TRIBUNNEWS.COM - Sepiring nasi yang tersaji di meja makan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sederhana.
Namun di balik setiap butir beras yang kita masak jadi nasi, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak, mulai dari petani yang merawat tanaman di sawah, proses pengolahan yang menjaga kualitas hasil panen, hingga jaringan distribusi yang memastikan produk sampai ke tangan konsumen.
Kisah itulah yang tergambar dalam perjalanan Beras Baik.
Di balik setiap kemasan yang dinikmati pelanggan dari berbagai daerah, tersimpan cerita tentang para petani padi di berbagai daerah di Jawa Tengah yang merawat sawah mereka dengan kesabaran dan komitmen menjaga alam.
Baca juga: Kolaborasi JNE dan Mandalas Angkat Batik Modern ke Kancah Global
Bagi Beras Baik, beras bukan sekadar komoditas yang diperjualbelikan. Setiap bulir yang sampai ke meja makan membawa misi untuk menghadirkan pangan sehat sekaligus memberikan penghargaan yang lebih layak kepada para petani.
Karena itu, Beras Baik tidak sembarangan memilih sumber produksinya.
Mereka memastikan beras yang dipasarkan berasal dari petani yang menerapkan pertanian berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta menjalankan proses budidaya yang bertanggung jawab dan transparan.
Berawal dari Keinginan Membangun Rantai Pangan yang Lebih Adil
Perjalanan Beras Baik bermula pada akhir 2019 dari sebuah usaha kuliner bernama Nasi Peda Pelangi atau sering disebut NPP.
Saat itu muncul pertanyaan mendasar mengenai asal-usul beras yang setiap hari dikonsumsi dan dijual kepada pelanggan.
Siapa petaninya?
Bagaimana kondisi kehidupan mereka?
Apakah proses pertaniannya menjaga alam?
Apakah konsumen dapat mengetahui dengan jelas asal pangan yang mereka konsumsi?
"Kami berangkat dari pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, yakni dari mana beras yang setiap hari kita makan berasal. Saat itu, pendiri Beras Baik yaitu Mbak Nadia sedang mendalami konsep penelusuran dan akses terhadap pangan sehat. Dari sana kami menyadari bahwa hubungan antara petani dan konsumen sering kali terputus. Beras Baik kemudian hadir untuk menjembatani hubungan tersebut agar konsumen mengenal asal pangannya dan petani mendapatkan apresiasi yang lebih layak," kata Taufiqqurrahman salah satu owner dari Beras Baik saat dihubungi oleh Tribunnews.com, Sabtu (13/06/2026).
Taufiq menambahkan, Langkah awal dilakukan dengan menggandeng petani di Kabupaten Sragen dan mengelola lahan sekitar 6.000 meter persegi menggunakan metode budidaya organik yang selaras dengan alam, tanpa pestisida maupun pupuk kimia sintetis.
Komitmen tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih besar.
Setelah Sragen berhasil, Beras Baik kemudian mengepakkan sayap dengan bermitra sejumlah kelompok tani lainnya di Jawa Tengah, seperti Karanganyar, Boyolali, dan Nganjuk, Jawa Timur.
Memilih Petani yang Memiliki Nilai yang Sama
Dalam memilih mitra, Beras Baik tidak hanya melihat hasil panen atau jumlah produksi semata.
Mereka juga menaruh perhatian besar terhadap cara petani mengolah lahannya, menjaga lingkungan, serta mempertahankan komitmen terhadap sistem pertanian organiknya.
Hal ini sejalan dengan visi Beras Baik untuk menghadirkan pangan sehat yang memiliki keterlacakan yang jelas dari sawah hingga meja makan.
Salah satu kelompok tani Beras Baik adalah Kelompok Tani Mulyo 1 di Desa Gentungan, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.
"Kami memilih Kelompok Tani Mulyo 1 sebagai salah satu mitra karena mereka memiliki nilai yang sejalan dengan prinsip dan komitmen kami, terutama dalam menjaga integritas serta kelestarian alam," ujar Taufiq.
Seperti yang dijelaskan di awal, perhatian utama Beras Baik bukan hanya hasil produksi, tetapi juga bagaimana proses pertanian dilakukan dengan tetap menjaga lingkungan dan ekosistem di sekitar
Kelompok Tani Mulyo 1 dinilai memenuhi kriteria tersebut. Kelompok ini berlokasi di lereng Gunung Lawu, telah memiliki lahan bersertifikasi organik seluas hampir 20 hektare.
Selain itu, para petani juga secara konsisten melakukan pencatatan seluruh proses budidaya dari tanam, perawatan hingga menjelang proses panen tiba. Hal ini dilakukan sebagai bentuk transparansi dalam praktik pertanian.
Taufiqqurrahman menilai, Kelompok Tani Mulyo 1 menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pertanian organik dan ramah lingkungan. Hal itu, kata dia, terlihat dari konsistensi kelompok tani tersebut mempertahankan sertifikasi organik sejak 2012. Artinya, hingga saat ini mereka telah menjalankan sistem pertanian berkelanjutan selama sekitar 15 tahun.
Terpisah, Hasyim Ashari, Pembina Kelompok Tani Mulyo 1, menjelaskan bahwasannya mereka menjaga mutu salama ini tidak dimulai dari keberhasilan, melainkan dari tantangan.
“Berawal dari krisis pupuk kimia pada 2009, sekitar 15 petani di Kelompok Tani Mulyo 1 mulai beralih ke pertanian organik dengan memanfaatkan pupuk dari kotoran ternak. Meski sempat diragukan dan menghadapi masa sulit karena hasil panen organik belum mendapat nilai jual yang lebih baik, mereka tetap bertahan dan terus mengembangkan metode budidayanya. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah kelompok tani itu memperoleh sertifikasi organik pada 2012, yang membuka akses ke pasar yang lebih luas. Termasuk mempertemukan dengan Beras Baik” Jelas Hasyim, saat dihubungi tim Tribunnews.com, Minggu (14/06/2026).
Baca juga: JNE Jadi Official Logistics Partner di Gelaran “Let Them Eat Art”
Menghubungkan Petani dan Konsumen Melalui Sepiring Nasi
Upaya beras baik menciptakan system perdagangan yang lebih adil bagi para petani serta memberdayakan masyarakat sekitar wilayah produksi, termasuk melibatkan kelompok ibu-ibu dan anak muda untuk terlibat dalam berbagai aktivitas usaha ini.
Harapannya, tercipta ekosistem pangan yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh para petani.
Selain itu, ini bertujuan agar konsumen tidak hanya fokus pada kualitas hasil panen, tetapi juga memahami dan membangun hubungan yang lebih transparan dengan petani yang menghasilkan beras berkualitas.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat mengetahui asal-usul beras yang mereka konsumsi, siapa petaninya, dan bagaimana proses budidayanya dilakukan.
Distribusi Menjadi Tantangan Berikutnya
Setelah beras dipanen, diproses, dan dikemas, perjalanan produk belum berakhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan produk dapat sampai ke tangan pelanggan dengan kualitas yang tetap terjaga.
Beras merupakan komoditas yang sensitif terhadap suhu dan kelembapan. Jika proses pengiriman berlangsung terlalu lama atau tidak ditangani dengan baik, kualitas produk dapat menurun sebelum sampai ke konsumen.
Oleh karena itu, kecepatan dan keandalan distribusi menjadi faktor yang sangat penting bagi Beras Baik.
Saat ini, distribusi produk masih didominasi oleh wilayah Pulau Jawa, di antaranya Nasi Peda Pelangi yang menjadi bagian dari awal perjalanan perusahaan, serta sejumlah pelaku usaha kuliner lainnya seperti Tugu Group dan Kaum Restaurant di Jakarta.
Meski demikian, perusahaan juga secara rutin melayani pengiriman ke berbagai daerah di luar Jawa, termasuk Kalimantan.
Kerja Sama Strategis Bersama JNE
Untuk memperkuat distribusi produk di wilayah Pulau Jawa dan Kalimantan, Beras Baik menjalin kerja sama dengan JNE yang mulai berjalan pada Juli 2026.
Kemitraan ini dipilih karena JNE memiliki jaringan distribusi yang luas serta pengalaman dalam menangani pengiriman ke berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Beras Baik, dukungan logistik yang andal sangat penting untuk menjaga kualitas produk selama proses pengiriman sekaligus mempercepat waktu tempuh dari petani hingga ke pelanggan.
Selain faktor operasional, kerja sama tersebut juga didasari oleh kesamaan visi kedua pihak.
Beras Baik dan JNE sama-sama meyakini bahwa bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistemnya, mulai dari petani, mitra distribusi, hingga konsumen.
Karena itu, JNE tidak hanya dipandang sebagai mitra logistik, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun rantai pasok pangan yang berkelanjutan.
Peran JNE Menjaga Kualitas Pengiriman
Widiana, Marcomm & Partnership JNE Regional Jawa Tengah (Jateng)- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Widiana, Marcomm & Partnership JNE Regional Jawa Tengah (Jateng)- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjelaskan bahwa kerja sama dengan berbagai komunitas dan UMKM, termasuk kelompok tani, sejalan dengan nilai yang diwariskan pendiri JNE, almarhum Soeprapto Suparno.
"Kami ingin kehadiran JNE di setiap daerah tidak hanya memberikan layanan logistik, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar," ujarnya saat ditemui oleh tim Tribunnews.com, Senin (15/06/2026).
Ia menambahkan, untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga, JNE mengandalkan sistem monitoring yang terintegrasi. Melalui sistem tersebut, setiap barang dapat dipantau sejak diterima hingga tiba di tujuan.
Seluruh proses pengiriman, mulai dari titik asal, transit, hingga destinasi akhir, tercatat dan dapat dilacak sehingga membantu meminimalkan berbagai kendala selama proses distribusi berlangsung.
JNE juga memiliki mekanisme evaluasi harian yang disebut sebagai "rapor pengiriman". Lewat sistem ini, performa setiap kiriman dipantau secara berkala sehingga apabila terjadi keterlambatan, notifikasi dapat segera dikirim kepada unit terkait untuk dilakukan tindak lanjut.
Melalui pemantauan yang berlangsung dari first mile hingga last mile, kualitas layanan dan ketepatan waktu pengiriman dapat terus dijaga.
Di balik setiap kemasan yang diterima pelanggan, terdapat cerita tentang petani yang menjaga kesuburan tanah tanpa bahan kimia, komitmen untuk membangun sistem pangan yang lebih adil, serta kolaborasi berbagai pihak yang memastikan hasil kerja keras tersebut dapat diterima dan dinikmati masyarakat luas. (*)
(Andrakp/Tribunnews.com)