JANGAN LEWATKAN SEDETIK PUN DARI PIALA DUNIA
Kapten tim nasional Belanda, Virgil van Dijk, menyatakan ketidaksukaannya terhadap penerapan jeda minum wajib di Piala Dunia 2026. Setelah hasil imbang dramatis 2-2 melawan Jepang, bek veteran tersebut mempertanyakan kebutuhan akan jeda tersebut di stadion yang sudah berpendingin udara.
Belanda alami jeda minum pertama di Piala Dunia
Belanda membuka perjalanan mereka di Piala Dunia dengan pertandingan penuh gol di Dallas, namun sebagian besar pembicaraan setelah laga berfokus pada perubahan regulasi yang diterapkan oleh FIFA.
Berdasarkan pedoman baru untuk turnamen 2026, jeda minum kini menjadi bagian tetap dari setiap pertandingan, tanpa memandang apakah stadion tersebut terbuka atau beratap tertutup.
Usai pertandingan, Van Dijk menyampaikan bahwa ia bukan penggemar dari sifat wajib aturan baru ini. Kapten Belanda itu menilai jeda tersebut lebih menguntungkan pihak penyiar televisi dibandingkan para pemain, terutama ketika pertandingan berlangsung di stadion tertutup dengan suhu yang sudah diatur.
Van Dijk pertanyakan sifat 'komersial' dari jeda pertandingan
Van Dijk tidak menahan diri ketika ditanya tentang dampak taktis dan fisik dari jeda di pertengahan babak. Ia mengatakan, “Saya pikir jeda minum itu cukup menarik. Saya jelas menonton hampir semua pertandingan sampai hari ini. Namun setiap kali jeda digunakan untuk iklan, saya rasa itu bukan sesuatu yang saya sukai.”
Pemain berusia 34 tahun itu melanjutkan dengan menyoroti dampaknya bagi penonton di rumah, menambahkan: “Saya rasa bagi penonton netral di televisi juga tidak menyenangkan. Jadi jika cuacanya benar-benar panas, maka masuk akal untuk melakukannya, tapi menurut saya, harus dilihat per pertandingan saja. Tapi saya rasa saya sudah cukup jelas soal itu.”
Ritme pertandingan terganggu dalam hasil imbang di Dallas
Waktu pelaksanaan jeda tampak membuat frustrasi skuad Belanda yang kesulitan menjaga ritme permainan. Setelah babak pertama yang cukup berhati-hati, Van Dijk membuka keunggulan untuk Belanda, diikuti gol dari Crysencio Summerville.
Namun Jepang berhasil dua kali menyamakan kedudukan melalui permainan gigih yang memanfaatkan ritme pertandingan yang terputus-putus.
Gol dari Keito Nakamura dan gol telat Daichi Kamada memastikan kedua tim berbagi poin di Grup F. Meskipun Van Dijk tampil menonjol secara individu, ia tetap kecewa dengan pendekatan “satu aturan untuk semua” yang diterapkan FIFA terkait kesejahteraan pemain di turnamen ini, yang oleh beberapa pengamat dianggap mengubah permainan menjadi empat kuarter terpisah.
Perdebatan antara kesejahteraan pemain dan kepentingan siaran televisi
Kebijakan FIFA untuk Piala Dunia 2026 dirancang untuk melindungi pemain dari panas ekstrem yang diperkirakan terjadi di seluruh Amerika Utara, namun penerapan aturan ini di stadion modern berpendingin udara seperti AT&T Stadium telah memicu perdebatan sengit. Para pengkritik membandingkan jeda tersebut dengan struktur pertandingan NFL yang sering diselingi iklan komersial.
Penilaian Van Dijk menunjukkan bahwa meskipun niat awal untuk melindungi pemain dapat dimengerti, kurangnya fleksibilitas justru merusak pengalaman menonton dan aliran alami permainan sepak bola level tertinggi. Kini fokus Belanda beralih ke pertandingan kedua mereka di fase grup melawan Swedia, di mana mereka berharap meraih tiga poin tanpa gangguan di luar lapangan.
Seberapa jauh Belanda akan melangkah di Piala Dunia?