Surabaya (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat kolaborasi riset dan industri farmasi melalui sinergi akademisi, dunia usaha, dan pemerintah guna mempercepat hilirisasi inovasi serta pengembangan produk kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami yakin transfer teknologi dan pengembangan produk-produk inovatif bisa dipercepat sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat melalui konsep Academic, Business, and Government (ABG)," kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dalam kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman di Ubaya, Senin.
Taruna mengatakan banyak hasil penelitian perguruan tinggi yang berpotensi menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Produk-produk inovatif tersebut perlu didorong agar lebih cepat sampai kepada masyarakat dengan tetap menjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya.
"Sebagian produk inovasi itu sangat esensial dibutuhkan masyarakat. Termasuk yang berhubungan dengan berbagai macam pengobatan, khususnya penyakit-penyakit yang selama ini sulit disembuhkan," ujarnya.
Ia menambahkan Indonesia memiliki potensi biodiversitas yang besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Terdapat sekitar 31 ribu jenis tanaman yang berpotensi menjadi sumber pengembangan produk farmasi berbasis riset.
"Kita berharap penelitian terhadap potensi biodiversitas ini terus dilakukan oleh kampus-kampus sehingga dapat menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat," katanya.
Untuk mempercepat hilirisasi inovasi, BPOM menyiapkan sejumlah terobosan regulasi. Salah satunya melalui skema conditional approval atau persetujuan bersyarat bagi produk inovatif yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Menurut Taruna, kebijakan tersebut memungkinkan produk yang telah memenuhi aspek keamanan dan menunjukkan efektivitas pada tahap tertentu memperoleh akses lebih cepat ke masyarakat sambil tetap melanjutkan pengumpulan data klinis lanjutan.
Selain itu, BPOM telah memangkas waktu evaluasi perizinan produk dari sekitar 300 hari kerja menjadi 210 hari kerja. Pemerintah juga memberikan kemudahan registrasi bagi usaha mikro dan kecil, khususnya untuk produk pangan olahan.
Taruna menyebut saat ini terdapat sekitar 1.700 produk hasil riset yang sedang berada dalam berbagai tahapan pengembangan di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 134 produk telah menunjukkan kemajuan signifikan, termasuk untuk terapi kanker, penyakit kritis, serta sejumlah penyakit langka.
"Yang terpenting adalah bagaimana hasil riset tersebut bisa sampai kepada masyarakat dengan tetap menjamin keamanan, khasiat, dan mutunya," katanya.
Sementara itu, Rektor Ubaya Dr Benny Lianto mengatakan Jawa Timur masih membutuhkan fasilitas uji klinis untuk mendukung pengembangan obat baru.
Ia mengatakan Ubaya telah menginisiasi pengembangan unit uji klinis untuk mendukung kebutuhan industri farmasi di Jawa Timur. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat melengkapi ekosistem industri farmasi di daerah.
Menurut Benny, kolaborasi antara BPOM, perguruan tinggi, dan industri berpotensi memperkuat ekosistem riset dan inovasi kesehatan di Jawa Timur.





