Sisi Spiritual Dedi Mulyadi: Beri Perhatian untuk Masjid Kampung dan Restorasi Masjid Heritage
Muhamad Syarif Abdussalam June 13, 2026 02:44 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dalam menata infrastruktur keagamaan di Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memprioritaskan pendirian tempat ibadah berskala kecil di perkampungan sekaligus menyelamatkan masjid bersejarah yang membutuhkan perhatian.

Kebijakan ini diambil guna mengembalikan fungsi esensial rumah ibadah sebagai ruang sakral untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bukan sekadar objek wisata.

Dua fokus utama yang kini tengah digulirkan adalah pemerataan pembangunan surau di lingkungan rukun tetangga serta pemugaran total terhadap destinasi religi legendaris yang mengalami pelapukan fisik.

Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya kehadiran ruang ibadah yang dekat dengan pemukiman agar masyarakat dapat mengaksesnya setiap saat tanpa sekat birokrasi. Langkah taktis ini sekaligus merespons fenomena maraknya rumah ibadah megah yang belakangan ini justru kehilangan marwah spiritualnya akibat beralih fungsi menjadi lokasi rekreasi komersial. 

Di sisi lain, perhatian penuh juga diarahkan pada pelestarian peninggalan arsitektur masa lampau yang kondisinya kian memprihatinkan akibat faktor usia dan cuaca.

Bangun Spiritualitas Warga, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal memprioritaskan pembangunan tajuk atau masjid berukuran kecil di daerah-daerah. Hal itu dilakukan sebagai sarana spiritualitas warga dalam setiap saat.

Demikian dikemukakan Dedi Mulyadi dalam acara "Peringatan Hari Besar Islam Muharram 1448 Hijriyah" dengan tema: Menguatkan Cinta Islam dan Islam Cinta di 1448 H, di Ruang Utama Masjid Raya Al-Jabbar, Selasa (9/6/2026).

“Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya dalam setiap waktu. Kan kalau masjid-masjid yang megah sudah banyak di Jawa Barat,” ucap Dedi Mulyadi, sapaan Dedi Mulyadi.

Menurut ia, secara bertahap dan terintegrasi dengan bantuan semua pihak akan mengembangkan tajuk atau surau yang ada di lingkungan masyarakat. Dengan begitu tajuk yang ada tidak perlu lagi ada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang baru.

“Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak ngaji, tempat ibadah rakyat di situ," kata pria yang identik dengan iket putih itu.

Ia menilai bahwa saat ini terjadi pergeseran pemanfaatan masjid, dari tempat tafakur, bersujud, membangun hubungan spiritualitas antara manusia sebagai makhluk dengan Allah berubah menjadi sarana rekreasi.

“Kalau masjid sarana rekreasi bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie bukan tempat tafakur,” katanya.

Ia menyatakan bahwa esensi ibadah terletak pada hubungan seseorang dengan Tuhannya dan bukan pada kemegahan tempat yang dikunjungi.

“Bertafakur bisa dilakukan di mana saja. Bertafakur di kamar tidur, surau kecil, bawah pohon, tepi sawah, tepi danau, pinggir gunung, tepi samudra. Tempat tak ada makna, yang paling utama adalah keheningan jiwa untuk mampu menghadirkan Tuhan dalam relung jiwa,” pungkas KDM.

JAWA-EROPA - Potret Masjid Besar Cipaganti. Masjid ini menganut gaya Eropa-Jawa.
JAWA-EROPA - Potret Masjid Besar Cipaganti. Masjid ini menganut gaya Eropa-Jawa. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Pemprov Jabar Siap Pugar Cagar Budaya Masjid Besar Cipaganti

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dipastikan bakal turun tangan untuk memugar sebuah rumah ibadah berstatus cagar budaya di kawasan Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.

Kepastian ini bergulir setelah Dedi Mulyadi merespons aduan dari warganet yang mengabarkan situasi terkini dari rumah ibadah sarat nilai historis di area Cipaganti tersebut. Keadaan fisik bangunan pusaka itu dinilai sudah sangat mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan yang mendesak.

Melalui rekaman video yang beredar, tempat ibadah yang dimaksud tak lain adalah Masjid Besar Cipaganti yang berdiri kokoh di sepanjang Jalan Cipaganti, Kota Bandung.

Di dalam visual tersebut, terlihat jelas bagian atap sirap kayu masjid yang legendaris itu sedang tidak baik-baik saja, atap area belakang terpaksa dibalut lembaran plastik putih, seolah menjadi tameng sementara untuk menahan rembesan air hujan. Sebagian sudah ditutupi atap baja ringan, sangat kontras dengan keanggunan atap sirap.

Merespons fenomena ini, Dedi Mulyadi melempar pujian dan rasa hormat kepada warga yang jeli dan peduli melaporkan kerusakan tersebut. Bagi Dedi, merawat eksistensi tempat-tempat bersejarah adalah tugas kolektif seluruh lapisan masyarakat agar warisan masa lalu tidak lekang ditelan zaman.

“Terima kasih atas informasinya, karena masjid ini merupakan masjid bersejarah atau heritage,” ujar Dedi melalui unggahan di Instagram pribadinya.

Ia membeberkan bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat melakukan peninjauan langsung guna mengukur tingkat kerusakan.

Hasil dari proses pengecekan lapangan inilah yang nantinya menjadi pijakan utama bagi pemerintah dalam mengeksekusi perbaikan fisik secara total.

“Kami sudah melakukan verifikasi tentang kebutuhan masjid tersebut dan dalam waktu tidak terlalu lama lagi kami akan memprosesnya,” katanya.

Dedi kembali menegaskan bahwa langkah pemugaran ini akan diupayakan secepat mungkin. Tujuannya jelas, agar struktur bangunan yang menyimpan memori kolektif tersebut kembali kokoh, elok dipandang, serta nyaman digunakan kembali untuk beribadah sekaligus menjaga martabatnya sebagai situs warisan daerah.

“Segera masjid itu direnovasi,” tegasnya.

Di mata Dedi, keberadaan aset cagar budaya bukan sekadar tumpukan batu dan kayu tua yang mati, melainkan sebuah cerminan identitas serta rekam jejak perjalanan peradaban sebuah bangsa.

Atas dasar filosofi itulah, ia memandang perlindungan terhadap situs-situs lama harus menjadi perhatian serius semua elemen. Tokoh publik ini pun menaruh asa agar agenda restorasi ini memicu semangat kebersamaan dalam memelihara identitas nasional.

“Semoga kita semua menjadi orang-orang yang senantiasa merawat dan menjaga seluruh peninggalan sejarah bangsa ini,” tutup Dedi.

Langkah taktis Pemprov Jabar ini dinilai publik sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam merawat situs-situs penting, sekaligus mempertebal fondasi perlindungan cagar budaya di seluruh tanah Pasundan.

Merujuk data resmi dari laman bandung.go.id, Masjid Besar Cipaganti menduduki posisi terhormat sebagai salah satu pusat peribadatan paling sepuh di Kota Bandung.

Prosesi peletakan batu pertamanya tercatat pada tanggal 7 Februari 1933, yang bertepatan dengan tanggal 11 Syawal 1351 Hijriah. Hanya berselang setahun, tepatnya pada 27 Januari 1934, rumah ibadah yang menempati lahan seluas 2.675 meter persegi ini resmi dibuka untuk umum.

Mahakarya ini dirancang oleh maestro arsitektur kenamaan asal Belanda, Charles Prosper Wolff Schoemaker, sosok genius di balik kemegahan Hotel Preanger dan Villa Isola. Dalam pengerjaannya, ia berkolaborasi dengan Het Keramische Laboratorium Bandung (lembaga yang kini bertransformasi menjadi Balai Besar Keramik).

Saat momen peresmiannya dahulu kala, acara tersebut dihadiri langsung oleh Regent atau Bupati Bandung, R. Tumenggung Hassan Sumadipradja, yang didampingi Patih Bandung, R. Wirijadinata, serta Penghulu Bandung, H. Abdoel Kadir.

Gaya arsitektur bangunan ini sangat unik karena memadukan nuansa tradisional Nusantara dengan sentuhan Maghribi khas Afrika Utara. Sentuhan lokal Jawa begitu kental terasa pada model atap tajug yang dibuat tumpang dua.

Di sisi lain, napas desain Afrika Utara memberikan karakter kuat pada bagian fasade serta wajah depan bangunan. Berkat keunikan estetika dan nilai historisnya yang tebal, tak heran jika tempat ibadah ini telah lama dikukuhkan ke dalam daftar cagar budaya resmi Kota Bandung.

Meski sepanjang perjalanannya Masjid Cipaganti sempat mengalami beberapa kali sentuhan renovasi, struktur inti dari bangunan aslinya dipertahankan dengan sangat baik. Ruang utama dari struktur awal tersebut kini memosisikan diri sebagai bagian tengah dari kompleks masjid modern.

Keaslian arsitektur tahun 1933 masih terjaga utuh pada guratan kaligrafi di pintu masuk, pahatan kalimat hamdalah pada tiang utama (sokoguru), bagian plafon, hingga penataan interiornya. Bahkan, sebuah lampu gantung berukuran masif peninggalan masa lalu masih terpasang megah di pusat ruang utama.

Sebelum mengalami rangkaian pemugaran, termasuk perombakan besar yang sempat terjadi pada tahun 1965 dan 1979, Masjid Raya Cipaganti memiliki kemiripan visual yang menarik dengan Gereja Bethel. Kemiripan arsitektural tersebut terlihat jelas pada struktur pintu gerbang utama yang dirancang menjorok ke depan serta ditopang oleh dua pilar kokoh di sisi kanan dan kirinya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.