Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp 16.650 per liter, dikeluhkan para sopir travel rute Manna-Bengkulu.
Mereka menilai kondisi tersebut berdampak pada semakin panjangnya antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite.
Pantauan TribunBengkulu.com di pangkalan travel tujuan Manna-Bengkulu yang berlokasi di Jalan Fatmawati Soekarno, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Sabtu (13/6/2026), terlihat aktivitas keberangkatan masih sepi.
Hanya terdapat dua unit kendaraan travel yang siap berangkat.
Para sopir mengaku kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax yang kini mencapai Rp 16.650 per liter.
Meski kendaraan yang digunakan masih menggunakan Pertalite, mereka menilai kenaikan harga BBM tetap berdampak terhadap operasional travel.
Hingga saat ini, tarif travel rute Manna-Bengkulu masih bertahan di angka Rp 100 ribu per orang.
“Untuk saat ini tarif Manna-Bengkulu masih Rp 100 ribu per orang. Dan hingga sekarang belum ada mobil yang masuk dari Bengkulu ke Manna,” ujar sopir travel Andri saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Sabtu (13/6/2026).
Antrean Pertalite Makin Panjang
Andri mengatakan jumlah penumpang masih terbilang sepi dalam satu bulan terakhir.
Selain penurunan jumlah penumpang, kenaikan harga BBM juga berdampak pada sulitnya mendapatkan bahan bakar.
Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite semakin panjang, terutama bagi kendaraan roda empat.
“Harapannya Pertalite tidak naik, karena kalau naik otomatis tarif ongkos juga ikut naik,” ungkap Andri.
Ia berharap harga BBM dapat kembali stabil sehingga operasional travel tidak semakin terbebani.
Meski nantinya penyesuaian tarif mungkin dilakukan, Andri berharap jumlah penumpang kembali normal seperti biasanya agar kendaraan dapat berangkat dengan jumlah penumpang yang mencukupi.
Dengan kondisi tersebut, para pelaku usaha travel berharap adanya kestabilan harga BBM dan peningkatan jumlah penumpang agar usaha transportasi tetap berjalan normal dan tidak mengalami kerugian berkepanjangan.