Ketegangan Memuncak di Monas: Mahasiswa UBK Dua Kali Bakar Ban, Polisi Balas Pakai APAR
Budi Sam Law Malau June 15, 2026 07:17 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Atmosfer demonstrasi di jantung Ibu Kota kian membara dan menguji urat saraf.

Aliansi Mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang tertahan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, mulai melancarkan aksi nekat.

Demi menjebol kebuntuan blokade, massa dua kali melakukan aksi pembakaran ban di depan Gedung Bank Syariah Indonesia (BSI), Senin (15/6/2026) sore.

Baca juga: Monas Membara: Demo Mahasiswa UBK Ricuh, Saling Dorong dengan Polisi di Jalan Merdeka Selatan

Asap hitam pekat yang mendadak membubung menjadi pemicu ketegangan psikologis yang hebat di lapangan.

Namun, alih-alih meletus menjadi bentrokan fisik yang anarkis, situasi panas ini justru berujung pada aksi kejar-kejaran taktis menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Siasat Bensin di Sisi Barikade dan Hujan Botol Mineral

Ketegangan aksi demo ini memuncak menjelang senja.

Sekira pukul 16.45 WIB, suasana yang sempat mereda kembali tersulut.

Mahasiswa kedapatan menyiramkan bensin ke tumpukan ban bekas, mencoba memantik api untuk kedua kalinya guna memprovokasi barikade petugas.

Melihat kobaran api kembali menyala, sejumlah personel kepolisian langsung berlari menerobos kerumunan sembari menenteng APAR.

Di tengah hujan lemparan botol air mineral dari arah massa yang emosional, petugas dengan dingin menyemprotkan cairan pemadam dan langsung menyita ban-ban yang hendak dibakar.

Baca juga: Kapolda Minta Jajarannya Amankan Jalur Presiden Jerman dari Demo Mahasiswa

Ketegangan sempat tertahan di udara ketika Kapolsek Metro Gambir, AKBP Agus Ady Wijaya, memilih menggunakan pengeras suara untuk meredam amarah almamater marun tersebut daripada merespons dengan kekerasan.

"Tidak boleh demo membawa bensin, silakan sampaikan pendapat," tegas AKBP Agus Ady Wijaya di tengah keriuhan massa, Senin (15/6/2026).

Peringatan tegas namun persuasif itu perlahan meruntuhkan ego kelompok mahasiswa, hingga situasi perlahan kembali kondusif.

"Kabar Buruknya Akhir Jadi WNI"

Kekecewaan mendalam memang melingkari benak ratusan mahasiswa UBK hari ini.

Langkah kaki mereka menuju Istana Negara dihambat total oleh pagar besi dan barrier hitam setinggi 1,5 meter yang dipasang aparat.

Ketidakpuasan atas kondisi bangsa mereka tumpahkan melalui pamflet-pamflet satir yang menyayat hati, seperti tulisan "Hilangnya keadilan" bersanding foto Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, hingga ungkapan keputusasaan: "Kabar buruknya akhir jadi WNI".

Meski sempat diwarnai aksi provokasi bakar ban dan lempar botol, kedewasaan aparat dalam menahan diri membuat darah tidak perlu tumpah di aspal Merdeka Selatan.

Massa mahasiswa akhirnya memilih kembali naik ke atas mobil komando, melanjutkan kepalan tangan kiri dan pekik idealisme mereka di bawah kawalan ketat petugas yang tetap bersiaga hingga malam merayap.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.