NEW DELHI: Ungkapan bahwa usia hanyalah angka terbukti benar berkat penampilan kiper Tanjung Verde, Vozinha, yang membuktikannya di panggung terbesar dunia pada hari Senin. Penjaga gawang veteran ini mencatat sejarah sebagai pemain debutan tertua kedua dalam sejarah Piala Dunia FIFA putra ketika ia tampil membela Tanjung Verde melawan juara dunia 2010, Spanyol, di Atlanta. Pada usia 40 tahun, Vozinha menunjukkan ketenangan luar biasa dan tampil percaya diri, berhasil menahan gempuran Spanyol selama tiga puluh menit pertama pertandingan.
Siapa sebenarnya Vozinha?
Dikenal dengan nama panggilan Vozinha, nama lengkapnya adalah Josimar Jose Evora Dias. Lahir di Mindelo, Tanjung Verde, kiper ini telah menjadi sosok penting bagi tim nasionalnya selama lebih dari satu dekade. Ia melakukan debut internasional pada tahun 2012 dan datang ke Piala Dunia dengan catatan 81 penampilan untuk Tanjung Verde. Meskipun ini adalah penampilan perdananya di panggung sepak bola terbesar dunia, Vozinha bukanlah sosok asing di level internasional, karena ia telah beberapa kali mewakili negaranya di turnamen Piala Afrika.
Perjalanan panjang menuju Piala Dunia
Karier profesional Vozinha dimulai pada tahun 2007 di tanah kelahirannya bersama Batuque FC, sebelum kemudian bergabung dengan CS Mindelense. Perjalanannya di dunia sepak bola membawanya ke berbagai negara; ia pernah memperkuat Progresso di Angola, Zimbru Chisinau di Moldova, Gil Vicente di Portugal, AEL Limassol di Siprus, dan AS Trencin di Slovakia. Saat ini, ia bermain untuk klub Chaves di divisi dua Portugal. Setelah hampir dua dekade berkarier sebagai pesepak bola profesional, tampil di Piala Dunia merupakan puncak dari perjalanan kariernya.
Mimpi yang terwujud di usia 40 tahun
Bagi banyak pesepak bola, impian bermain di Piala Dunia biasanya memudar jauh sebelum mencapai usia 40 tahun. Namun kisah Vozinha menjadi pengingat bahwa kerja keras dan ketekunan terkadang dapat menghasilkan momen luar biasa. Dari memulai karier profesionalnya pada tahun 2007 hingga melakoni debut Piala Dunia hampir dua dekade kemudian, kiper Tanjung Verde ini telah menulis salah satu kisah paling menginspirasi dalam turnamen tersebut.