Ternyata orang Amerika sangat menyukai gamelan, baik itu gamelan Jawa, gamelan Bali dan gamelan Sunda. Gamelan resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) pada 15 Desember 2021.
Perkenalan orang AS dengan gamelan, pertama kali terjadi saat World's Fair tahun 1893 di Chicago. Saat itu paviliun Hindia Belanda menampilkan pertunjukan gamelan yang memukau dan menarik perhatian publik serta komposer Amerika.
Pada tahun 1958, profesor etnomusikologi Mantle Hood mendirikan program studi musik gamelan pertama di University of California, Los Angeles (UCLA). Hood mendatangkan seperangkat gamelan dan maestro gamelan langsung dari Jawa dan Bali, menjadikannya standar baru untuk mempelajari musik dunia.
Sejak saat itu, banyak universitas besar seperti University of California, Cornell University, Wesleyan University dan University of Pittsburgh membuka program gamelan sendiri.
Komposer Amerika Lou Harrison dikenal karena aktivitasnya dalam memadukan musik dari berbagai budaya dunia dan, di kemudian hari, membuat instrumen musik. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, Harrison dan William Colvig menciptakan instrumen metalofon yang sangat resonan kemudian dikenal sebagai Gamelan Amerika, berupa seperangkat pipa bernada dan lempengan aluminium yang dipasang pada satu kunci.
Grup gamelan di AS yang pemainnya bule Amerika yaitu Gamelan Laras Tentrem (Boston), Gamelan Kusuma Laras (Kota New York), Gamelan Sari Raras Irama (Buffalo, New York), Gamelan Sekar Jaya, grup gamelan Bali di Berkeley, gamelan Sari Raras (grup gamelan Jawa di UC Berkeley serta komunitas gamelan lainnya di sejumlah universitas dan perguruan tinggi lainnya di AS. Selain itu, berbagai festival gamelan juga digelar di AS, salah satunya Los Angeles Gamelan Festival yang berlangsung setiap bulan Juni.
---





