Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax RON 92 di Kabupaten Sukoharjo belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas para pengemudi ojek online (ojol).
Tiga hari setelah harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sebagian besar pengemudi masih dapat beroperasi normal karena tetap mengandalkan BBM subsidi Pertalite.
Meski demikian, dampak tidak langsung mulai dirasakan para pengemudi, terutama meningkatnya antrean kendaraan di sejumlah SPBU akibat banyak pengguna kendaraan yang diduga beralih dari Pertamax ke Pertalite.
Baca juga: Harga Pertamax Naik Picu Warga Beralih ke Pertalite, Kuota BBM Bersubsidi di Solo Masih Aman?
Salah seorang pengemudi Grab di Kabupaten Sukoharjo, Teguh, mengaku belum merasakan dampak langsung dari kenaikan harga Pertamax karena selama ini menggunakan Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari mencari penumpang.
“Kalau dampaknya saya belum merasakan, karena saya pengguna Pertalite,” kata Teguh saat ditemui TribunSolo.com, Sabtu (13/6/2026).
Menurut pria yang telah delapan tahun berprofesi sebagai pengemudi ojol tersebut, perubahan yang paling terasa saat ini adalah bertambahnya waktu antre saat mengisi bahan bakar.
Jika sebelumnya antrean hanya berlangsung beberapa menit, kini waktu tunggu bisa dua kali lebih lama.
“Mungkin dampaknya lebih ke antrean Pertalite. Biasanya antre lebih dari lima menit, sekarang bisa sampai 10 menit. Yang antre bisa 10 sampai 15 kendaraan. Mungkin itu saja yang baru saya rasakan,” ujarnya.
Setiap hari, Teguh mengalokasikan sekitar Rp25.000 untuk membeli bahan bakar.
Dengan biaya tersebut, ia dapat melayani orderan dari wilayah Juwiring, Kabupaten Klaten hingga Kabupaten Sukoharjo.
Namun, pendapatan yang diperolehnya tidak menentu karena bergantung pada jumlah pesanan yang masuk setiap hari.
“Pendapatan tidak tentu. Kalau sehari beli bensin sekitar Rp25.000,” lanjutnya.
Meski belum merasakan beban tambahan akibat kenaikan Pertamax, Teguh mengaku khawatir jika suatu saat terjadi kelangkaan Pertalite.
Menurutnya, apabila terpaksa beralih ke Pertamax dengan harga yang jauh lebih tinggi, biaya operasional harian akan meningkat drastis dan berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Ekonom UNS Solo Prediksi Harga Barang Ikut Merangkak
“Iya takut kalau Pertalite langka. Otomatis terpaksa beli Pertamax dan itu nanti sangat memberatkan,” tandasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pengemudi Gojek Food, Andre Setiawan.
Ia mengaku antrean Pertalite yang semakin panjang mulai berdampak pada waktu pengantaran pesanan pelanggan.
Menurut Andre, tidak jarang konsumen mengeluhkan lamanya proses pengiriman ketika dirinya harus berhenti untuk mengisi bahan bakar di tengah aktivitas mengantar makanan.
“Antrean Pertalite sekarang lebih panjang. Kadang saat sedang ambil atau antar order harus mengisi bensin dulu, sehingga pengiriman menjadi lebih lama dan ada pelanggan yang mengeluhkan keterlambatan,” ujarnya.
Bertambahnya antrean Pertalite tidak hanya menyita waktu para pengemudi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas layanan kepada pelanggan.
Para pengemudi pun berharap pasokan Pertalite tetap terjaga sehingga mereka tidak dipaksa beralih ke BBM non-subsidi yang harganya jauh lebih tinggi.
Sebab, bagi pekerja transportasi daring yang pendapatannya bergantung pada jumlah perjalanan setiap hari, kenaikan biaya bahan bakar dapat langsung menggerus keuntungan dan menambah beban ekonomi keluarga. (*)