Laporan Wartawan Serambi Indonesia Aulia Prasetya | Sabang
SERAMBINEWS.COM, SABANG - Polemik terkait rencana pengolahan gas hasil temuan di Blok Andaman terus menjadi perhatian berbagai pihak.
Di tengah perbedaan pandangan antara Pemerintah Aceh dan Mubadala Energy, Sabang dinilai dapat menjadi alternatif yang mampu mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak.
Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arahman mengatakan, hingga saat ini Mubadala Energy tetap mempertahankan rencana untuk tidak menggunakan fasilitas Arun sebagai lokasi pengolahan gas yang ditemukan di Blok Andaman.
Perusahaan tersebut lebih memilih menggunakan skema Floating Production Storage and Offloading (FPSO) atau fasilitas pengolahan yang ditempatkan di laut.
Di sisi lain, Pemerintah Aceh menginginkan agar pengolahan gas dilakukan di daratan.
Khususnya dengan memanfaatkan kembali fasilitas Arun yang selama ini menjadi salah satu aset strategis sektor energi di Aceh.
Baca juga: Polemik Gas Blok Andaman, ForBINA Dorong Skema Win-Win Solution antara Pemerintah Aceh dan Mubadala
"Perbedaan pandangan ini tentu membutuhkan solusi yang dapat diterima semua pihak,” kata Wakil Ketua DPRK Sabang.
“Jika Mubadala tidak ingin mengolah gas di Arun dan Pemerintah Aceh juga tidak menghendaki pengolahan sepenuhnya dilakukan di tengah laut, maka Sabang dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan," ujar Albina, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, secara geografis Sabang memiliki karakteristik yang unik karena merupakan wilayah kepulauan.
Dengan demikian, opsi pembangunan fasilitas pengolahan di Sabang dapat menjawab keberatan Mubadala terhadap pengolahan di daratan utama Aceh.
Sekaligus memenuhi harapan Pemerintah Aceh agar aktivitas hilirisasi dan nilai tambah ekonomi tidak sepenuhnya berada di laut.
Albina menilai, keberadaan fasilitas pengolahan di Sabang akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Aceh dibandingkan jika seluruh proses dilakukan melalui FPSO di tengah laut.
Baca juga: Seberapa Penting Gas Blok Andaman Diolah di Aceh
Selain membuka peluang investasi lanjutan, keberadaan fasilitas tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas industri pendukung, serta memperkuat posisi Sabang sebagai kawasan strategis di sektor energi.
"Konsep ini dapat menjadi win-win solution. Sabang bukan fasilitas Arun yang berada di daratan utama Aceh, tetapi juga bukan pengolahan sepenuhnya di tengah laut,” ulasnya.
“Dengan demikian, kepentingan investasi Mubadala tetap terakomodasi dan Aceh juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih nyata," papar dia.
Ia berharap, Pemerintah Aceh, Pemerintah Pusat, dan Mubadala Energy, dapat membuka ruang dialog yang lebih luas untuk mengkaji berbagai alternatif pengolahan gas Blok Andaman.
Termasuk menjadikan Sabang sebagai salah satu opsi strategis yang layak dipertimbangkan demi kepentingan jangka panjang daerah dan investasi energi nasional.
Baca juga: PoD Mubadala Masih Tertahan, Terkait Sengkarut Gas Blok Andaman
Sebelumnya, polemik mengenai pengolahan gas Blok Andaman mencuat setelah muncul perbedaan pandangan terkait lokasi pengolahan hasil temuan gas yang dinilai memiliki potensi besar bagi masa depan sektor energi Aceh.
Sejumlah pihak mendorong agar keputusan yang diambil nantinya mampu memberikan manfaat optimal bagi masyarakat Aceh sekaligus menjaga iklim investasi yang kondusif.(*)