Tahap wawancara menjadi salah satu proses penting dalam seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pada tahap ini, pelamar tidak hanya diminta menjelaskan rencana studi, tetapi juga meyakinkan pewawancara mengenai tujuan dan komitmen yang mereka miliki.
Alumni LPDP sekaligus lulusan NYU Robert F Wagner Graduate School of Public Service, Rosi Setyo Nugroho, mengatakan pelamar tidak perlu mengejar jawaban yang terdengar sempurna. Menurutnya, sikap yang jujur dan autentik justru menjadi modal utama dalam menghadapi wawancara.
"Kejujuran adalah kuncinya," ujar Rosi dalam acara MyAmerica MyStory di MyAmerica Jakarta, Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Jumat (12/6/2026).
Lebih Baik Mengaku Tidak Tahu
Rosi mengatakan pelamar tidak perlu memaksakan diri untuk menjawab semua pertanyaan. Dalam beberapa kasus, pewawancara justru mengajukan topik yang berada di luar bidang studi atau pengalaman kandidat.
Karena itu, ia menilai mengakui keterbatasan pengetahuan merupakan pilihan yang lebih baik daripada menyampaikan informasi yang tidak benar.
"Jika Anda tidak tahu, mengatakan 'saya tidak tahu' dengan baik jauh lebih baik," katanya.
Ia mencontohkan ada peserta yang mendapat pertanyaan mengenai rantai pasok global meski memiliki latar belakang di bidang kesehatan. Dalam situasi seperti itu, pelamar tetap dapat menjelaskan pemahaman yang dimiliki tanpa harus berpura-pura menguasai seluruh persoalan.
Menurutnya, pewawancara lebih menghargai kemauan untuk belajar daripada jawaban yang dibuat-buat.
Konsistensi Jawaban Dinilai
Lebih lanjut, Rosi menjelaskan bahwa tim pewawancara biasanya telah membaca esai dan dokumen yang dikirimkan pelamar sebelum sesi wawancara berlangsung. Karena itu, mereka akan melihat apakah jawaban yang disampaikan sejalan dengan cerita yang telah ditulis sebelumnya.
"Ketika Anda membuat kebohongan, Anda akan membuat kebohongan yang lain," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pewawancara LPDP telah bertemu dengan ratusan bahkan ribuan kandidat sehingga mampu mengenali jawaban yang tidak konsisten.
Selain kejujuran, Rosi juga menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara pengalaman, tujuan studi, dan rencana kontribusi setelah lulus. Menurutnya, ketertarikan yang benar-benar berasal dari diri sendiri akan terlihat dari cara seseorang berbicara dan menjelaskan gagasannya.
Bagi Rosi, wawancara LPDP bukan tentang mencari jawaban yang paling sempurna, melainkan menemukan kandidat yang jujur, memahami dirinya sendiri, dan memiliki tujuan yang jelas.





