Rupiah Melemah Malah Berdampak Positif Bagi Industri Wisata, Wisman Ramai Belanja di Batam
Mairi Nandarson June 15, 2026 01:07 PM

Laporan Wartawan Tribun Batam, Ucik Suwaibah 

TIRBUNBATAM.id, BATAM - Nilai tukar rupiah yang masih lemah terhadap mata uang asing dipandang membawa peluang tersendiri bagi sektor pariwisata Kota Batam.

Dengan posisi geografis yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, Batam dinilai memiliki keuntungan karena daya beli wisatawan asing menjadi relatif lebih kuat saat berkunjung.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan wisata belanja yang selama ini menjadi salah satu magnet kunjungan wisatawan mancanegara.

"Batam harus mampu memanfaatkan berbagai kondisi yang ada saat ini menjadi peluang. Salah satunya melalui penguatan wisata belanja yang memang menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan asing," ujar Ardiwinata saat ditemui pada kegiatan IHH Healthcare Malaysia Batam 5K Fun Run di kawasan HarbourBay, Minggu (14/6/2026).

Kondisi tersebut dinilai semakin membuka peluang bagi sektor pariwisata Batam.

Pada Senin (15/6/2026) pagi, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.831 per dolar AS, sementara dolar Singapura berada di kisaran Rp 13.791 ribu per SGD. 

Kondisi itu membuat daya beli wisatawan asal Singapura, yang menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisman ke Batam, relatif lebih kuat saat berbelanja maupun menikmati berbagai layanan wisata di kota ini.

Menurutnya, wisatawan yang datang ke Batam tidak hanya mengeluarkan uang untuk membeli barang kebutuhan atau produk fashion.

Belanja wisatawan juga mencakup penggunaan hotel, restoran, transportasi hingga berbagai aktivitas hiburan yang memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah.

Ardi menjelaskan, pemerintah berharap nilai pengeluaran wisatawan selama berada di Batam dapat terus meningkat. 

Semakin besar belanja yang dilakukan wisatawan, semakin luas pula dampak ekonomi yang dirasakan pelaku usaha, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, restoran hingga pelaku UMKM.

Ia menilai tren kunjungan ke pusat-pusat perbelanjaan dan kawasan komersial di Batam saat ini cukup menggembirakan. 

Wisatawan dari negara tetangga kerap memanfaatkan kunjungan mereka untuk membeli berbagai kebutuhan karena harga yang dianggap lebih kompetitif dibandingkan negara asalnya.

"Kita melihat aktivitas di pusat perbelanjaan cukup ramai. Bahkan ada wisatawan yang datang khusus untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ini tentu memberikan dampak ekonomi yang positif bagi Batam," katanya.

Selain mendorong transaksi belanja, kondisi tersebut juga diyakini berdampak pada tingkat hunian hotel dan durasi kunjungan wisatawan.

Disbudpar Batam mencatat adanya indikasi peningkatan lama tinggal wisatawan berdasarkan informasi dari pelaku industri pariwisata, meski masih menunggu data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemko Batam terus mendorong penyelenggaraan berbagai agenda pariwisata seperti sport tourism, festival budaya, hingga event internasional. 

Upaya itu dilakukan agar wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya selama berada di Batam.

"Kami terus memperkuat ekosistem pariwisata melalui penyediaan infrastruktur dan dukungan terhadap berbagai kegiatan wisata," katanya.

Ia berharap, Batam semakin dikenal tidak hanya sebagai tujuan belanja, tetapi juga destinasi yang menawarkan pengalaman wisata yang lengkap.

( tribunbatam.id/ucik suwaibah )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.