Trump Izinkan Iran Perkaya Uranium untuk Sipil, Tapi Haram Buat Militer!
Amirullah June 15, 2026 05:38 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya membeberkan rincian baru terkait kesepakatan damai yang berhasil dicapai antara Washington dan Teheran. Langkah diplomasi ini menjadi salah satu terobosan paling dramatis di panggung politik global tahun ini.

Dalam wawancara khususnya bersama The New York Times, Trump menegaskan bahwa Iran masih diperbolehkan melakukan aktivitas pengayaan uranium. Namun, ada syarat mati yang tidak bisa ditawar: pengayaan tersebut hanya boleh diperuntukkan bagi kepentingan sipil, dan haram menyentuh tujuan militer.

"Iran akan selamanya terbatas pada pengayaan uranium pada tingkat rendah yang tidak dapat digunakan secara militer," kata Trump, Senin (15/6/2026).

Melalui kesepakatan baru ini, Trump menjamin Teheran tidak akan punya celah untuk memperkaya uranium melebihi batas aman yang sudah ditentukan.

Menariknya, saat dicecar pertanyaan apakah batasan tersebut akan sama dengan kesepakatan nuklir era Barack Obama (JCPOA 2015) yang mematok angka pengayaan di angka 3,67 persen Trump memilih bungkam dan emoh menyebut angka spesifik.

Bagi Trump, esensi dari perjanjian teranyar ini adalah jaminan permanen bahwa nuklir Iran tidak akan pernah berubah menjadi senjata perusak massal.

"Mereka hanya akan dapat melakukan pengayaan untuk tujuan nonmiliter, selamanya," tegas Trump.

Baca juga: Jubir ESDM Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik: Hitungan Aslinya Rp20 Ribu, Harusnya Naik Sejak April!

Tangan Dingin Kushner & Witkoff di Balik Perjanjian Damai

Sebelum rincian ini bocor ke media, Trump lebih dulu melempar pengumuman mengejutkan melalui akun Truth Social miliknya. Ia mengklaim kedua negara berhasil merampungkan kesepakatan besar yang bertujuan menyudahi konflik berdarah sekaligus menstabilkan situasi di kawasan Timur Tengah.

Selain memangkas ambisi nuklir Teheran, kesepakatan ini juga mewajibkan AS dan Iran bekerja sama mengelola belasan ton persediaan uranium yang terlanjur diperkaya oleh Iran. Trump menyebut kedua negara bakal bahu-bahu untuk mengekstraksi, mencampur, hingga memusnahkan sekitar 12 ton bahan bakar nuklir milik Iran saat ini.

Langkah radikal ini sekilas mirip dengan skema tahun 2015 silam, di mana era Presiden Obama sukses membuang sekitar 97 persen stok uranium Iran ke Rusia demi menekan risiko pembuatan bom nuklir.

Bedanya, kali ini Trump memastikan Amerika Serikat bakal memegang kendali penuh dalam mengawasi jalannya komitmen di lapangan secara super ketat.

"Kami akan memiliki kekuatan inspeksi yang kuat," cetus Trump. Dengan sistem radar pengawasan internasional ini, dunia bisa memverifikasi langsung setiap gerak-gerik aktivitas nuklir Iran agar tidak ada yang melenceng.

Kesepakatan ini sekaligus mengakhiri perdebatan melelahkan selama tiga bulan terakhir. Di bawah komando utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, negosiasi sempat berjalan alot karena Iran ngotot tidak akan sudi menyerahkan hak pengayaan uranium mereka.

Awalnya, Trump bahkan sempat menyodorkan draf ekstrem: penghentian total seluruh aktivitas pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Setelah mendapat penolakan keras dari Teheran, kedua pihak akhirnya melunak dan memilih jalan tengah (kompromi).

Meski disambut riuh oleh Turki dan sejumlah negara Eropa, kesepakatan ini justru panen kritik dari para pejabat Israel. Tel Aviv khawatir perjanjian ini terlalu longgar dan tak akan cukup kuat membendung ambisi nuklir Iran di masa depan.

Namun, Trump bergeming dan menilai skema ini adalah opsi terbaik yang ada di meja saat ini demi meredam potensi perang global.

Flashback: Kronologi Perang Singkat AS-Israel Vs Iran

Untuk memahami betapa pentingnya kesepakatan 15 Juni 2026 ini, kita harus melihat kembali riwayat konflik berdarah yang pecah pada 28 Februari 2026 lalu.

Saat itu, situasi memanas setelah AS dan Israel nekat meluncurkan serangan udara masif ke berbagai fasilitas strategis di jantung Iran. Serangan kilat itu terjadi hanya berselang dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa mentok tanpa titik temu.

Washington dan Tel Aviv menuding Teheran diam-diam sedang merakit bom nuklir. Sebaliknya, Iran berkali-kali membantah dan bersikeras bahwa program nuklir mereka murni demi penelitian sipil dan pasokan energi dalam negeri.

Konflik semakin liar ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan wafat di awal masa peperangan. Tampuk kekuasaan tertinggi Teheran kemudian dilaporkan beralih ke tangan putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai aksi balasan, militer Iran langsung menghujani pangkalan militer AS di Teluk dan berbagai target vital di Israel dengan rudal. Tak hanya itu, Iran sempat mencekik urat nadi perdagangan minyak dunia dengan memperketat pengawasan di Selat Hormuz.

Setelah hampir 40 hari saling serang dan membuat ekonomi dunia berguncang, ketegangan akhirnya mulai mendingin berkat mediasi intensif dari Pakistan. Jalur diplomasi Islamabad berhasil menelurkan gencatan senjata sementara, yang menjadi jembatan menuju kerangka perdamaian yang diumumkan Trump hari ini.

Gencatan Senjata Berlanjut, Tapi Opsi Militer Tetap di Meja

Nota kesepahaman yang diteken pada 15 Juni 2026 ini sejatinya masih berupa kerangka dasar alias belum final. Kedua negara sepakat memberikan tenggat waktu 60 hari ke depan untuk menegosiasikan poin-poin krusial yang masih abu-abu.

Melansir laporan EuroNews, sebagai timbal balik atas kerelaan Iran membatasi nuklirnya dan membuka kembali akses bebas di Selat Hormuz, Teheran menuntut kompensasi besar. Mereka meminta AS mencabut sanksi ekonomi secara bertahap, melonggarkan embargo minyak, mencairkan aset negara yang dibekukan di luar negeri, serta menghentikan blokade laut.

Namun, Washington tetap memasang kuda-kuda. AS menegaskan bahwa opsi militer akan langsung aktif kembali jika di tengah jalan Iran ketahuan curang atau menghambat proses inspeksi. Perdamaian ini bisa dibilang masih sangat rapuh.

Apalagi, sekutu utama AS, yakni Israel di bawah kendali PM Benjamin Netanyahu, secara terang-terangan menolak kesepakatan ini. Israel emoh tunduk pada klausul yang menuntut penghentian konflik di Lebanon. Hingga saat ini, militer Israel bersikeras menolak menarik pasukannya dari Lebanon Selatan dengan alasan membentengi diri dari ancaman kelompok Hezbollah yang disokong oleh Iran.

(Serambinews.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.