Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Perjuangan Dian Puspitasari, penjual mochi di outlet Mochi Pay Jalan Teuku Cik Ditiro No.1, Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung, kode pos 35153.
Baca juga: Banting Setir, Penjual Baju di Bandar Lampung Pilih Dagang Es Cendol, Favorit Mahasiswa
Ternyata Dian merintis outlet yang kini mempunyai omzet hingga Rp10 juta per bulan ini tidak mudah. Sebab dia sempat berpindah-pindah tempat berjualan karena kehadirannya ditolak oleh pedagang lain.
Dian menceritakan perjalanan awal dirinya memulai bisnis mochi miliknya. "Sekitar tiga tahun lalu anak saya ada acara di sekolah dan ingin dibuatkan mochi. Kemudian saya buatkan mochi. Setelah dari acara tersebut banyak pesanan datang," ujar Dian saat ditemui Sabtu (13/6/2026).
Awalnya pemesan mochi buatan Dian adalah teman-teman anaknya. Setelah itu teman-teman Dian juga ikut memesan. "Dari situ saya berpikir, kenapa tidak dijual secara serius saja?" ujar Dian saat ditemui Sabtu (13/6/2026).
Lantas, Dian memutuskan untuk berjualan mochi menggunakan mobil pribadinya. Mobil tersebut seolah menjadi toko berjalan untuk menjajakan mochi buatannya.
Dia harus berpindah-pindah lokasi demi mencari tempat berjualan strategis dan diperbolehkan. Tidak jarang Dian mendapat penolakan dari pedagang lain maupun pihak tertentu yang merasa keberatan dengan kehadirannya.
"Saya dulu jualan di mobil. Pindah-pindah tempat karena sering tidak diperbolehkan berjualan. Bahkan pernah dilaporkan sampai didatangi petugas disuruh pindah lokasi jualan," kenangnya.
Selain masalah lokasi, cuaca juga menjadi tantangan tersendiri saat berjualan menggunakan mobil. Saat hujan turun, Dian hanya bisa menunggu di dalam mobil dengan harapan ada pelanggan yang datang.
"Kalau hujan, mobil saya tutup. Saya hanya duduk di dalam mobil menunggu. Kadang ada satu atau dua pelanggan yang tetap datang membeli untuk anak-anak mereka di rumah," katanya.
Saat pertama kali berjualan, Dian hanya menawarkan beberapa rasa seperti stroberi, mangga, dan cokelat. Seiring meningkatnya permintaan pelanggan, varian yang ditawarkan terus berkembang.
Kini Mochi Pay memiliki sekitar 15 varian rasa, seperti strawberry cream, mango cream hingga yang terbaru yaitu mochi dubai.
Menurut Dian, varian mangga menjadi salah satu rasa yang paling banyak diminati oleh pelanggannya.
"Kalau yang paling laris itu mango cream. Tapi sekarang Mochi Dubai juga mulai banyak dicari pelanggan," ujarnya.
Saat ini MochiPay mampu menjual sekitar 100 hingga 150 mochi per hari.
Untuk mochi reguler, harga yang ditawarkan tetap Rp5.000 per buah, sedangkan Mochi Dubai dijual Rp15.000 per buah.
Dengan penjualan perhari sebanyak itu, Dian memperoleh omzet sekitar Rp10 juta per bulan.
Namun omzet tersebut terkadang berkurang imbas naiknya bahan baku seperti buah buahan dan tepung.
Meski berbagai bahan baku mengalami kenaikan harga, Dian memilih mempertahankan harga jual demi menjaga daya beli pelanggan.
"Saya tidak menaikkan harga. Kalau ada penyesuaian, biasanya pada isiannya kini lebih sedikit. Misalnya anggur yang harganya sekarang hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya. Tapi kualitas dan rasa tetap kami jaga," katanya.
Di tengah menjamurnya usaha mochi, Dian percaya bahwa kualitas produknya menjadi pembeda utama.
Berdasarkan pengakuan pelanggannya, tekstur cream yang digunakan Mochi Pay terasa lebih ringan dan lembut dibandingkan produk sejenis.
"Banyak pelanggan bilang cream kami berbeda. Tidak membuat enek dan terasa seperti es krim. Selain itu sebagian besar mochi kami memiliki tiga lapisan, yaitu buah, cream, dan cokelat," tutupnya.
( Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini )