WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Ketegangan mewarnai aksi unjuk rasa yang digelar massa Aliansi Cipayung Menggugat di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Dalam insiden yang terjadi di tengah upaya pengamanan demonstrasi, seorang anggota Polri mengalami luka dan harus dievakuasi dari lokasi aksi.
Adapun anggota kepolisian yang terluka diketahui bernama Aipda Dyan.
Insiden bermula saat aparat kepolisian berupaya mencegah massa membakar ban yang telah disiapkan di sekitar area demonstrasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, situasi mulai memanas saat petugas mengimbau massa untuk tidak membakar ban.
Imbauan itu memicu perdebatan antara peserta aksi dan aparat yang kemudian berkembang menjadi aksi saling dorong di depan kompleks parlemen.
Di tengah kericuhan yang terjadi, Aipda Dyan terlihat mengalami luka pada bagian kaki.
Kondisinya membuat anggota tersebut kesulitan berjalan sehingga langsung mendapat bantuan dari rekan-rekannya.
“Kena pukul, kena pukul,” teriak salah seorang anggota polisi di lokasi sesaat setelah insiden terjadi.
Baca juga: Mahasiswa Kembali Kepung Gedung Parlemen, Bawa Karangan Bunga Sindir Pemerintah dan DPR
Sejumlah personel kepolisian kemudian bergegas mengevakuasi Aipda Dyan dari tengah kerumunan massa.
Ia sempat dibaringkan di atas pembatas jalan sebelum diperiksa oleh sejumlah perwira yang berada di lokasi pengamanan.
Tak lama berselang, anggota itu dibopong masuk ke dalam kompleks DPR/MPR RI guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo membenarkan adanya anggota polisi yang mengalami luka saat bertugas mengamankan jalannya aksi unjuk rasa.
“Iya, tadi kami dari Polres Metro Jakarta Pusat bersama Polda Metro Jaya melakukan pengamanan adik-adik mahasiswa yang melaksanakan unjuk rasa di depan DPR. Memang tadi terjadi sedikit gesekan,” ujar Dhimas di lokasi, Senin.
Dhimas menambahkan, gesekan terjadi saat aparat meminta massa tak melakukan pembakaran ban karena tidak termasuk alat peraga dalam demonstrasi.
“Kami meminta untuk tidak melakukan pembakaran ban karena ban bukan termasuk alat peraga dalam demonstrasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam situasi tersebut terjadi dorong-dorongan yang menyebabkan anggota polisi mengalami luka dan sempat terjatuh di tengah kerumunan.
“Dalam praktiknya terjadi sedikit gesekan sehingga anggota tersebut mengalami luka. Mungkin terdorong, terjatuh, sempat terjatuh, jadi kami evakuasi untuk diberikan pengobatan,” jelasnya.
Meski mengalami cedera, kondisi Aipda Dyan dipastikan tidak mengkhawatirkan.
Kendati demikian, ia sempat kesulitan berjalan sehingga harus dibantu oleh rekan-rekannya menuju lokasi perawatan.
“Tadi agak kesulitan untuk berjalan, jadi dibantu rekan-rekan yang lain untuk dibawa ke dalam DPR untuk diberikan pengobatan,” kata Dhimas.
Hingga sore hari, aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI masih berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.
Situasi di lokasi berangsur kondusif meski sempat diwarnai ketegangan antara massa aksi dan petugas pengamanan.
Aksi unjuk rasa yang digelar massa Aliansi Cipayung Menggugat di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026), memanas.
Ketegangan terjadi saat sejumlah demonstran meletakkan ban motor di depan mobil polisi.
Petugas kepolisian yang berjaga langsung menghalangi upaya tersebut dan meminta massa tak membakar ban.
Perdebatan antara perwakilan massa dan petugas keamanan tak terhindarkan.
Baca juga: Diblokade Petugas Keamanan, Ratusan Mahasiswa yang Gelar Unjuk Rasa Tidak Bisa Dekati Patung Kuda
Massa juga ingin memblokade jalan depan Gedung DPR/MPR RI, namun dicegah kepolisian.
Adu mulut terjadi sebelum koordinator lapangan (korlap) turun tangan menenangkan peserta aksi.
Keributan akhirnya pecah, bahkan ada salah satu anggota kepolisian terkena pukulan peserta aksi.
Satu orang dari massa tersebut juga tampak diamankan polisi, yang belakangan diketahui sebagai Dzakwan Falih (24), mahasiswa semester 10 Institut Bisnis Nusantara jurusan manajemen pemasaran.
Baca juga: Aksi Mahasiswa UBK di Gambir Memanas, Soroti Dugaan Penyimpangan MBG dan Ruang Sipil
Perwakilan massa kemudian memprotes rekannya yang dibawa masuk ke gedung DPR/MPR RI, hingga tidak lama kemudian dibebaskan polisi.
Aliansi itu merupakan gabungan sejumlah organisasi kemahasiswaan, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dan Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS).
Berdasarkan pantauan Warta Kota di lokasi, mereka tiba sekira pukul 14.00 WIB dengan massa kurang lebih 20 orang dan satu mobil komando.
Dua spanduk dibentangkan bertuliskan "Prabowo-Gibran Gatal, Gagal Total" dan "Cipayung Menggugat !!! Menuntut DPR RI Bersikap".
Ada pula kertas yang dibawa massa bertuliskan sejumlah tuntutan aksi dan wajah Prabowo dengan tulisan di sampingnya 'MBG, Mafia Berkedok Gizi' dan 'BBM, Bandit-Bandit Maling' dengan menampilkan wajah Bahlil Lahadalia.
Baca juga: Jalan Merdeka Selatan Ditutup Total, Mahasiswa UBK Bentrok dengan Polisi di Tugu Tani
Aksi baru berjalan lima menit, massa kemudian mengeluarkan ban untuk dibakar, tetapi kepolisian meminta untuk tak dibakar.
Salah satu anggota polisi berpakaian preman yang mengenakan pakaian hitam sempat berbincang dengan perwakilan massa.
Tak berselang lama, anggota itu lantas membuang ban yang hendak dibakar massa ke arah rumput-rumput.
Massa lalu tak terima hingga terjadi adu mulut dengan pihak kepolisian.
Salah satu massa sempat mengambil kembali ban yang dibuang tersebut.
Adu mulut itu hanya berlangsung sebentar dan tidak sampai ricuh
Aksi unjuk rasa kembali dilakukan. Setelah itu, hujan deras mengguyur, tetapi massa tetap bertahan di lokasi.
Mereka terus melakukan aksi unjuk rasa dan seorang orator terus menyampaikan orasinya dari mobil komando.
Dalam aksi itu, sejumlah tuntutan terkait kebijakan pemerintah disampaikan.
Massa mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Selain itu, mereka menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), serta evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Massa juga meminta pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan Program MBG hingga evaluasi dan perbaikan sistem dilakukan guna menjamin transparansi, ketepatan sasaran, efektivitas, dan akuntabilitas program.
Berikut Tuntutan Aksi:
1. Mendesak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
2. Menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia guna menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi
3. Menuntut pemerintah segera menurunkan harga BBM untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat dan mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok
4. Mendesak dilakukannya evaluasi total terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar pelaksanaannya berjalan transparan, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan persoalan baru di masyarakat
5. Menuntut penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis sampai dilakukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem pelaksanaan guna menjamin efektivitas serta akuntabilitas program