TRIBUNJAKARTA.COM - Mahasiswa yang berunjuk rasa di Jakarta pada Jumat (12/6/2026) dan pada hari ini, Senin (15/6/2026), mendapat perlakuan berbeda dari Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.
Pada Jumat lalu, massa demo yang mayoritas berasal dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di bawah komando Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), harus menyuarakan aspirasinya sambil berhadapan dekat dengan barikade aparat.
Bahkan, titik aksi yang sudah diagendakan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, gagal dijangkau karena diadang petugas kepolisian maupun TNI.
Akhirnya, dari siang hingga malam hari, penyampaian aspirasi disampaikan di Jalan MH Thamrin, sekitar 900 meter dari Bundaran HI.
Saat sejumlah kelompok mahasiswa mengagendakan demo di sejumlah titik pada Senin (15/6/2026), BEM UI memilih tidak ikut turun.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan, mengatakan, saat ini pihaknya masih mengevaluasi aksi unjuk rasa pada Jumat lalu.
"Kita belum turun dikarenakan kita masih dalam tahap evaluasi dan membangun kembali gerakan," ujar Athof saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan singkat pada Senin.
Meski demikian, BEM UI tetap mendukung aksi yang digelar BEM berbagai universitas pada hari ini.
Menurut Athof kondisi Indonesia saat ini memang memerlukan perhatian khusus.
"Dari BEM UI mendukung semua gerakan moral untuk protes dikarenakan kondisi Indonesia saat ini yang menuju bangkrut," tegasnya.
Sementara itu, puluhan mahasiswa dari Universitas Bung Karno (UBK) menggelar demo di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang mereka nilai perlu dievaluasi.
Mahasiswa membawa berbagai poster dan spanduk berisi tuntutan. Salah satu poster yang menjadi perhatian menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto yang dicoret menggunakan pilok merah.
Selain itu, massa juga menyampaikan aspirasi melalui orasi dari atas mobil komando yang dibawa ke lokasi aksi.
Dalam tuntutannya, mahasiswa menyoroti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax yang dinilai memberatkan masyarakat.
Mereka juga mengkritisi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut mereka perlu diawasi dan dievaluasi secara menyeluruh.
Tak hanya itu, mahasiswa turut menyinggung persoalan korupsi yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG serta menyuarakan penolakan terhadap Undang-Undang Polri terbaru.
Saat aksi berlangsung, massa sempat terlibat aksi dorong-dorongan dengan aparat kepolisian yang melakukan penjagaan di sekitar lokasi demonstrasi.
Sejumlah mahasiswi bahkan terlihat berada di barisan terdepan dan ikut mendorong barikade polisi ketika massa berupaya mendekati titik pengamanan.
Meski sempat diwarnai ketegangan, aksi tetap berlangsung kondusif dan berada dalam pengawasan aparat.
Menjelang sore hari, perwakilan mahasiswa kemudian mendapat informasi bahwa mereka akan diterima untuk berdialog di Istana Wakil Presiden.
Sebanyak 15 orang ditunjuk sebagai delegasi untuk menyampaikan langsung aspirasi dan tuntutan mahasiswa kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, peserta aksi lainnya yang masih bertahan di sekitar Jalan Medan Merdeka Selatan hingga Senin petang.
Berdasarkan pantauan TribunJakarta.com, para mahasiswa memasuki Kompleks Istana Wakil Presiden sekitar pukul 17.30 WIB.
Mereka datang secara berkelompok dengan didampingi sejumlah pihak usai menerima undangan untuk berdialog langsung dengan Wakil Presiden.
Para mahasiswa kemudian memasuki gedung istana setelah menjalani prosedur pengecekan barang bawaan yang dilakukan tim Paspampres di lokasi.
Ketua Umum BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Muhammad Abdi mengatakan, pertemuan tersebut membuahkan hasil karena mahasiswa dapat menyampaikan berbagai aspirasi secara langsung kepada orang nomor dua di Indonesia tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya selaku koordinator aksi di Universitas Bung Karno, yang mungkin ada dari Universitas MH Thamrin juga yang turut ikut di dalam. Tentu hasil dari pertemuan sama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membuahkan hasil," kata Abdi usai pertemuan.
Menurut dia, mahasiswa menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui, baik yang berasal dari daerah maupun isu-isu nasional yang menjadi perhatian publik.
"Kawan-kawan mahasiswa pun menyampaikan aspirasi, baik keluh kesah mereka dari daerah, baik dari keluh kesah skala nasional, mereka menyampaikan secara konstitusional ke depan langsung Bapak Wapres," ujarnya.
Abdi juga memuji sikap Gibran selama pertemuan berlangsung.
Menurutnya, putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu mendengarkan setiap masukan yang disampaikan mahasiswa.
Ia menyebut Gibran bahkan mencatat langsung berbagai tuntutan mahasiswa dalam sebuah buku kecil yang dibawanya.
"Pun respons dari pihak-pihak tentunya Bapak Wapres sangat baik. Dia akan catat hasil dari tuntutan-tuntutan kami dengan buku kecilnya tadi," ucap Abdi.
"Catat poin-poinnya yang harus Bapak Wapres itu ke depannya untuk memperbaiki dan mengevaluasi segala bentuk yang janggal di negara hari ini," lanjutnya.