TRIBUNPRIANGAN.COM - Masyarakat Muslim akan memasuki pergantian Tahun Baru, dalam beberapa jam kedepan.
Dimana dalam Islam perhitungan kalender bulan Qamariah sendiri disebut juga dengan kalender Hijriah.
Adapun, dalam kalender Hijriah bulan penutup berada di akhir bulan Zulhijjah dan awal bulan baru yang menjadi penanda masuknya tahun baru dalam Islam adalah bulan Muharram.
Tahun ini, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026, Tahun Baru Islam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Adapun, datangnya Muharram sering disambut dengan berbagai kegiatan keagamaan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus momentum refleksi diri memasuki tahun baru Hijriah, yang juga identik dengan sambutan juga tausiah atau ceramah.
Ceramah sendiri berisi pesan-pesan Islam yang disampaikan juga harus jelas dan mudah dipahami, yang kerap dibawakan baik saat berdakwah ataupun mengikuti lomba tentunya membutuhkan materi yang sesuai dengan tema.
Untuk itu, ceramah tentang 1 Muharram atau menyambut Tahun Baru Islam sendiri bisa menjadi referensi dan refkelksi saat memasuki tahun baru.
Untuk itu, berikut ini telah terangkum beberapa diantaranya sebagai referensi.
Baca juga: 7 Naskah Ceramah Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H: Beragam Tema Introspeksi Diri
Naskah 1: Muharam Bukan Bulan Sial
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sering kali ketika memasuki bulan Muharram atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Suro, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial, bulan yang harus dihindari untuk mengadakan hajatan atau kegiatan tertentu. Padahal anggapan seperti ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Sebaliknya, Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh. Jika bulan ini dianggap buruk atau membawa kesialan, tentu Rasulullah SAW tidak akan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di dalamnya.
Hadirin yang berbahagia,
Islam mengajarkan bahwa tidak ada waktu yang membawa sial dengan sendirinya. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Karena itu, menyandarkan kesialan kepada bulan tertentu, hari tertentu, atau tempat tertentu merupakan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT berfirman:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
"Anak Adam menyakitiKu. Ia mencela waktu, padahal Akulah yang mengatur waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Muslim)
Karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa bulan Suro adalah bulan sial, sesungguhnya ia telah keliru memahami hakikat waktu yang diciptakan Allah.
Al-Qur'an juga mengingatkan bahwa musibah dan kesulitan yang menimpa manusia bukan disebabkan oleh waktu, melainkan sering kali karena perbuatan manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya muhasabah. Ketika menghadapi kesulitan hidup, jangan buru-buru menyalahkan waktu, keadaan, atau orang lain. Justru kita perlu melihat diri sendiri, memperbaiki amal, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Allah SWT.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Momentum Tahun Baru Islam seharusnya menjadi kesempatan untuk meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan syariat. Jangan sampai kita masih mempercayai ramalan, hari sial, bulan sial, atau berbagai bentuk tahayul lainnya. Sebaliknya, mari kita isi bulan Muharram dengan amal saleh, memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Mari jadikan 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah SWT, dan lebih kuat dalam memegang ajaran Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: 1 Muharam 1448 H Jatuh Bada Magrib, Ini Bacaan Afdal Doa Akhir dan Awal Tahun, Lengkap Zikirnya
Naskah 2: Pelajaran Penting dari Puasa Asyura
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat berkumpul dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang memiliki keutamaan istimewa. Karena kemuliaannya, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)
Karena itu, memasuki Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram serta puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram.
Hadirin yang berbahagia,
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim)
Dari hadits ini, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita ambil.
Pertama, besarnya rahmat dan ampunan Allah SWT.
Puasa yang dilakukan dengan penuh keikhlasan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah kepada umat-Nya. Oleh karena itu, memasuki tahun baru Hijriah hendaknya menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki diri.
Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi seremoni belaka tanpa perubahan sikap dan amal. Tahun baru Islam seharusnya menjadi momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Kedua, pentingnya menjaga identitas dan jati diri seorang Muslim.
Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura, beliau menganjurkan umat Islam untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharram agar memiliki perbedaan dengan mereka.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki karakter dan identitas yang kuat. Umat Islam boleh hidup berdampingan dengan siapa saja, menghormati siapa saja, dan bekerja sama dalam kebaikan dengan siapa saja. Namun, seorang Muslim tetap harus bangga dengan ajaran agamanya dan tidak kehilangan jati dirinya.
Di era modern seperti sekarang, tantangan menjaga identitas semakin besar. Banyak budaya, gaya hidup, dan tren yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sebagai Muslim, kita perlu bijak dalam menyikapinya. Ambillah hal-hal yang baik dan bermanfaat, namun jangan sampai mengikis nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup kita.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kisah Asyura juga mengingatkan kita pada kemenangan Nabi Musa AS dan kaumnya yang diselamatkan Allah dari kezaliman Fir'aun. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada orang-orang yang beriman dan bersabar.
Karena itu, mari jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan optimisme dalam menjalani kehidupan. Semoga tahun yang baru ini menjadi tahun yang penuh keberkahan, kedamaian, dan kebaikan bagi kita semua.
Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta membimbing langkah kita agar senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: 5 Naskah Tausiyah Perayaan 1 Muharram 1448 Hijriah, Penuh Doa dan Harapan di Tahun Baru
Naskah 3: Muharram dan Memuliakan Anak Yatim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, Allah kumpulkan kita bersama pada hari yang mulia ini, di bulan haramnya, bulan Muharram yang mulia, di tempat rumahnya yang mulia ini.
Hadirin yang berbahagia
Di tahun yang baru ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dengan selalu berpegang teguh serta mengikuti sunnah-sunnah nabi-Nya. Salah satu bentuk sunnah yang diajarkan dan diperintahkan untuk diikuti ialah perintah memuliakan, menyantuni, menyayangi dan merawat anak yatim.
Yatim berasal dari bahasa Arab, artinya anak kecil yang kehilangan ayahnya karena meninggal. Dalam Islam, artinya pun sama dan bahkan dilengkapi dengan batasan umur bagi seseorang yang masuk dalam kategori yatim tersebut.
Anak yatim memiliki posisi yang istimewa dalam Islam. Melalui berbagai firmannya-Nya dalam Alquran, Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk memperhatikan anak yatim dengan sebaik-baiknya. Begitu istimewanya anak yatim, sampai disebutkan sebanyak 23 kali dalam Alquran yaitu 8 dalam bentuk tunggal, 14 dalam bentuk jamak dan 1 dalam bentuk Mutsanna. Misalnya Allah Ta'ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36:
وَٱعۡبُدُواْ ٱللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri".
Dari ayat ini kita lihat bagaimana perhatian Islam yang begitu besar terhadap anak yatim dimana perintah berbuat baik terhadap anak yatim jatuh pada tingkatan ketika sesudah berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada kerabat.
Anak yatim merupakan bagian dari golongan yang rentan dan memerlukan perlindungan serta kasih sayang masyarakat. Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan umat-Nya untuk memberikan perhatian khusus kepada anak yatim. Salah satu ayat yang mencerminkan hal ini adalah dalam Surat Ad-Duha, di mana Allah SWT berfirman:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ، وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
"Maka terhadap anak yatim janganlah engkau (Muhammad) mendesaknya, dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau (Muhammad) menghardiknya."
Ini menunjukkan bahwa Allah SWT menginginkan perlakuan baik dan penuh kasih sayang terhadap anak yatim. Nabi Muhammad SAW sendiri juga memberikan contoh teladan yang sangat baik dalam memperlakukan anak yatim.
Beliau secara konsisten mendorong umat Islam untuk memberikan perlindungan, kasih sayang, dan dukungan kepada mereka yang kehilangan orang tua. Banyak Hadits-hadits Nabi mengajarkan umatnya untuk memberikan bantuan material dan moral kepada anak yatim.
Bahkan keberadaan anak yatim dalam suatu rumah menjadi keberkahan tersendiri bagi penghuninya. Keberadaannya menjadi salah satu tanda bahwa rumah tersebut merupakan rumah terbaik dibanding dengan rumah-rumah lain yang di dalamnya tidak ada anak yatim. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh nabi dalam salah satu haditsnya, yaitu:
خَيْرُ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ وَشَرُّ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُسَاءُ اِلَيْهِ . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهُ
Artinya, "Sebaik-baiknya rumah di kalangan umat Islam adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruknya rumah di kalangan umat Islam adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk." (HR Ibnu Majah).
Tidak hanya berupa anjuran merawat dan menyantuni anak yatim saja, namun Allah SWT juga menjanjikan pahala yang sangat istimewa kepada orang-orang yang merawat anak yatim. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُما شَيْئًا
Artinya, "Aku dan orang yang merawat anak yatim seperti ini dalam surga." Kemudian nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, seraya sedikit merenggangkannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Anak yatim kehilangan ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga, sehingga perekonomiannya pun terganggu. Oleh karena itu, sebagai orang yang mampu, kita dapat menyantuni anak yatim dengan memberikan pakaian, makanan, atau sebagian harta kita yang lainnya. Karena sesungguhnya kita tidak akan merugi dengan berbagi. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَسَا يَتِيمًا مِنَ المُسْلِمِينَ كَسَاهُ اللّهُ مِنَ الحَرِيرِ الأَخْضَرِ فِي الجَنَّةِ
Artinya: "Barangsiapa yang memberi pakaian kepada seorang anak yatim dari kalangan muslimin, maka Allah akan memberinya pakaian dari sutra hijau di surga." (HR ath-Thabrani).
Dalam ajaran Islam, pemeliharaan dan pembinaan anak yatim tak terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, seperti harta, namun juga mencakup berbagai hal yang bersifat psikis. Salah satu yang terpenting adalah aspek pendidikan maka termasuk unsur penting dalam memuliakan anak yatim adalah dengan turut membiayai pendidikannya.
Pendidikan adalah salah satu hak dasar yang harus dipenuhi bagi setiap anak, termasuk anak yatim. Namun sayangnya, banyak anak yatim yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan biaya. Maka, jika kita memiliki rezeki lebih, alangkah baiknya untuk berbagi dengan membiayai pendidikan anak yatim. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَعْطَى يَتِيمًا مَالاً حَتَّى يَسْتَغْنِيَ بِهِ عَنِ النَّاسِ أَدْخَلَهُ اللّهُٰ الجَنَّةَ
Artinya: "Barangsiapa yang memberi seorang anak yatim harta sampai ia dapat mandiri dari orang lain, maka Allah akan memasukkannya ke surga." (HR Al-Baihaqi).
Seringkali kita membaca dan mendengar dalam Alquran dan Sunnah tentang orang-orang yang keras hatinya, biasanya digambarkan orang yang keras hatinya adalah yang jauh dari mengingat Allah SWT misalnya yang Allah SWT gambarkan dalam dalam surat Az zumar
أَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS az-Zumar [39]:22).
Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut pertama, bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan. Kedua, tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat Alquran yang dibacakan.
Berbeda dengan kaum mukminin, hati mereka akan bergetar jika dibacakan ayat-ayat Alquran atau diingatkan akan Allah Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal." [QS al-Anfal [8]:2).
Ketiga, tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan yang diberikan Allah Azza wa Jalla . Allah berfirman:
اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
"Dan tidakkah mereka (orang-orang munâfiq) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?." [QS At-Taubah [9]: 126)
Tanda hati keras yang keempat adalah tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allâh Azza wa Jalla.
Selain balasan istimewa berupa surga yang berdekatan dengan nabi di akhirat, merawat dan menyantuni anak yatim juga memiliki balasan yang sangat istimewa ketika di dunia, yaitu akan dilunakkan hatinya oleh Allah.
Hal ini sebagaimana diceritakan dalam salah satu riwayat sahabat Abu Hurairah, bahwa suatu saat ia mendengar seorang laki-laki yang mengadu kepada Rasulullah perihal hatinya yang keras, kemudian Nabi SAWmenyuruhnya untuk memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى النَّبِىِّ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ
Artinya, "Dari Abu Hurairah, bahwa terdapat seorang laki-laki mengadu kepada nabi tentang hatinya yang keras, maka nabi bersabda: Berilah makanan kepada orang miskin, dan usaplah kepala anak yatim."
Pada akhirnya mudah-mudahan Allah memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa memuliakan anak yatim sebagaimana perintah agama amin allahumma amin.
Naskah 4: Tingkatkan Kepedulian Sosial di Bulan Muharam
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Setiap kali memasuki bulan Muharram, umat Islam tidak hanya menyambut pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menyambut datangnya salah satu bulan yang paling dimuliakan oleh Allah SWT. Muharram menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup terus berlanjut, sementara kesempatan untuk beramal saleh semakin berkurang. Karena itu, datangnya tahun baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan." (QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menjelaskan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT. Karena itu, bulan ini semestinya diisi dengan memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, serta meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.
Hadirin yang berbahagia,
Muharram juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki akhlak, dan menata kehidupan agar lebih sesuai dengan tuntunan Islam.
Oleh sebab itu, peringatan Tahun Baru Islam tidak cukup hanya dengan mengganti kalender atau mengikuti seremonial tahunan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghadirkan semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah pada bulan Muharram. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Rasulullah SAW bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR. Muslim)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Namun Muharram tidak hanya mengajarkan kita tentang ibadah pribadi. Bulan ini juga mengajarkan kepedulian sosial. Dalam berbagai riwayat disebutkan anjuran untuk memperluas nafkah kepada keluarga, memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, serta menyantuni anak yatim.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ
"Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun." (HR. Al-Baihaqi)
Pesan hadits ini bukan sekadar tentang rezeki, tetapi juga tentang pentingnya berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar kita.
Saat ini masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi, anak yatim yang membutuhkan perhatian, serta keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas dan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
"Bukanlah seorang mukmin yang sempurna imannya apabila ia kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR. Al-Hakim)
Hadirin yang berbahagia,
Tahun Baru Islam hendaknya menjadi awal hijrah dalam berbagai aspek kehidupan. Hijrah dari kelalaian menuju ketaatan, dari sifat individualis menuju kepedulian, dari kebiasaan menunda kebaikan menuju semangat beramal saleh.
Mari jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah, mempererat persaudaraan, membantu sesama, dan menebarkan manfaat di lingkungan sekitar. Sebab keberhasilan hijrah tidak hanya terlihat dari perubahan diri sendiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain.
Semoga Allah SWT menjadikan tahun yang baru ini sebagai tahun yang penuh keberkahan, ampunan, kesehatan, dan kemudahan bagi kita semua.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: 26 Quotes Menyentuh 1 Muharram 1448, Doa Terbaik di Tahun Baru Hijriyah Bahasa Indonesia dan Inggris
Naskah 5: Muharram Bulan Mulia
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita sehingga dapat memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Kemuliaannya ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu." (QS. At-Taubah: 36)
Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Jamaah yang berbahagia,
Keutamaan Muharram juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR. Muslim)
Perhatikan bagaimana Rasulullah menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan betapa istimewa dan mulianya bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Selain sebagai bulan yang penuh keutamaan, Muharram juga menandai dimulainya tahun baru Hijriah. Momentum ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi juga sebagai waktu untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup dan ibadah selama setahun yang telah berlalu.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kualitas ibadah kita meningkat? Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya? Ataukah justru masih terjebak dalam kebiasaan dan kesalahan yang sama?
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya terus memperbaiki diri. Karena itu, datangnya Muharram seharusnya membangkitkan semangat baru untuk memperbanyak ibadah, memperkuat hubungan dengan Allah, memperbanyak sedekah, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Jamaah sekalian,
Mari jadikan bulan Muharram sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kita isi hari-hari di bulan yang mulia ini dengan amal saleh, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melaksanakan puasa sunnah, khususnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan besar.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan kemuliaan bulan Muharram untuk meningkatkan ketakwaan dan meraih keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.
Amin ya Rabbal 'alamin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(*)