TRIBUNNEWS.COM - Anggota DPR RI yang juga Ketua MPR RI ke-15 serta Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyatakan bahwa gejolak geopolitik global, termasuk meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga kini belum memberikan pengaruh berarti terhadap sektor pariwisata di Bali.
Menurut Bamsoet, konflik Iran-Israel yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir telah mendorong kenaikan harga energi global, meningkatkan fluktuasi pasar keuangan internasional, dan memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia. Kondisi tersebut juga memberi tekanan terhadap rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Namun, Bali tetap menunjukkan daya tahan yang kuat sebagai destinasi wisata internasional unggulan Indonesia. Arus kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat dan aktivitas ekonomi pariwisata bergerak stabil di tengah berbagai tekanan eksternal yang sedang mengguncang perekonomian dunia.
"Situasi geopolitik dunia memang menimbulkan kekhawatiran terhadap berbagai sektor ekonomi. Namun hingga saat ini Bali menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Wisatawan mancanegara tetap datang dalam jumlah besar karena daya tarik Bali sudah menjadi bagian dari destinasi wisata dunia yang sulit tergantikan," ujar Bamsoet di Bali, Senin (15/6/2026).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, industri pariwisata Bali selama bertahun-tahun telah teruji menghadapi berbagai tantangan dunia. Mulai dari krisis keuangan internasional, pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga gejolak ekonomi dunia.
Baca juga: Bamsoet Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Soroti Substansi dan Kepastian Hukum KUHP Baru
Pengalaman tersebut membuat para pelaku industri wisata di Bali lebih adaptif dalam menyusun strategi pemasaran, diversifikasi pasar wisatawan, serta meningkatkan kualitas layanan agar tetap kompetitif di tingkat internasional.
"Kita bisa melihat bagaimana pelaku usaha pariwisata Bali bergerak cepat membaca perubahan pasar. Ketika satu pasar mengalami perlambatan, mereka mampu mengalihkan fokus ke pasar lain yang sedang tumbuh. Fleksibilitas inilah yang membuat industri pariwisata Bali tetap tangguh dalam menghadapi berbagai krisis," tutur Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, di sisi lain pelemahan rupiah juga memberikan dampak positif terhadap penerimaan devisa pariwisata.
Setiap dolar yang dibelanjakan wisatawan asing di Bali menghasilkan nilai tukar yang lebih tinggi dalam rupiah. Kondisi tersebut memberikan manfaat bagi pelaku usaha perhotelan, restoran, transportasi wisata, pelaku UMKM, industri kreatif, hingga para pekerja yang menggantungkan pendapatannya pada sektor pariwisata.
"Selama inflasi dalam negeri tetap terjaga dan stabilitas keamanan nasional dapat dipertahankan, pelemahan rupiah justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar internasional. Yang terpenting adalah menjaga kualitas layanan dan kenyamanan wisatawan," kata Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menambahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu terus memanfaatkan momentum tingginya kunjungan wisatawan asing dengan memperkuat promosi internasional, meningkatkan kualitas infrastruktur pendukung pariwisata, memperluas konektivitas penerbangan, serta memastikan keberlanjutan lingkungan dan budaya Bali tetap terjaga.
Langkah tersebut penting agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
"Krisis geopolitik dunia akan selalu datang dan pergi. Namun selama Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional, keamanan destinasi wisata, kualitas pelayanan, serta daya tarik budaya yang khas, Bali akan tetap menjadi daya tarik wisata dunia. Bahkan di tengah ketidakpastian global, Bali justru memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia," pungkas Bamsoet. (*)
Baca juga: Bamsoet Apresiasi Touring PERIKHSA Riders Malang-Bali, Dorong Komunitas Otomotif Jadi Teladan