TRIBUNPADANG.COM, PADANG– Sabtu (13/6/2026) siang, Nasrul berdiri di depan rumahnya yang kini hanya menyisakan puing-puing hitam bekas kebakaran.
Sesekali mata Nasrul menyapu bangunan yang sehari sebelumnya menjadi tempat tinggal keluarganya, sekaligus sumber penghidupan dari usaha kos-kosan.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut pria yang sehari-hari berdagang jilbab di Pasar Raya Padang itu.
Baca juga: Hanya Tersisa Dompet, Noza Kehilangan Rumah dan 8 Kamar Kos Saat Kebakaran di Kampung Jao Padang
Namun dari raut wajahnya, tampak jelas kesedihan yang masih membekas setelah si jago merah melahap rumah dan belasan kamar kos miliknya di kawasan Kampung Jao Dalam, Kecamatan Padang Barat, Jumat (12/6/2026) sore.
Kejadiaan naas itu terjadi ketika Nasrul tengah mencari penghidupan di Pasar Raya Padang.
"Saat kejadian saya sedang berdagang di Pasar Raya. Saya jualan jilbab di sana," ujarnya pelan kepada TribunPadang.com.
Sekitar pukul 17.00 WIB atau tak lama setelah salat Asar, kabar buruk datang menghampirinya.
Api tiba-tiba muncul dari bagian belakang rumah dan dalam waktu singkat membesar.
Baca juga: Korban Kebakaran di Kampung Jao Padang Butuh Tempat Tinggal Layak dan Bantuan Sembako
Menurut cerita yang ia terima dari anaknya yang berada di rumah saat kejadian, kobaran api pertama kali terlihat dari arah belakang bangunan.
"Anak saya sempat melihat ke atas dan tampak api berasal dari belakang rumah. Dia langsung turun ke lantai satu untuk menyelamatkan istri dan anaknya keluar rumah," kata pria berumur 61 tahun itu.
Namun upaya penyelamatan itu harus berpacu dengan ganasnya kobaran api yang terus membesar.
Angin yang bertiup cukup kencang membuat si jago merah dengan cepat menjalar ke berbagai bagian bangunan.
"Karena anginnya kencang, api cepat membesar. Rumah dan kamar-kamar kos langsung terbakar," ujarnya.
Hingga kini, Nasrul mengaku belum mengetahui secara pasti sumber api yang memicu kebakaran tersebut.
"Sumber apinya saya juga tidak tahu pasti. Informasi yang saya dapat, api berasal dari belakang," tuturnya sembari mengingat momen memilukan itu.
Selain rumah keluarga, belasan kamar kos yang selama ini menjadi tempat tinggal para pekerja pasar juga ikut hangus terbakar.
Ironisnya, sebagian besar penghuni kos sedang bekerja saat api melahap bangunan. Alhasil, mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.
"Waktu kebakaran, anak-anak kos sedang bekerja. Mereka tidak ada di kamar, jadi tidak bisa menyelamatkan barang-barangnya," katanya.
Baca juga: Detik-detik Kebakaran di Kampung Jao Padang, Noza Minta Bantuan Warga Keluarkan Mobil Dekat Rumah
Kini para penghuni kos harus bertahan dengan kondisi seadanya.
Banyak dari mereka hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ketika mendapat kabar tempat tinggalnya terbakar.
"Anak-anak kos sekarang banyak yang menumpang di rumah teman atau keluarga yang dekat sini. Mereka panik karena tidak punya pakaian gantian. Barang-barangnya habis terbakar," ujar Nasrul.
Tak hanya tempat tinggal yang hilang, kebakaran juga menghanguskan tiga unit sepeda motor.
Satu motor milik anak Nasrul, sementara dua lainnya milik penghuni kos.
"Itu motor anak saya satu, dua lagi milik anak kos. Semuanya terbakar," katanya.
Di tengah kehilangan yang begitu besar, Nasrul masih berusaha tegar.
Ia sadar proses untuk bangkit kembali tidak akan mudah. Namun sebagai kepala keluarga, ia memilih menyimpan harapan di tengah puing-puing yang tersisa.
Dengan mata yang sesekali memandang reruntuhan bangunan, Nasrul mengaku hanya ingin rumahnya kembali bisa ditempati.
"Harapan saya mudah-mudahan tempat tinggal ini bisa pulih kembali. Walaupun tidak seperti semula, sekurang-kurangnya bisa ditempati lagi," ucapnya.
Musibah yang menimpa Nasrul merupakan bagian dari kebakaran besar yang melanda kawasan Kampung Jao Dalam, RT 002/RW 005, Kelurahan Kampung Jao Dalam, Kecamatan Padang Barat, Jumat sore.
Kepala Bidang Operasional dan Sarana Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, Rinaldi, mengatakan laporan kebakaran diterima pada pukul 16.32 WIB.
Petugas kemudian bergerak satu menit setelah laporan diterima dan tiba di lokasi pukul 16.40 WIB.
Sebanyak 10 unit armada dan sekitar 100 personel diterjunkan untuk memadamkan api yang membakar rumah tinggal, rumah petak, hingga gudang penyimpanan suku cadang kendaraan roda dua.
Setelah berjibaku selama lebih dari satu jam, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api pada pukul 17.49 WIB.
Akibat peristiwa tersebut, dua unit rumah dan 32 pintu rumah petak mengalami kerusakan berat. Sebanyak 38 jiwa kehilangan tempat tinggal, sementara kerugian materi ditaksir mencapai Rp1,2 miliar.
Bagi Nasrul, angka kerugian itu mungkin hanya deretan data. Sebab yang paling berat adalah melihat tempat yang selama ini menjadi rumah bagi keluarganya dan puluhan penghuni kos berubah menjadi puing dalam hitungan menit.
Namun di balik arang dan sisa bangunan yang menghitam, masih ada harapan yang ia genggam. Harapan sederhana untuk kembali memiliki tempat berteduh dan memulai hidup dari awal.