TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia bekerja sama dengan ISA Art and Design dan RuangDalam Art House menghadirkan pameran Ireland’s Eye 2026: The Imprint of the Irish Landscape di Yogyakarta.
Pameran yang berlangsung pada 17 Juni hingga 15 Juli 2026 ini menjadi bagian dari edisi kelima seri Ireland’s Eye yang menampilkan perkembangan seni kontemporer Irlandia kepada publik Indonesia.
Pengelola RuangDalam Art House, Titik Suprihatin, mengatakan pameran akan dibuka pada Rabu (17/6/2026) pukul 16.00 di RuangDalam Art House, Jalan Kebayan Gang Sawo Nomor 55, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Menurut Titik, sebanyak 13 karya lukis dan satu karya multimedia akan ditampilkan dalam pameran tersebut.
Saat ini proses persiapan terus dilakukan, termasuk pemasangan karya di ruang pamer.
“Saat ini di Studio RuangDalam Art House proses loading karya sudah kami lakukan,” ujar Titik, Sabtu (13/6/2026).
Ia menambahkan, pameran ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat seni kontemporer Irlandia melalui karya-karya yang berangkat dari lanskap, sejarah, dan memori budaya.
“Pameran ini menghadirkan karya-karya yang tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga menawarkan pemahaman mengenai hubungan antara lanskap, sejarah, dan identitas budaya Irlandia. Kami berharap pameran ini dapat menjadi ruang perjumpaan dan dialog budaya sekaligus memberikan pengalaman baru bagi pengunjung,” katanya.
Program Ireland’s Eye pertama kali dikembangkan di Jakarta dan telah diselenggarakan setiap tahun sejak 2022 di sejumlah kota, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya.
Baca juga: Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta, Respons Terhadap Ancaman Risiko Baru Global
Melalui program ini, publik Indonesia diajak mengenal beragam praktik seni kontemporer yang berkembang di Irlandia.
Pameran tahun ini dikuratori oleh Mark Joyce, seniman sekaligus pengajar asal Irlandia.
Sebanyak enam seniman Irlandia dari lintas generasi turut ambil bagian, mulai dari Tony O’Malley hingga Charlie Dineen.
Karya-karya mereka menunjukkan bagaimana bentang alam, sejarah, dan mitologi Irlandia terus menjadi sumber inspirasi dalam praktik seni kontemporer.
Melalui berbagai medium seperti seni grafis, film, dan lukisan abstrak, pameran ini memandang lanskap bukan sekadar pemandangan alam, melainkan ruang hidup yang menyimpan lapisan sejarah, mitos, dan identitas.
Pegunungan, garis pantai, flora hingga kawasan perkotaan ditampilkan sebagai titik temu antara alam, perjalanan waktu, dan kehidupan manusia.
Salah satu gagasan utama yang menjadi benang merah pameran adalah konsep spirit of place, yakni ikatan emosional dan kultural yang melekat pada suatu tempat.
Tokoh penting dalam pameran ini adalah Tony O’Malley (1913–2003), yang dikenal sebagai salah satu seniman modern paling berpengaruh di Irlandia.
Melalui karya-karya abstraksinya, O’Malley menangkap ritme dan karakter lanskap Irlandia, terutama kawasan bersejarah di County Kilkenny.
Dengan teknik grafis, termasuk cetak carborundum yang diproduksi di Graphic Studio Dublin, ia mengolah situs bersejarah Jerpoint Abbey menjadi representasi memori dan pengalaman batin.
Sementara itu, Charlie Dineen menampilkan film The City Beneath Me (2025) yang direkam di kawasan mitologis Paps of Anú di County Kerry.
Karya ini mengangkat kembali tradisi Celtic kuno yang berkaitan dengan dewi kesuburan Anú.
Melalui perpaduan film analog dan teknologi digital, Dineen merangkai lanskap, suara, dan narasi mitologis untuk menunjukkan bagaimana sebuah tempat dapat menyimpan jejak spiritual dan kisah lintas generasi.
Eksplorasi hubungan manusia dan alam juga hadir dalam karya Clíona Doyle.
Melalui etsa botani dan cetakan carborundum, ia menampilkan flora asli Irlandia, mulai dari hawthorn hingga anggrek liar.
Karyanya tidak hanya merayakan keindahan alam dan pergantian musim, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap isu lingkungan melalui penggunaan teknik etsa yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi lain, pelukis dan seniman grafis Gwen O’Dowd menghadirkan interpretasi abstrak terhadap lanskap Irlandia.
Terinspirasi oleh cahaya Atlantik serta hubungan antara air, batu, dan bumi, karya-karyanya mengubah proses geologis yang berlangsung selama berabad-abad menjadi komposisi visual yang dinamis dan penuh energi.
Pameran ini juga menampilkan karya Robert Russell yang menyoroti lanskap urban Irlandia.
Melalui cetakan bernuansa atmosferik, Russell menggambarkan lokasi-lokasi penting seperti Phoenix Park.
Karyanya mengajak pengunjung memasuki ruang kontemplatif yang mempertemukan sejarah, sastra, dan kehidupan masa kini, sekaligus mengingatkan pada jejak tokoh-tokoh besar seperti Bram Stoker, Oscar Wilde, dan James Joyce.
Sebagian besar karya dalam pameran ini diproduksi di Graphic Studio Dublin, salah satu pusat seni grafis terkemuka di Irlandia. Proses pencetakan yang menekan citra ke atas kertas menjadi simbol penting dalam pameran ini, menggambarkan bagaimana lanskap meninggalkan jejak pada manusia, dan bagaimana manusia pada akhirnya juga meninggalkan jejak pada lanskap.
Melalui karya-karya yang membentang dari pantai Atlantik hingga pegunungan ritual kuno di County Kerry, dari biara abad pertengahan hingga ruang-ruang urban modern, Ireland’s Eye 2026: The Imprint of the Irish Landscape mengajak pengunjung menjelajahi lanskap fisik sekaligus batin Irlandia yang kaya akan memori, ritual, dan perjalanan waktu. (*)