TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga sekitar Rp 2.000 per kilogram belum sepenuhnya membawa keuntungan bagi petani di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Di tengah tren harga yang membaik, sebagian petani justru menunda panen karena kesulitan menjual hasil kebun.
Penyebabnya, sejumlah timbangan atau pengepul menghentikan sementara pembelian akibat penumpukan pasokan di pabrik kelapa sawit.
Baca juga: Kronologi Pasutri di Mamuju Cekcok hingga Suami Nekat Minum Racun, Cemburu Istri Diduga Selingkuh
Baca juga: Doa Saat Hujan Deras yang Dianjurkan Rasulullah SAW, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Dalam hampir sepekan terakhir, antrean truk pengangkut TBS terjadi di sejumlah pabrik pengolahan sawit di Pasangkayu.
Kondisi tersebut membuat proses bongkar muat berjalan lambat dan berdampak hingga ke tingkat pengepul.
Akibat keterbatasan daya tampung, sejumlah pengepul memilih menutup aktivitas pembelian sementara waktu.
Natu, petani sawit asal Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, mengatakan kenaikan harga menjadi tidak berarti ketika akses penjualan justru terhambat.
“Banyak timbangan tutup, kami mau jual ke mana? Percuma harga naik kalau tetap susah menjual buah,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Natu, antrean kendaraan di pabrik bukan persoalan baru, tetapi kali ini berlangsung lebih lama dan berdampak langsung pada petani.
Ia menyebut banyak truk harus menunggu berhari-hari untuk membongkar muatan sehingga pengepul menghentikan penerimaan buah dari petani.
Kondisi tersebut membuat petani memilih menunda panen karena khawatir buah tidak terserap pasar atau mengalami penurunan kualitas.
Natu menilai persoalan ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah karena pertumbuhan produksi sawit harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur pengolahan.
Ia menilai peningkatan kapasitas pabrik maupun masuknya investasi baru dapat menjadi salah satu solusi agar distribusi hasil panen lebih lancar.
Saat ini terdapat sekitar 10 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Pasangkayu.
Namun menurut petani, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu mengimbangi peningkatan produksi TBS.
Petani juga berharap perusahaan dan pemerintah daerah dapat mencari jalan keluar agar antrean di pabrik berkurang dan aktivitas pembelian di tingkat pengepul kembali normal sehingga momentum kenaikan harga benar-benar dirasakan masyarakat.(*)