TRIBUNJAKARTA.COM - Pedagang buah Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur terpaksa menjual rugi dagangannya.
Pasalnya, jumlah pembeli buah di Pasar Induk Kramat Jati anjlok sejak satu bulan terakhir.
Hal itu dipicu penurunan daya beli masyarakat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Daya beli masyarakat pun melemah.
Omzet pedagang buah akhirnya merosot hingga 20-40 persen.
Bahkan, pedagang mengaku kini hanya berusaha bertahan untuk berjualan buah saja.
Pedagang jeruk, Margono mengaku tidak ada orang yang ke pasar.
Menurutnya akibat kenaikan harga sejumlah komoditas dalam beberapa waktu terakhir, banyak warga yang mengurangi atau menghemat pengeluaran belanja sehari-hari.
Warga cenderung memprioritaskan kebutuhan primer membeli bahan pokok seperti beras dan telur, sehingga banyak warga memangkas pengeluaran untuk keperluan sekunder.
"Pedagang Pasar Induk sangat merasakan, karena daya beli di masyarakat itu tidak ada sama sekali," kata Margono di Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (15/6/2026).
Meski suplai dari daerah pemasok tidak mengalami gangguan dan harga stabil, tapi terpuruknya daya beli masyarakat membuat pembeli di Pasar Induk Kramat Jati merosot.
Bahkan pembeli langganan seperti restoran dan retail pun mengurangi jumlah belanja, kondisi ini memberatkan para pedagang sayur mayur dan buah di Pasar Induk Kramat Jati.
"Kalau sebelumnya sehari bisa habis tiga mobil. Sekarang satu hari belum tentu seminggu itu habis, sehingga penurunan drastis sekali. Sekarang pedagang ini berusaha bertahan saja," ujarnya.
Margono menuturkan meski pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak mempengaruhi harga dan suplai buah, namun melemahnya daya beli masyarakat berdampak besar.
Atas hal tersebut para pedagang Pasar Induk Kramat Jati berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk kembali menguatkan nilai tukar rupiah, dan meningkatkan daya beli warga.
"Kondisi pasar yang tidak ada orang belanja. Tidak ada uang di kantong masyarakat, ya mungkin gara-gara dolar tinggi dan segala macam itu. Intinya daya beli lemah sekali," tuturnya.
Para pedagang Pasar Induk Kramat Jati bahkan menyebut mereka kesulitan untuk menjual dagangannya meski sudah menurunkan harga jual, penyebabnya karena daya beli warga melemah.
"Harga jeruk Rp13 ribu. Tapi sekarang kalau ada yang beli Rp12 ribu, Rp11 ribu pun saya jual. Tapi saya jual Rp11 yang beli tidak ada," kata Margono.
Meski harga jual buah tidak terpengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tapi akibat kenaikan harga komoditas lain banyak pembeli hingga usaha retail mengurangi belanja.
Akibat tekanan ekonomi banyak pembeli di Pasar Induk Kramat yang memprioritaskan kebutuhan primer bahan pokok, dan mengurangi belanja kebutuhan sekunder seperti buah-buahan.
Kondisi ini membebani para pedagang, karena buah dan sayur yang menjadi dagangan utama di Pasar Induk Kramat Jati merupakan komoditas tidak dapat bertahan lama.
"Sekarang yang penting ada yang beli, turun Rp2 ribu-Rp3 ribu per item pun saya lepas. Saya mau 'ngerugiin' barang saja (jual rugi) sulit laku, apalagi mau cari untung," ujarnya.
Terkait klaim pemerintah bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menyerap ketersediaan buah di pasaran, Margono menuturkan hal tersebut tidak sepenuhnya efektif.
Pasalnya tidak semua pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati yang menjadi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga para pedagang tetap kesulitan mempertahankan usahanya.
"MBG ada plusnya juga, karena yang dapat proyek MBG itu belanjanya ke Pasar Induk. Cuma banyak juga yang tidak kebagian, karena yang dapat MBG sama tidak, banyakan yang tidak dapat," tuturnya.
Selain itu, Margono mengatakan akibat merosotnya daya beli warga dalam kurun waktu satu pekan terakhir dia terpaksa menghentikan sementara pasokan buah.
Tujuannya untuk menghindari kerugian akibat banyaknya buah yang busuk karena tidak terjual, mengingat dalam satu bulan terakhir banyak warga mengurangi jumlah belanja mereka.
"Saya sudah lima hari sampai seminggu supplier saya stop. Apapun alasannya saya tidak menerima lagi, karena biar barang yang ada dihabisin dulu baru kita ganti," kata Margono, Senin (15/6/2026).
Menurutnya meski harga buah di pasaran stabil dan suplai tidak mengalami kendala, tapi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS daya beli masyarakat terpuruk.
Banyak pembeli mengurangi jumlah belanja, bahkan restoran hingga retail yang biasa membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan usaha mereka kini terpaksa mengurangi belanja.
Imbasnya omzet pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati anjlok berkisar 30-40 persen, kondisi ini memberatkan para pedagang untuk mempertahankan usahanya.
"Dalam keadaan normal, stok itu mengalir; barang datang langsung laku. Tapi sekarang stagnan, baik buah maupun sayur hampir sama. Kalau restoran sepi, imbasnya terakhirnya ke kita," ujarnya.
Atas hal tersebut, Margono berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk mengembalikan nilai tukar masyarakat agar ekonomi masyarakat di pasar tradisional bergairah.
Baca juga: Pedagang Buah di Pasar Induk Kramat Jati Kurangi Stok, Penjualan Turun hingga 40 Persen
Baca juga: Sudah Jual Rugi, Pedagang Buah Pasar Induk Kramat Jati Tetap Sepi Pembeli
Baca juga: Antisipasi Sampah Membludak, 5 Truk Sampah Baru Disiagakan di Pasar Induk Kramat Jati