BREAKING NEWS Polisi Bubarkan Massa Pakai Mobil RAISA di Jalan Pahlawan Semarang
raka f pujangga June 15, 2026 09:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Hari mulai gelap di Kota Semarang, Senin (15/6/2026).

Jalan Pahlawan yang sebelumnya menjadi pusat aksi ribuan mahasiswa, masih dipadati massa. 

Di tengah jalan yang arus lalu lintasnya sempat tertutup, sekelompok massa berbaju hitam terlihat berlarian menyusuri ruas jalan menuju kawasan tugu air mancur.

Baca juga: Foto-foto Demonstrasi Mahasiswa Undip di Jalan Pahlawan Semarang, Singgung Negara Hancur 90 Persen

Dari pengeras suara milik kepolisian, imbauan terus bergema. 

Polisi meminta massa tidak melakukan perusakan fasilitas umum dan segera membubarkan diri karena aksi dinilai telah mengganggu ketertiban umum.

Sekitar pukul 18.28 WIB, satu unit mobil taktis bertuliskan RAISA (Pengurai Massa) dari kepolisian dikerahkan ke lokasi. 

Kendaraan itu menyemprotkan kabut dan air ke arah kerumunan yang masih bertahan di Jalan Pahlawan. 

Di sekelilingnya, personel kepolisian dari berbagai satuan berjaga sambil mengatur arus lalu lintas yang tersendat akibat aksi.

Sebagian massa terlihat merekam momen tersebut menggunakan telepon genggam. 

Beberapa lainnya bersorak dan mengangkat tangan ketika kendaraan taktis bergerak perlahan di tengah jalan.

Melalui pengeras suara, petugas kembali mengingatkan bahwa penyampaian pendapat di muka umum memiliki batas waktu hingga pukul 18.00 WIB. 

Polisi meminta massa segera meninggalkan lokasi agar aktivitas lalu lintas dapat kembali normal.

Sementara itu, sepeda motor trail dinas milik kepolisian berbaris siaga di sepanjang jalan, sementara sisa material yang sebelumnya dibakar masih tampak di pinggir ruas jalan.

Polisi juga menegaskan melalui pengeras suara bahwa kelompok yang masih bertahan di lokasi bukan lagi massa mahasiswa yang sejak sore menyampaikan aspirasi.

Sebelumnya, aksi mahasiswa di Jalan Pahlawan sempat berujung blokade jalan. 

Mereka bahkan sempat membakar poster kampanye dan boneka yang diikat di gerbang DPRD Jawa Tengah. 

Massa juga membentangkan spanduk bertuliskan "Negara Sedang Kritis Ayo Jangan Apatis" dan menolak membubarkan diri dengan alasan Jalan Pahlawan merupakan jalan milik rakyat.

Massa mulai terdesak mundur. 

Sebagian yang bertahan ditarik ke tepi jalan, sementara kelompok lainnya tercerai-berai setelah aparat melakukan pengejaran ke arah Jalan Imam Bardjo, kawasan Pleburan.

Dalam pengejaran tersebut, polisi mengerahkan satu unit mobil Raisa, belasan motor Brimob, dan puluhan personel berpakaian preman.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto menjelaskan bahwa secara umum pengamanan aksi unjuk rasa yang dilakukan Polda Jawa Tengah bersama Polrestabes Semarang berlangsung tertib dan kondusif.

"Namun sempat dicederai oleh beberapa aksi pembakaran ban, yang tentunya ini harus kita lakukan tindakan pemadaman," kata Kombes Artanto di lokasi.

Menurut dia, sebelum melakukan pemadaman, polisi terlebih dahulu mengingatkan peserta aksi agar menjauh dari area pembakaran.

"Dan sebelum pemadaman terhadap api tersebut, kita sudah menyampaikan ke peserta unjuk rasa untuk segera mematikan atau menghindar dari siraman water cannon dari pihak kepolisian. 

Dengan harapan, kalau api itu mati, situasi menjadi kondusif kembali," imbuh dia.

Kombes Artanto menegaskan tidak terjadi bentrokan ataupun gesekan antara mahasiswa dan aparat selama aksi berlangsung.

"Dan nihil ada gesekan. 

Sepanjang penyampaian pendapat, orasi disampaikan, dan kita juga mengimbau kepada rekan-rekan mahasiswa untuk tidak berbuat anarkis. 

Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tertib," katanya.

Dia mengakui aksi sempat menyebabkan lalu lintas tersendat. 

Namun polisi melakukan rekayasa lalu lintas agar kendaraan tetap dapat melintas.

"Pada saat penyampaian pendapat, sempat beberapa arus lalu lintas tersendat, namun kita ingatkan kepada para pengunjuk rasa supaya tidak menghalangi jalur lalu lintas bagi pengemudi yang lain. 

Dan itu pun sudah diingatkan dan kita juga melakukan rekayasa arus lalu lintas," lanjut dia.

Sebanyak sekitar 2.300 personel gabungan dari Polda Jawa Tengah, Polrestabes Semarang, dan instansi terkait, lanjut dia, diterjunkan untuk mengamankan aksi yang dipimpin langsung Kapolrestabes Semarang.

Senada dengan itu, Kasihumas Polrestabes Semarang Kompol Riki Fahmi Mubarok mengatakan tindakan penyemprotan menggunakan kendaraan AWC dilakukan untuk memadamkan ban yang dibakar peserta aksi.

"Memang betul ada kegiatan unjuk rasa yang aman dan kondusif ini dicederai sedikit ada pembakaran ban yang dilakukan oleh oknum peserta aksi. 

Nah, tentu pembakaran ban ini dirasa akan menimbulkan provokasi," ungkap Kompol Riki.

Menurut dia, polisi melakukan pemadaman menggunakan APAR dan kendaraan water cannon demi menjaga situasi tetap aman.

"Polrestabes Semarang dalam hal ini melakukan kegiatan kepolisian dengan melakukan pemadaman terhadap pembakaran ban tersebut dengan menyemprotkan APAR dan juga menyemprotkan air menggunakan kendaraan AWC. 

Hal ini tentunya kita lakukan untuk menciptakan situasi yang kondusif antara peserta aksi, petugas, dan juga masyarakat," imbuh dia.

Aksi Sebelumnya

Aksi yang digelar Aliansi Mahasiswa Seluruh Semarang itu sebelumnya diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai kampus. 

Massa melakukan long march dari kawasan Pleburan menuju Jalan Pahlawan setelah lebih dulu menggelar aksi di depan Kantor Pertamina Jateng-DIY dan Tugu Muda.

Massa terbagi di dua titik, yakni kelompok BEM Semarang Raya di depan DPRD Jawa Tengah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Ketua HMI Cabang Semarang Muhammad Nabil Muallif mengatakan pembakaran ban dilakukan sebagai simbol semangat mahasiswa.

"Ya ini simbol semangat kami sebagai mahasiswa dan pemuda," ujarnya.

Dia menyebut aksi diikuti sekitar 5.000 mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang. 

Baca juga: Presiden Terjerat Korupsi Pengendali Banjir, Puluhan Ribu Warga Filipina Demonstrasi

Massa menuntut evaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang dinilai merugikan masyarakat.

Sementara BEM Semarang Raya menyampaikan Panca Tuntutan Rakyat (Pantura), antara lain menurunkan harga BBM dan menstabilkan nilai rupiah, mengembalikan TNI-Polri pada fungsi semula, mengevaluasi MBG dan Kopdes, mengembalikan tanah kepada rakyat, serta menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di pemerintahan.

Meski aksi berakhir dengan pembubaran massa dan pengerahan mobil Raisa di Jalan Pahlawan, kepolisian memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tanpa penangkapan maupun bentrokan antara aparat dan peserta aksi. (rez/iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.