Dobrak Blokade Besi: Gibran Buka Pintu Istana, Terima 15 Perwakilan Mahasiswa UBK Sore Ini
Budi Sam Law Malau June 15, 2026 07:17 PM

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR — Perjuangan keras dan pekik idealisme ratusan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) di aspal panas Jalan Medan Merdeka Selatan akhirnya menemui titik terang yang dramatis.

Setelah diwarnai aksi saling dorong, ketegangan barikade, hingga insiden pembakaran ban, dinding pembatas itu runtuh oleh sebuah keputusan diplomatis.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dikabarkan resmi membuka pintu Istana Negara untuk menerima langsung 15 perwakilan mahasiswa UBK pada Senin (15/6/2026) sore.

Baca juga: Polisi Tumbang Terinjak Massa dalam Demo Cipayung Menggugat di DPR, Ricuh dan Rebutan Ban Bekas

Langkah ini mengubah atmosfer unjuk rasa yang semula mencekam di depan Gedung Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi momentum dialog hulu-hilir yang dinanti-nantikan oleh para demonstran.

Buah Manis Teriakan di Bawah Terik Matahari

Kabar mengejutkan sekaligus melegakan ini disuarakan langsung oleh Ketua BEM Fakultas Hukum UBK, Muhammad Abdi, dari atas mobil komando.

Di hadapan ratusan rekannya yang masih bersimbah peluh, Abdi menegaskan bahwa keteguhan sikap mereka di jalanan tidak berakhir sia-sia.

Bagi para mahasiswa, diterimanya mereka di dalam Istana adalah kemenangan moral kecil di tengah ketatnya penjagaan ring satu.

"Dari hasil perjuangan kita berkoar-koar membuahkan hasil bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menerima niat baik kami," teriak Abdi yang langsung disambut gemuruh sorak-sorai penuh haru dari massa aksi, Senin (15/6/2026).

Baca juga: Ketegangan Memuncak di Monas: Mahasiswa UBK Dua Kali Bakar Ban, Polisi Balas Pake APAR

Abdi menyatakan, 15 perwakilan yang diutus tidak akan melunak.

Mereka berkomitmen membawa seluruh berkas hasil konsolidasi nasional dan menuntut evaluasi total langsung di hadapan putra sulung Joko Widodo tersebut.

Dari Pamflet Satir Menuju Meja Evaluasi

Sebelum pintu dialog ini terbuka, situasi di lapangan sempat berada di titik nadir.

Ratusan mahasiswa tertahan oleh pagar besi dan barrier hitam setinggi 1,5 meter yang dipasang rapat oleh aparat kepolisian di kawasan Patung Kuda.

Rasa frustrasi akibat tersumbatnya akses menuju Istana sempat diluapkan massa melalui pamflet-pamflet getir yang menyayat hati, seperti tulisan "Hilangnya Keadilan" hingga sindiran mendalam: "Kabar buruknya akhir jadi WNI".

Namun, keputusan Wapres Gibran untuk menggelar karpet dialog sore ini seolah menjadi katup penyelamat dari potensi kericuhan yang lebih luas.

Kini, publik dan kawan-kawan mahasiswa yang bertahan di jalanan menunggu dengan saksama: apakah tuntutan tajam mereka akan melahirkan kebijakan baru, atau sekadar menjadi catatan formalitas di dalam ruang dingin Istana.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.