TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Polres Tulungagung bersiap penuh untuk pengamanan penegsahan anggota baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada Selasa (16/6/2026) mendatang.
Polres Tulungagung menyiagakan 823 personel untuk mengamankan kegaiatan yang sering disebut sah-sahan atau Suran Agung ini.
Menurut Kabag Ops Polres Tulungagung, Kompol Maga Fidri Isdiawan, pengamanan juga melibatkan banyak unsur di luar Polres Tulungagung.
"Kami sudah melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah instansi untuk pengamanan kegiatan ini," ujar Maga.
Baca juga: PG Meritjan Bidik Giling 2,5 Juta Kuintal Tebu, Petani Siap Pasok Bahan Baku Berkualitas
Selain itu semua unsur dari perguruan pencak silat juga dilibatkan. Mereka juga melakukan ikrar damai untuk menjaga kondusivitas Kabupaten Tulungagung.
Maga menyebut, Polres Tulungagung mendapat bantuan personel dari Polda Jawa Timur, Kodim 0807/Tulungagung, Pemkab Tulungagung dan unsur lintas perguruan pencak silat.
"Semua pihak sepakat menjaga hubungan harmonis antarperguruan pencak silat. Semua juga sepakt menjunjung toleransi dan saling mendukung selama kegiatan," sambung Maga.
Pengamanan dilaksanakan Selasa (16/6/2026) malam sampai Rabu (17/6/2026).
Personel akan disebar di seluruh wilayah, utamanya di perbatasan dengan Kabupaten Trenggalek, Blitar dan Kediri.
Personel pengamanan akan menghalau para penggembira dari luar daerah yang masuk ke Kabupaten Tulungagung.
Suran Agung kali ini dilaksanakan serentak di wilayah eks Karesidenan Kediri untuk memecah massa.
Diharapkan penggembira dari setiap wilayah fokus di daerahnya sendiri, tidak konvoi ke daerah lain. Apel pengamanan rencananya dilakukan sore hari dan langsung diikuti penempatan pasukan.
"Kami juga mengantisipasi gesekan antara peserta dengan masyarakat. Jangan sampai kegiatan ini menimbulkan konflik," tegasnya.
Data yang disampaikan panitia sah-sahan warga baru PSHT akan diikuti sekitar 1.415 orang dari 19 kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
Sementara proyeksi kepolisian, jumlah penggembira dalam kegiatan ini sekitar 5.000 orang.
Sebab itu Polres Tulungagung mengantisipasi masuknya massa konvoi dari luar daerah, agar tidak menimbulkan kerawanan.
Penyekatan massa dari luar daerah juga dilakukan Polres lain di sekitar Tulungagung, sehingga diharapkan tidak ada pergerakan massa antar wilayah.
"Kami juga melakukan pengawalan setiap rombongan konvoi peserta agar tidak terpecah. Selain pengamanan agar tidak ada konflik, juga mencegah kecelakaan lalu lintas," papar Maga.
Baca juga: GOR dan Stadion Trenggalek Jadi Penyumbang PAD Capai Target Sebelum Semester I
Konflik antar anggota pergurun pencak silat masih menjadi momok di Kabupaten Tulungagung. Daerah paling rawan sering disebut PBB, akronim dari Kecamatan Pakel, Bandung dan Besuki.
Sementara Kecamatan Bandung dianggap paling rawan karena seringnya konflik pecah di kawasan ini. Masyarakat sampai menyebutnya sebagai jalur Gaza.
Selain dalam skala besar, konflik juga sering terjadi sparadis karena aksi saling razia atribut pergurun pencak silat yang berbeda. Aksi ini sering menimbulkan kasus hukum pada pelajar dan anak-anak.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)