Laporan Wartawan TribunJatim.com, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Suasana malam 1 Suro di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berlangsung semarak dengan digelarnya tradisi Grebek Tempe Wedok, Senin (15/6/2026) malam.
Lebih dari 6.000 tempe khas desa tersebut disusun menjadi gunungan dan diarak keliling kampung sebelum diperebutkan ribuan warga.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu bukan sekadar perayaan Tahun Baru Hijriah. Bagi masyarakat Desa Labruk Kidul, Grebek Tempe Wedok menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan mata pencaharian yang telah menghidupi warga selama beberapa generasi.
Di tengah tantangan kenaikan harga kedelai, tradisi ini juga menjadi simbol ketangguhan para pengrajin tempe yang tetap mempertahankan usaha mereka.
Dilansir dari berbagai sumber, Harga kedelai lokal Indonesia (tingkat petani) Rp 12.908/kg (USD 0,77/kg).
Kenaikan +15 persen dibanding bulan dan tahun sebelumnya.
Produksi Indonesia 2024 227.367 ton, turun 30,4 persen dari tahun sebelumnya
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal masih mampu menjadi penggerak ekonomi desa.
Selain melestarikan budaya, Grebek Tempe Wedok juga menjadi strategi untuk mengenalkan produk khas Lumajang kepada generasi muda agar usaha pembuatan tempe tradisional tidak hilang ditelan zaman.
Tempe wedok sendiri merupakan tempe khas yang dibungkus menggunakan pelepah pisang klutuk dan dilapisi plastik. Desa Labruk Kidul hingga kini dikenal sebagai sentra produksi tempe wedok di Kabupaten Lumajang.h
Baca juga: Polres Nganjuk Lakukan Penyekatan di 5 Titik Perbatasan saat Malam 1 Suro, Antisipasi Keamanan
Sebanyak lebih dari 6.000 tempe wedok disusun membentuk gunungan menyerupai gapura. Di bagian depan gunungan juga diletakkan berbagai sesaji sebagai bagian dari prosesi adat.
Gunungan tersebut kemudian diarak warga sejauh sekitar dua kilometer mulai pukul 19.30 WIB sambil melantunkan selawat sepanjang perjalanan.
Sesampainya di lokasi akhir, ribuan warga langsung menyerbu gunungan dan berebut tempe wedok yang telah disusun, menciptakan suasana meriah dalam peringatan 1 Suro.
Kepala Desa Labruk Kidul, Agus Irianto, mengatakan tradisi tersebut menjadi simbol semangat para pengrajin tempe yang tetap bertahan meski menghadapi kenaikan harga bahan baku.
"Ini adalah kegiatan mandiri warga, dan sejak awal berdiri tidak pernah menggantungkan pemerintah, mereka tidak pernah mengeluh," ujarnya.
Menurut Agus, tradisi ini dijalankan oleh 18 kelompok pembuat tempe di RW 01 Desa Labruk Kidul. Sebagian besar merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarga.
"Tempenya itu tempe asli, tapi dibungkus pelepah pisang dan pisangnya harus dari pisang klutuk. Kalau pisang lain tidak bisa, ini kelebihan dari Tempe Wedok ini," ucap Agus.
Karena menjadi bahan utama pembungkus tempe, warga juga membudidayakan pisang klutuk agar produksi tempe wedok tetap berkelanjutan.
"Makanya Pisang Klutuk di sini sangat banyak sekali, warga tidak perlu beli karena keberadaan tempe wedok sudah ada turun-temurun," ucap Agus.
Bagi para pengrajin, Grebek Tempe Wedok juga menjadi media untuk mengajak generasi muda mengenal sekaligus melanjutkan usaha keluarga.
"Saya usaha tempe wedok, turunan tiga generasi. Dimulai dari nenek, ke ibu saya dan sekarang saya yang neruskan," kata Wijamila, produsen tempe wedok.
Melalui kegiatan tersebut, Jamila berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari proses pembuatan tempe wedok sehingga dapat menjadi sumber penghasilan baru.
"Dulunya vakum, sekarang pingin dikembangkan lagi untuk anak muda supaya ada pemasukan dan membantu ekonomi," ucap Jamila.
Menurutnya, salah satu keunggulan tempe wedok adalah daya tahannya yang lebih lama dibanding tempe biasa.
"Kalau tempe iris sehari itu sudah rusak (jamuran), tapi kalau tempe wedok seminggu masih kuat. Apalagi kalau ditaruh di kulkas bisa satu bulan," tuturnya.
Jamila mengakui kenaikan harga kedelai menjadi tantangan besar bagi para pengrajin. Kondisi tersebut memaksa sebagian produsen menaikkan harga jual agar usaha tetap berjalan.
"Kenaikan harga kedelai membuat pemasaran tempe makin sulit. Biasanya satu Rp5 ribu sekarang Rp7 ribu (satu potong), akhirnya banyak orang milih tempe biasa," bebernya.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyatakan siap memberikan dukungan kepada para pengrajin agar usaha tempe wedok tetap berkembang.
Menurutnya, keberadaan pengrajin tempe wedok memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Bahkan, produk tersebut kini telah menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam program dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Dan produk ini juga sudah masuk di dapur MBG," tambahnya.