Pemkab Bangka Selatan Bidik Hilirisasi Empat Komoditas Unggulan untuk Tingkatkan Nilai Tambah Petani
Fitriadi June 13, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung kini mulai menyiapkan langkah hilirisasi terhadap empat komoditas perkebunan unggulan yang menjadi fokus pengembangan daerah.

Komoditas tersebut meliputi kelapa sawit, lada, kelapa dalam, dan kopi yang selama ini menjadi andalan masyarakat.

Hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.

Baca juga: Sawit Jadi Primadona, Pemkab Bangka Selatan Petakan Kawasan Empat Komoditas Unggulan

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, mengungkapkan pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pengembangan budidaya, tetapi juga mendorong pengolahan hasil perkebunan di dalam daerah. 

Langkah tersebut dilakukan agar komoditas yang dihasilkan petani tidak hanya dijual dalam bentuk bahan baku. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh masyarakat dapat lebih besar.

“Pemerintah akan berusaha menarik investasi supaya bisa mendirikan pabrik,” kata Risvandika kepada Bangkapos.com, Sabtu (13/6/2026).

Baca juga: Harga TBS Sawit Bangka Mayoritas Stabil, PT FAL Bukit Layang Naikkan Harga Rp80 Per Kilogram

Dijelaskan Risvandika, pemerintah daerah telah memetakan kawasan pengembangan masing-masing komoditas sebagai dasar untuk mendukung program hilirisasi. 
Kawasan kelapa sawit, lada, kelapa dan kopi disesuaikan dengan kondisi lahan serta potensi yang dimiliki setiap wilayah.

Pemetaan tersebut diharapkan mempermudah pengembangan industri pengolahan di masa mendatang.

Pemerintah daerah melihat peluang besar dalam pengembangan industri turunan. 

Selama ini kebutuhan kelapa masih cukup tinggi, sementara pasokan lokal belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan masyarakat.

Kondisi tersebut membuka peluang hadirnya industri pengolahan seperti kopra yang dapat menyerap hasil produksi petani.

“Beberapa daerah lain sudah ada pabrik kopra. Tentunya ini menjadi peluang baru bagi petani kelapa,” papar Risvandika.

Sementara itu sambung dia, hilirisasi lada diarahkan untuk menghasilkan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bahan baku.

Selama ini sebagian besar lada masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah yang diterima petani relatif terbatas.

Pemerintah daerah berupaya menarik investasi untuk mendukung pengolahan lada menjadi berbagai produk siap konsumsi.

Komoditas kopi juga masuk dalam rencana penguatan hilirisasi setelah program pengembangannya menunjukkan hasil positif di sejumlah wilayah.

Tanaman kopi yang telah berhasil dibudidayakan di beberapa kawasan kini mulai memasuki tahap pengembangan pascapanen.

Pengolahan kopi lokal diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam daerah yang terus bertumbuh.

“Untuk kopi, pasca panennya untuk kebutuhan di dalam daerah kita sendiri, terutama peminat-peminat kopi arabika,” sebutnya.

Kendati demikian Risvandika menegaskan, tujuan utama program hilirisasi adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi komoditas perkebunan.

Mengingat lebih dari 40 persen masyarakat Bangka Selatan bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, keberhasilan program tersebut diyakini akan berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah.

Pemerintah daerah berkomitmen terus memberikan dukungan agar pengembangan komoditas dan industri pengolahannya dapat berjalan beriringan.

“Kami akan berusaha selalu membantu, mendukung, dan mensupport kegiatan pertanian supaya bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Risvandika. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.