TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kematian bayi pada masa neonatal atau 28 hari pertama setelah kelahiran masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak.
Untuk memperkuat penanganan pada periode kritis tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sulawesi Tenggara (Sultra) membekali 150 tenaga kesehatan dengan keterampilan resusitasi neonatus, stabilisasi bayi baru lahir, hingga deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) kritis.
Kegiatan pembekalan tersebut berlangsung dalam Simposium dan Workshop di Annual Meeting IDAI (Anawai), Senin (15/6/2026).
Berlangsung disalah satu hotel di Jalan Edi Sabara, Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari.
Kegiatan ini diikuti dokter anak, dokter umum, perawat, dan bidan dari 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.
Baca juga: Kenali Gejala Gagal Ginjal Akut, IDAI Perwakilan Sulawesi Tenggara Beberkan Tanda-tandanya
Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra, dr Andi Edy Surahmat.
Ketua IDAI Sultra, dr Yeni Haryani, mengatakan kegiatan ini menjadi agenda perdana yang direncanakan berlangsung setiap tahun sebagai upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani bayi baru lahir.
Menurutnya, tema neonatal dipilih karena periode tersebut merupakan fase paling krusial dalam kehidupan seorang anak dan sangat menentukan kualitas tumbuh kembang di masa mendatang.
"Bayi yang lahir dengan kelainan bawaan atau mengalami komplikasi saat persalinan membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memiliki keterampilan yang memadai untuk melakukan resusitasi, stabilisasi, serta mengenali tanda-tanda penyakit jantung bawaan sejak dini,” jelas dr Yeni kepada TribunnewsSultra.com.
Ia menyampaikan, masih terdapat kasus kelainan bawaan yang tidak terdeteksi saat lahir.
Baca juga: Ikatan Dokter Anak Sulawesi Tenggara Skrining 150 Bocah di Puskesmas Puuwatu Kendari, Jantung, Mata
Sehingga melalui pelatihan tersebut, peserta dapat melakukan penanganan awal terhadap bayi yang mengalami masalah kesehatan sejak lahir, termasuk melakukan skrining penyakit jantung bawaan kritis.
“Kami berharap kompetensi tenaga kesehatan semakin meningkat, sehingga angka kematian akibat kelainan bawaan maupun komplikasi saat persalinan dapat ditekan,” katanya.
Meski demikian, dr Yeni menyebut pencegahan tidak hanya dilakukan setelah bayi lahir, tetapi harus dimulai sejak perencanaan kehamilan.
Selain itu, proses persalinan juga perlu dilakukan di fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan menangani kegawatdaruratan neonatal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sultra, dr Andi Edy Surahmat, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Baca juga: Hari Gizi Nasional ke-64, Ikatan Dokter Anak Indonesia Bahas Panduan Pangan yang Aman
Menurutnya, dokter anak memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak, termasuk mendukung upaya penurunan stunting melalui edukasi dan kampanye pemberian air susu ibu (ASI).
“Saya berharap peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dapat memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak di Sulawesi Tenggara sehingga risiko kematian bayi dapat terus ditekan,” jelasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)