di sela pelayanan kesehatan di Lapangan GMIST Jemaat Nazareth Matutuang.

Tim medis yang bertugas mencatat karakteristik pasien yang sangat beragam, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia. dr. Dessy menjelaskan bahwa profil pasien di setiap pulau yang disinggahi memiliki dinamika yang berbeda.

“Kalau di Kawio lebih banyak pasien dewasa. Sedangkan di Marore kemarin jumlah anak-anak dan dewasa hampir seimbang,” katanya.

Khusus di Kampung Matutuang, tim kesehatan mendapati kebutuhan pelayanan yang lebih spesifik dengan banyaknya bayi yang diperiksakan.

“Hari ini ada sekitar empat bayi yang kami periksa. Selain bayi, ada juga anak-anak dan orang dewasa yang datang berobat,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, tim medis mengidentifikasi beberapa keluhan kesehatan yang paling sering dikeluhkan oleh penyintas gempa.

Gangguan pencernaan seperti asam lambung menjadi temuan dominan, yang diduga kuat berkaitan dengan perubahan pola makan selama masa darurat.

Selain itu, banyak warga yang mengeluhkan gejala pusing dan sakit kepala.

“Keluhan yang paling banyak adalah asam lambung. Kemungkinan karena pola makan yang berubah setelah bencana. Selain itu ada juga pusing dan sakit kepala yang mungkin dipengaruhi faktor stres,” jelasnya.

Selain masalah lambung, tim juga menemukan banyak warga dewasa dengan tekanan darah yang tidak stabil.

“Banyak juga pasien dewasa yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi,” tambahnya.

Ketika disinggung mengenai kaitan antara gejala-gejala fisik tersebut dengan trauma pascabencana, dr. Dessy tidak menampik kemungkinan adanya pengaruh psikologis.

“Bisa saja karena faktor traumatik akibat gempa yang mereka alami,” katanya.

Sebagai upaya mendukung pemulihan, Pemkab Sangihe turut menyalurkan bantuan berupa sembako, tikar, matras, terpal, hingga kebutuhan obat-obatan.

Bupati Michael Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari beserta jajaran Forkopimda terus memantau langsung proses penyaluran bantuan dan memastikan akses kesehatan masyarakat di kawasan perbatasan ini tetap terjamin selama masa tanggap darurat.

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.