KUR BRI Ikut Panen Raya Nanas di Desa Bikang, Menguatkan Ekonomi dan Harapan Petani
Asmadi Pandapotan Siregar June 15, 2026 01:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Hamparan tanaman nanas membentang di Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan. Di sela-sela daun berduri yang tumbuh rapat, seorang pria berkaus biru tampak memanggul hasil panen di tangannya. Matahari pagi belum terlalu tinggi ketika Bujang (44) berjalan menyusuri kebunnya, lahan yang setahun lalu dipenuhi ribuan bibit kecil, kini mulai memasuki musim petik.

Bagi warga Desa Bikang, nanas bukan sekadar tanaman. Ia adalah denyut ekonomi kampung. Hampir di setiap rumah, buah nanas menggantung di depan halaman, dijajakan kepada pengendara yang melintas di ruas Jalan Toboali-Pangkalpinang. Desa kecil ini telah lama dikenal sebagai penghasil nanas dengan rasa manis legit dan berair, buah khas yang membuat nama Bikang dikenal hingga berbagai daerah di Bangka Belitung.

Di tengah musim panen raya Juni 2026, Bujang menjadi satu dari sekian petani yang ikut menikmati hasil itu. Namun, di balik ribuan batang nanas yang kini mulai dipanen, tersimpan cerita tentang keterbatasan modal. Di titik itulah Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI hadir menjadi jalan bagi Bujang mengembangkan kebunnya.

Setahun lalu, Bujang memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR BRI sebesar Rp25 juta. Modal itu digunakannya membeli sekitar 4.000 bibit nanas serta kebutuhan pupuk dan perawatan kebun.

"Alhamdulillah memang, kemarin ada KUR BRI untuk beli bibit nanas ini lah, kemudian beli pupuknya untuk perawatan," ujar Bujang saat ditemui di kebunnya, Senin (15/6/2026).

Menurut Bujang, sebagai petani, persoalan utama kerap bukan soal lahan atau kemauan bekerja, melainkan keterbatasan modal awal. Terlebih, sektor perkebunan membutuhkan waktu dan biaya sebelum akhirnya menghasilkan panen.

Bujang mengaku awalnya hanya fokus berkebun sawit dan karet. Namun melihat potensi besar nanas sebagai komoditas unggulan kampung halamannya, ia mulai memberanikan diri memperluas usaha tani.

Berbeda dengan sawit yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk menghasilkan, nanas relatif lebih cepat dipanen. Kondisi itu menjadi peluang bagi petani untuk menjaga perputaran ekonomi keluarga.

Nanas Bikang, hasil panen raya di kebun Bujang, di Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Senin (15/6/2026). Nanas khas desa ini dikenal memiliki rasa manis legit dan berair, menjadi komoditas unggulan warga setempat sekaligus sumber penghidupan petani.
Nanas Bikang, hasil panen raya di kebun Bujang, di Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Senin (15/6/2026). Nanas khas desa ini dikenal memiliki rasa manis legit dan berair, menjadi komoditas unggulan warga setempat sekaligus sumber penghidupan petani. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

"Kalau sawit kan lama menunggu hasil. Nanas ini lebih cepat dipanen. Tapi memang selama menunggu panen itu yang harus diperhitungkan," katanya.

Pilihan itu kini mulai menunjukkan hasil. Saat panen raya berlangsung, pembeli datang langsung ke kebunnya. Sebagian lainnya memesan untuk dipasarkan ke Pangkalpinang.

Bujang menjual nanas hasil kebunnya seharga Rp25 ribu untuk dua buah. Menurutnya, permintaan pasar terhadap nanas Bikang cukup stabil karena kualitas buahnya sudah dikenal masyarakat.

"Nanas Bikang memang sudah terkenal. Bibitnya juga kemarin beli sama orang kampung sini, karena memang kualitasnya bagus," ucapnya.

Ia juga mengaku proses pengajuan KUR BRI tidak rumit bagi petani seperti dirinya.

"Kemarin pakai KUR BRI, pengajuannya mudah, karena kami ini petani, modal awal itu memang sangat dibutuhkan. Nah panen raya seperti ini biasanya baru mulai balik modal," ujarnya.

Di balik cerita Bujang, ada gambaran lebih besar tentang bagaimana akses pembiayaan menjadi salah satu tantangan utama petani di daerah. Tidak sedikit petani memiliki lahan dan semangat bekerja, namun terkendala biaya bibit, pupuk, hingga ongkos perawatan.

Di titik inilah kehadiran KUR BRI terasa nyata. Bukan sekadar pinjaman usaha, melainkan jembatan agar petani kecil tetap bisa menanam, bertahan, hingga menikmati hasil panen.

Di Desa Bikang, manfaat itu kini dapat dilihat langsung. Ribuan batang nanas tumbuh subur, panen mulai berlangsung, dan roda ekonomi warga perlahan bergerak.

Bagi Bujang, panen kali ini bukan hanya soal buah nanas yang siap dipetik. Lebih dari itu, ini tentang keyakinan bahwa ketika akses modal hadir dan petani diberi kesempatan, tanah kampung pun mampu menghasilkan masa depan yang lebih baik.

Bujang (44) memanen nanas di kebunnya di Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Senin (15/6/2026). Ribuan tanaman nanas yang tumbuh berdampingan dengan sawit muda itu dikembangkan melalui bantuan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk mendukung usaha pertanian produktif.
Bujang (44) memanen nanas di kebunnya di Desa Bikang, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Senin (15/6/2026). Ribuan tanaman nanas yang tumbuh berdampingan dengan sawit muda itu dikembangkan melalui bantuan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk mendukung usaha pertanian produktif. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah/Andini Dwi Hasanah)

KUR BRI Jadi Instrumen Penguat Sektor Pertanian

Kepala Unit Kerja BRI Toboali, Dodi, mengatakan, kisah seperti Bujang, merupakan gambaran bagaimana KUR hadir untuk mendukung sektor produktif masyarakat, termasuk pertanian yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.

"KUR merupakan instrumen strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif, termasuk pertanian," ujar Dodi kepada Bangkapos.com, Senin (15/6/2026).

Menurut dia, pembiayaan melalui KUR tidak semata menghadirkan modal usaha, tetapi juga memberi kesempatan bagi petani untuk menjaga keberlangsungan usaha tani yang kerap terkendala biaya awal produksi.

"Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasuk petani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," katanya.

Di sektor pertanian, tantangan permodalan memang menjadi persoalan klasik.

Banyak petani memiliki lahan dan pengalaman, namun kesulitan memperoleh biaya untuk membeli benih, pupuk, pestisida, hingga kebutuhan operasional selama masa tanam. Padahal, sebagian besar komoditas pertanian membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan.

Dalam kondisi itu, keberadaan KUR menjadi penting karena memberikan akses pembiayaan dengan bunga ringan yang disubsidi pemerintah.

"Khusus sektor pertanian, KUR BRI diperuntukkan bagi petani atau pelaku usaha produktif yang usahanya telah berjalan minimal enam bulan. Skema pembiayaan ini menawarkan suku bunga efektif sekitar enam persen per tahun, jauh lebih ringan dibandingkan kredit komersial pada umumnya," jelas Dodi.

Dana KUR dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan produktif, mulai dari pembelian benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), biaya pengolahan lahan, hingga pengembangan usaha tani.

Dodi menegaskan, penyaluran KUR dilakukan secara prudent, transparan, dan akuntabel agar pembiayaan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

BRI, kata dia, optimistis program ini mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"Melalui penyaluran KUR yang prudent dan tepat sasaran, kami berharap dapat terus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya.

Tak berhenti pada pembiayaan, BRI juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di daerah, mulai dari pemerintah daerah, kelompok tani, hingga penyuluh pertanian.

Di daerah seperti Bangka Selatan, di mana sektor perkebunan dan pertanian menjadi sumber penghidupan masyarakat, akses modal sering kali menjadi pembeda antara lahan yang produktif dan lahan yang hanya menjadi rencana.

Di kebun kecil di Desa Bikang itu, KUR BRI bukan sekadar pinjaman di buku rekening. Bagi Bujang, pembiayaan itu menjadi kesempatan untuk kembali menanam keyakinan, bahwa dari tanah kampung, masa depan masih bisa tumbuh. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.