TRIBUNWOW.COM - Suasana hiruk pikuk keramaian saat itu padati suatu gedung hotel baru di daerah Banjarsari, Solo.
Karpet biru melintang panjang dari panggung utama sampai ke depan pintu.
Kursi-kursi dengan rapi berjejeran dari barat dan timur panggung.
Di salah satu sudut barat, terlihat wanita duduk seraya memainkan gawainya.
Ditemani dengan dua tongkat penyangga yang diletakkan tepat di sisi kanannya.
Wanita itu tak lain ialah Sri Mismiyati, ketua dari Diva Disabilitas Solo.
Saat itu, Sri Mismiyati tengah menantikan produknya yang turut serta dalam fashion show yang diselenggarakan di sebuah hotel yang belum lama diresmikan.
Seraya menantikan produk fashionnya tampil, Sri Mismiyati menceritakan perjuangan dirinya dan rekan-rekan disabilitas wanita yang berada dalam satu wadah visi misi yang sama yakni Diva Disabilitas.
Di mana, Diva Disabilitas terbentuk dari program pemberdayaan wanita yang saat itu mengikuti program pelatihan dari Jalatera dan Kota Kita pada tahun 2024 lalu.
"Sebenarnya diva itu lahir dari sebuah program pemberdayaan wanita, semuanya ada 20 orang itu semuanya wanita tapi khususnya yang disabilitas, dan di situ saya terpilih sebagai ketuanya dan itu lahir dari pelatihan Jalatera dan Kota Kita 2 tahun yang lalu. Diva disabilitas baru 2 tahun," ujar Sri Mismiyati kepada TribunWow.com, Minggu (14/6/2026).
Sri menjelaskan perjuangan adanya Diva disabilitas yang saat itu diawali dengan adanya pelatihan dan pembekalan UMKM untuk teman-teman disabilitas terutama wanita.
"Itu pelatihan UMKM, jadi memang kita dari Jalatera itu mencari disabilitas yang mempunyai usaha, awalnya seperti itu, lalu dikumpulkan lah menjadi difabel mandiri, bukan kebetulan, kita dikumpulkan," lanjutnya.
Selama setengah tahun, Sri Mismiyati dkk dibekali untuk bisa mengembangkan UMKM yang sudah dimulai.
Di mana, teman-teman disabilitas yang turut dalam pelatihan dan kini tergabung dalam Diva Disabilitas itu memiliki beberapa UMKM seperti kuliner dan fashion.
"Kalau dulu itu kan satu setengah tahun itu diberikan pelatihan pembekalan kemudian setelah itu kita berusaha masing-masing lagi dengan ilmu yang sudah diberikan. Setelah kita diberikan pelatihan, jangan sampai kita masing-masing lagi, bersatu bagaimana kita bisa menyatukan produk teman-teman untuk bisa dijual bareng-bareng dan bisa usaha bareng-bareng, banyak yang kuliner."
"Ada yang kuliner yang punya warung nasi padang, ada yang produknya tape ketan, ada yang produknya karak herbal, ada yang produknya cemilan, ada yang produknya seperti kuker (kue kering), ada yang jasa fashion, ada yang craft, untuk yang fashion cuma ada dua," jelas wanita berusia 54 tahun tersebut.
Menurut wanita asli Gebang, Solo itu adanya pelatihan itu semakin mengembangkan usaha UMKM dari rekan-rekan disabilitas lainnya.
Mengingat, pelatihan yang diberikan terkait dengan perkembangan pemasaran melalui teknologi.
"Mereka lebih maju dari yang awalnya, karena pelatihan itu kan terkait digital wanita umkm apalagi disabilitas itu agar tidak ketinggalan digital, pelatih tiap bulan itu berganti-ganti mulai dari canva, WA Business, dan terakhir AI. Karena awalnya biasa saja, kini setelah masuk diva banyak peningkatan, kemajuan termasuk packaging dll," ungkapnya.
Lebih lanjut, tak lama setelah terbentuk, Diva Disabilitas mendapatkan kesempatan untuk membuka toko di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Kota Solo.
Kontrak satu tahun diberikan dari pihak rumah sakit kepada teman-teman Diva Disabilitas.
"Karena kita mempunyai link di rumah sakit swasta di Solo kita ditawarin lah untuk buka toko di sana, kita di kasih kontrak 1 tahun," bebernya.
Di mana, produk yang dijual terkait dengan kebutuhan karyawan rumah sakit, pasien dan makanan kering terutama milik dari teman-teman Diva Disabilitas.
"Jadi selain menjual produk teman-teman yang kuliner tadi, kita juga menjual produk yang dibutuhkan rumah sakit, misalnya pasien membutuhkan apa, seperti pampers dll, teman-teman itu banyaknya beli online agar menghemat tenaga."
"Misalkan kebutuhan sehari-hari pasien yang jaga terus karyawan, misalkan membutuhkan air mineral, kita produk kering," ungkapnya.
Toko yang ditempati kawan-kawan Diva Disabilitas itu secara bergantian dijaga oleh dua orang per shift hingga tutup pukul 19.00 WIB.
"Untuk sementara ini fokusnya di toko baru 4-5 bulan, kita baru 2 tahun, 1 setengah tahun pelatihan dan selebihnya kita dapat kontrak di toko itu, kegiatan sehari-hari kita bergiliran untuk jaga toko, jadi dijadwal."
"Per satu minggu, satu hari dua orang, pagi dua, siang dua, ada dua shift, sampai jam 6 sore atau 7 malam, karena rata-rata rumahnya jauh, ada yang dari Mojosongo, Kampung Sewu, Pasar Kliwon kalau yang dari laweyan kan dekat, yang jauh ya yang dari mojosongo dan pasar kliwon, semua masih dari Solo" ucapnya.
Disabilitas Bukan jadi Batas, Kirim Produk ke Penjuru Indonesia & Mancanegara
Saat menceritakan kisah perjuangannya, Sri nampak mengenang momen-momen di mana usahanya naik turun bahkan pernah hampir terjatuh di kala masa pandemi.
Meski begitu, kala itu, Sri Mismiyati turut memperkerjakan 3 teman disabilitas sebagai karyawannya.
"Kalau usaha saya sudah 10 tahun, dulu ada beberapa, bahkan ada 3 kawan disabilitas dari banyak karyawan, saat itu ada 9, karyawan, namun karena ada pandemi, teman-teman yang disabilitas itu kesusahan setiap hari harus pulang pergi, apalagi kalau hujan, akhirnya mereka bawa bahan terus di bawa pulang, sekarang masih ada tinggal 1 orang," ujarnya.
Untuk produk-produk yang dibuat di antaranya ada tenun, outer, crop top dan kulot serta ada rompi dan sejenisnya.
"Produknya tenun, ada outer ada croftop ada kulot ada rompi dan sejenisnya," ungkap wanita asli kelahiran Solo tersebut.
Tak disangka, meski Sri Mismiyati memiliki keterbatasan tidak bisa berjalan dengan baik, tekad dan usahanya sukses membawa brand nya Miscoll Fashion merambah ke beberapa negara besar di dunia.
Bahkan tak terkhusus satu benua, produk wanita yang akrab disapa Ibu Miscall itu sudah merambah ke benua Amerika, Asia dan Afrika.
"Produknya sudah sampai ke luar negeri sampai Amerika, Jepang, Nigeria, karena kebetulan ada pelanggan yang tinggal di sana, pesan di sini kirim ke sana. Sampai sekarang masih, masih hubungan yang di Amerika itu masih, di Jepang itu masih, mereka dipakai sama teman-teman," jelas Sri.
Sementara untuk pengiriman lokal, Sri menyebut produknya sudah mencapai Riau, Jakarta dan Kalimantan.
Tak cuma dipasarkan di media sosial, produk outer Sri juga turut dipasarkan di setiap akhir minggunya di dalam hotel.
"Setiap weekend ada di hotel-hotel di Solo, kita punya grup Solo Preneur itu yang setiap weekend jualan di hotel. Itu ada komunitas yang jualan di hotel," beber Sri.
Peran Nyata JNE untuk Teman Disabilitas
Menurut Sri Mismiyati, peran besar produknya dapat menjangkau pasar lokal dan asing tak terlepas dari adanya bantuan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).
Adanya relasi yang juga bekerja di JNE semakin memudahkan komunikasi Sri.
"Karena saya kalau dapat pesanan itu saya punya langganan JNE kebetulan teman saya. Selalu saya tanyakan, mas bisa sampai tanggal sekian tidak karena di tanggal sekian mau dipakai, insyallah bisa, ternyata benar sampai di sana, ada yang di Riau, Kalimantan," ucap Sri.
Sudah lima tahun lamanya Sri menggunakan JNE sebagai mitra ekspedisi produknya.
Bahkan sampai saat ini, pengiriman terjauh hingga Kalimantan dan Riau pun berhasil dilalui tanpa adanya komplain.
"Selalu pakai JNE sudah dari 5 tahun yang lalu, apalagi itu memang teman saya tokonya dekat sama JNE. Paling jauh dari Kalimantan dan Riau, sejauh ini tidak ada komplain," lanjutnya seraya mengingat banyaknya peran JNE.
Momen paling dikenang Sri terkait peran JNE saat dirinya melakukan pengiriman 30 pcs seragam ke Batam.
Saat itu, seragam baru bisa dikirim Sri 3 hari sebelum digunakan.
Namun, dengan program kilat JNE dan kesigapan petugasnya saat itu, produk Sri bisa tiba di pelanggan pada malam hari sebelum keesokan harinya digunakan.
"Waktu itu kirim seragam 30 pcs ke Batam, misalkan tanggal 5 harus dipakai, saya kirimnya tanggal 2, mas ini bisa gak sampai di sini, saya pakai kilat, oh bisa, hari ini tanggal sekian datang, terus saya tanya sama yang pesan sudah datang atau belum ternyata malamnya sudah sampai," pungkasnya.
Jari jemari tangan Dyan Primadyka (36) begitu terampil menyisir likak-likuk motif batik kontemporer yang terukir indah di bentangan kain berwarna terang.
Di pojok ruangan, suasana hening, tenang nan asri turut temani goresan demi goresan ukirannya.
Beberapa kali, bentangan kain itu ditata ulang mengikuti arah yang ia tuju.
Meski melelahkan dan penuh kesabaran, Dyan Primadyka tak sekalipun menunjukkan rasa letihnya.
Rasa lapar akan prestasi serta demi menjaga eksistensi cagar budaya batik jadi pelecut semangatnya.
Eksistensi cagar budaya yang coba terus ia jaga bersama rekannya Taufan melalui Batik Toeli Laweyan.
"Saya sejak tahun 2012 bekerja di Batik Mahkota laweyan, lalu menyampaikan ide soal Batik Toeli pada tahun 2019 kepada pak Alpha dan mas Taufan," jelas Dyan melalui fitur pesan di handphone pribadi miliknya kepada TribunWow.com, Senin (1/6/2026).
Sudah 14 tahun lamanya Dyan berkecimpung menjaga cagar budaya warisan nusantara itu.
Awal membatik, Dyan didampingi oleh pemilik Batik Mahkota yang juga merupakan salah satu pencetus Batik Toeli, Alpha Fabela Priyatmono.
"Awalnya saya bikin design batik pakai motif ide kreatif tradisional proses visual motif. Proses awalnya didampingin pak Alpha, beliau kasih tahu saya secara proses batik dengan menggunakan design terlebih dahulu menggunakan motif isen tradisional," terangnya.
Lebih lanjut, Dyan juga turut menerangkan proses pembuatan batik yang tengah ia lakoni.
Melalui pesan whatsapp, Dyan menjelaskan secara runtut prosesnya dalam memproduksi batik.
Kebetulan, pada saat itu, Dyan tengah memproduksi batk kontemporer pesanan dari orang Belanda.
"Awalnya ngeblat motif dulu, setelah itu proses pewarnaan, tunggu kering lanjut waterglaass supaya tidak luntur dan awet warnanya, lanjut nglorod untuk menghilangkan malam, kemudian dicuci bersih, setelah itu lanjut dijemur sampai kain kering, baru kemudian kain bisa dijual di toko," ujar Dyan.
Tak sekedar berkecimpung dalam proses produksi batik, Dyan juga turut memberikan pelatihan membatik kepada para wisatawan baik lokal hingga mancanegara.
"Job kerja 2 tempat disana toeli dan mahkota kalau ada kunjungan pelatihan batik saya juga ajarin bantu anak-anak dan dewasa juga ada temanku bule dari Jerman," bebernya.
Meski memiliki keterbatasan, para wisatawan yang mengunjungi Batik Toeli dan Mahkota mengaku tak mempermasalahkan kondisi Dyan.
Para wisatawan justru merasa dibuat nyaman akan keramahan Dyan saat melakukan pelatihan.
"Orang yang sedang melakukan kunjungan pelatihan batik biasanya bertanya kepada saya yang disabilitas tuli, bukan merasa tidak nyaman, mereka justru malah merasa bahagia karena keramahan saya membantu pelatihan membatik meski saya tuli," jelasnya.
Senada dengan Dyan, Manajer Produksi Batik Mahkota sekaligus founder Batik Toeli, Taufan Wicaksono, turut membeberkan respon para wisatawan mengenai kinerja para kawan tuli.
"Responnya sangat respek, kagum juga, mereka itu memiliki keterbatasan tapi bisa membuat dan memproduksi batik sendiri di mana batik sudah jadi warisan budaya kita, mereka yang belajar batik itu minimal 1 tahun baru bisa, di lihat dari teknik kerapiannya, alur dari goresan, itu kalau tidak sering membatik keliatan besar kecilnya untuk batik tulis, itu kan gak sebentar," pungkas Taufan.
Proses pemasaran Batik Toeli untuk menjaga eksistensi batik tulis sejauh ini sudah merambah ke kota besar hingga pelosok negeri.
Taufan menjelaskan, upaya dirinya dan Dyan dalam menjaga eksistensi batik tulis tak bisa berjalan baik jika tak ada dukungan dari stakeholder terkait lainnya dalam hal ini adalah PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sebagai mitra bisnis ekspedisi pengiriman batik tulis.
Menurutnya, JNE merupakan ekspedisi yang mudah di akses, tepat waktu, mudah ditracking dan tak rumit ketika melakukan proses transaksi pengiriman.
Hal itu diungkapkan Taufan berdasarkan ulasan para pelanggan customer Batik Toeli yang melakukan proses pengiriman menggunakan JNE.
"Kami untuk ekspedisi pengiriman JNE jadi salah satu opsi pengiriman yang biasa kami gunakan untuk mengirimkan produk kami setelah melewati proses transkasi jual beli di market place, sejauh ini JNE memuaskan."
"Untuk pengirimannya tidak belibet, mudah di akses dan tepat waktu, itu dapat kami lihat dari ulasan yang terkirim ke kami dari para pelanggan, kebanyakan mengatakan JNE ontime dan proses trackingnya juga mudah," ujarnya.
Bersama JNE, produk Batik Toeli sudah turut dibawa ke beberapa kota besar bahkan beberapa di antaranya sukses menembus hingga ke pelosok negeri.
"Yang pernah saya antar mulai dari Bandung, Semarang, Jakarta, mungkin paling jauh Banyuwangi, luar jawa ada Sulawesi menggunakan JNE, kalau lain mungkin ada yang sampai ke daerah-daerah lainnya," ungkapnya.
Bukti JNE menjadi mitra terbaik bagi UMKM dapat dilihat dari penghargaan yang diterima langsung oleh SPV Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi dari ajang Obsession Media Group (OMG) di Aston Priority TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (7/3/2024) silam.
“Penghargaan ini merupakan penghormatan dan pengakuan atas dedikasi JNE dalam membantu UMKM. Semoga Penghargaan ini menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus berkontribusi dalam memajukan sektor UMKM di Indonesia agar dapat terus bangkit dan berkembang maju,” ungkap Eri dikutip TribunWow.com dari laman resmi Jnewsonline.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang logistik, JNE memiliki peranan penting dalam berjalannya perputaran ekosistem bisnis yang ada di Indonesia.
Bukti nyata itu dapat tergambarkan dari program "JNE Ngajak Online" yang sudah dirintis sejak 2017 silam.
Di mana sudah ada 183 kota di Indonesia dan melibatkan kurang lebih 40 ribu pelaku UMKM yang turut serta dalam program tersebut.
"Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang logistik, JNE berperan penting dalam ekosistem bisnis di Indonesia. Salah satunya melalui program “JNE Ngajak Online” yang dimulai sejak tahun 2017, dan sudah diselenggarakan di 183 Kota Indonesia, serta melibatkan kurang lebih 40 ribu pelaku UMKM yang mengikuti program tersebut," jelasnya.
Program JNE Ngajak Online juga sebagai bentuk dukungan nyata JNE kepada para pelaku UMKM agar cakap dalam melakukan strategi penjualan yang saat ini sudah serba digital.
Bukti JNE menjadi mitra terbaik bagi UMKM dapat dilihat dari penghargaan yang diterima langsung oleh SPV Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi dari ajang Obsession Media Group (OMG) di Aston Priority TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (7/3/2024) silam.
“Penghargaan ini merupakan penghormatan dan pengakuan atas dedikasi JNE dalam membantu UMKM. Semoga Penghargaan ini menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus berkontribusi dalam memajukan sektor UMKM di Indonesia agar dapat terus bangkit dan berkembang maju,” ungkap Eri dikutip TribunWow.com dari laman resmi Jnewsonline.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang logistik, JNE memiliki peranan penting dalam berjalannya perputaran ekosistem bisnis yang ada di Indonesia.
Bukti nyata itu dapat tergambarkan dari program "JNE Ngajak Online" yang sudah dirintis sejak 2017 silam.
Di mana sudah ada 183 kota di Indonesia dan melibatkan kurang lebih 40 ribu pelaku UMKM yang turut serta dalam program tersebut.
"Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang logistik, JNE berperan penting dalam ekosistem bisnis di Indonesia. Salah satunya melalui program “JNE Ngajak Online” yang dimulai sejak tahun 2017, dan sudah diselenggarakan di 183 Kota Indonesia, serta melibatkan kurang lebih 40 ribu pelaku UMKM yang mengikuti program tersebut," jelasnya.
Program JNE Ngajak Online juga sebagai bentuk dukungan nyata JNE kepada para pelaku UMKM agar cakap dalam melakukan strategi penjualan yang saat ini sudah serba digital.
Selain itu, ada juga program layanan jemput barang (pick up) yang juga merupakan bentuk dukungan serta hadirnya JNE membantu teman disabilitas dalam akses pengiriman produknya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)