BANJARMASINPOST.CO.ID- Noorhani atau yang akrab disapa Sarinah Hani terlihat sedang duduk tenang sambil berdikusi bersama beberapa orang di depannya. Diskusi dan saling berbagi informasi seolah menjadi bagian dari kesehariannya.
Di balik pembawaannya yang sederhana, siapa sangka perempuan 22 tahun itu adalah sosok penerima penghargaan Perempuan Inspiratif Kota Banjarmasin Tahun 2026.
Penghargaan itu ia dapat sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Kota Banjarmasin, atas kontribusinya dalam memberdayakan perempuan untuk terus berkarya.
Bagi alumni Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini, penghargaan yang ia terima merupakan bukti nyata dari dedikasinya memimpin Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Banjarmasin hingga meraih predikat Organisasi Kepemudaan (OKP) Berprestasi Tingkat Kota Tahun 2025.
Baca juga: BREAKING NEWS- Mahasiswa Banua Bawa 4 Tuntutan ke DPRD Kalsel, Istana Tolak Setop Program MBG
Baca juga: Jemaah Haji Kloter 8 asal Banjarmasin Tiba, Pelukan Hangat Sambut Kedatangan
Di tangan Sarina Hani, GMNI memiliki jalur lintasan baru untuk bergerak melakukan kegiatan yang berdampak kemasyarakat.
Menyaksikan jejak langkah Hani, terlihat jelas seorang dengan pemikiran idealisme muda bertemu dengan kerja nyata. Bahkan dirinya tak segan untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi masyarakat.
Hani bersama GMNI kini terlibat aktif menganalisis isu kebijakan pemerintah, untuk kemajuan daerah. “Karena ini merupakan kewajiban moral bagi saya,” katanya.
Di balik capaian tersebut, Hani tetap kritis terhadap isu sosial di Banjarmasin, terutama terkait kesehatan mental perempuan.
Ia menyoroti bahwa banyak kasus kekerasan terhadap perempuan di Banjarmasin memiliki dampak psikis. Oleh karena itu, ia memberikan masukan strategis kepada pemerintah, agar mengintegrasikan teknologi ke dalam sistem pelayanan.
Mengingat tren generasi muda yang lebih nyaman berinteraksi melalui chat, Hani mengusulkan pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI), sebagai langkah awal penyaringan sebelum diarahkan ke pelayanan pemerintah.
Menatap masa depan, Hani sedang fokus pada pengembangan kurikulum pendidikan gender untuk jenjang SD dan SMP.
Langkah itu ia ambil untuk memberikan pemahaman yang relevan kepada generasi muda, soal kesetaraan sejak dini.
“Untuk meruntuhkan konstruksi sosial dan stigma maskulinitas yang kaku, kita perlu memberikan pemahaman ini sejak dini,” ucapnya.
Menanamkan pemahaman gender yang sehat untuk melawan stigma lama menurutnya penting dilakukan, mengingat paparan digital yang kuat.
“Generasi penerus kita membutuhkan kematangan emosional dan kemampuan memfilter informasi dengan bijak, di tengah distraksi media sosial,” ujarnya.
(Muhammad Rahmadi)